Karya: Taufik Sentana
Penyuka prosa religi
Puasa begitu istimewa
Ia perangkat jiwa agar sampai ke malakut
Dalam puasa, seseorang telah mengerjakan
pekerjaan” Tuhan dan malaikat:
Ya, Tuhan dan malaikat tidak makan.
Dan kita diperintahkan untuk puasa
dengan segala hikmahnya.
Secara zahir kita menahan diri dari makan dan minum serta hal lain yang membatalkan sejak awal fajar hingga tenggelam matahari.
Puasapun menjadi ibadah yang panjang
dan menjadi rahasia antarhamba dan Tuhannya.
“Puasa itu milikKu, Aku yang Membalasnya langsung”
Balasan terbaiknya adalah pahala sabar dan melihat wajah Rabbnya kelak, itulah kegembiraan tertinggi dalam puasa:
Buah dari dari iman, takwa dan furqan.
Bila puasa itu menahan makan dan sebagainya,
bagaimana bisa orang yang berpuasa bisa makan?
Ya, ia tidak makan secar zahir, tapi memberi makan” hati dan jiwanya dengan zikir, kebaikan dan ketaatan.
Itulah makanan orang yang puasa.
Itulah rahasia kenapa zun nun/nabi Yunus
bisa bertahan di perut ikan berhari hari, karena tasbih dari lisannya dan Tuhanpun Meridhainya lalu menyelematkannya.
Dari lapar Zahir, kita belajar memahami rasa kenyang jiwa
yang hakiki, rasa kenyang yang dihitung dalam Mizan.
Tasbih dan zikir adalah makanan terbaik bagi orang yang berpuasa, demikian juga membaca Qur’an, ia bagian dari zikir juga, ialah makan utama bagi yang puasa.
Ketika tubuh kita puasa dan jiwa kita menikmatinya sebagai hidangan. Sebab seluruh inti sel di tubuh selalu terhubung dengan Tuhannya untuk terus memperbaiki diri dan menuju kesempurnaan.[]



