BANDA ACEH – Teuku Feriadi Sahputra. S.Pd., penjaga Makam (Kerkhof) Pocut (Peutjut) mengharapkan masyarakat Aceh menjadikan Makam Pocut Kerkhof sebagai tujuan wisata religi dengan fokus pada makam Pocut (anak Sultan Iskandar Muda). Demikian dikatakannya pada portalsatu.com/, Kamis 19 Juli 2018, Banda Aceh.

“Saya berharap masyarakat, ke depan lebih banyak lagi yang datang berziarah ke Kerkhof Pocut di Banda Aceh,” kata Feriadi.

Pemuda kelahiran Nagan Raya, sekaligus alumni Universitas Serambi Mekkah itu mengatakan, komplek pemakaman yang berada di belakang Museum Tsunami itu sering dikunjungi para turis asing, khususnya yang datang dari Belanda.

“Sebagian besar di antara barisan makam-makam itu ada makam para Jendral dan serdadu Belanda (Hindia-Belanda), dan serdadu-serdadu upahan dari Cina dan Jawa yang bekerja pada Belanda,” katanya.

Feriadi mengatakan umumnya turis dari Belanda, mereka datang pada bulan Desember. Selain mereka, terkadang ada juga yang datang dari Cina, dan Jawa. Terkait dengan budaya mereka, para peziarah dari Belanda umumnya ketika datang mereka juga membawa bunga, sedangkan peziarah dari Cina mereka membawa dupa untuk membakarnya di makam itu.

“Jumlah pengunjung ke Kerkhoff Peutjut Banda Aceh, berdasarkan catatan grafik Tahun 2015 -2017 Jumlah Pengunjung, dengan Angka terhitung: 2,729,” katanya. 

Ditanya tentang biaya perawatan makam, pemuda bergaris keturunan (Ulee Balang) atau lengkapnya, Teuku Feriadi Sahputra, S.Pd, bin Teuku Raja Sulaiman bin Teuku raja Anshari bin Teuku raja Syam Meugat Meh bin Teuku Nyak Husen bin Teuku Chik Ule Keude itu mengatakan, dana itu khabarnya berasal dari Negara Belanda dengan bekerja sama dengan pemerintah Indonesia.

Sebelum bertugas menjadi salah seorang penerima tamu dan penjaga di Makam Kerkhof Pocut, awalnya Feriadi bekerja di Museum Tsunami dan sambil bekerja di Museum Tsunami dahulu juga sering mempromosikan Kerkhof supaya pengunjung yang datang ke Museum Tsunami, juga menyediakan waktu untuk berkunjung ke makam Kerkhof Pocut.

“Di sana ada makam anak dari Sultan Iskandar Muda,” katanya.

Terkait dengan angin ribut yang datang dari barat beberapa waktu yang lalu, Feriadi juga membenarkan bahwa memang, setelah kejadian itu ada beberapa prasasti milik serdadu Belanda di Kerkhof yang rusak dan patah, beberapa di antaranya terdapat di sekitar dekat pagar makam Pocut, makam Pocut berada di bawah sebatang pohon dan di bawahnya terdapat tiga nisan Aceh Darussalam.

Feriadi mengatakan, Situs Cagar Budaya Makam Kerkhof itu dibuka setiap hari dari pukul delapan pagi sampai pukul lima sore, dan pengunjung biasanya lebih banyak yang datang pada terutama hari libur seperti hari Minggu.

“Kepada para pengunjung Kherkhof  Pocut, kami tidak memungut biaya, bagi yang minat sejarah, segera Kunjung di tempat wisata Aceh, dan daftarkan nama anda di catatan buku pengunjung, agar tertulis nama pengunjung menjadi catatan nama sejarah Anda,” kata Feriadi.[]