Selasa, Juli 23, 2024

Dinkes Gayo Lues Keluhkan...

BLANGKEJEREN - Dinas Kesehatan Kabupaten Gayo Lues mengeluhkan proses pencairan keuangan tahun 2024...

H. Jata Ungkap Jadi...

BLANGKEJEREN – H. Jata mengaku dirinya ditunjuk Menteri Dalam Negeri (Mendagri) menjadi Pj....

Bandar Publishing Luncurkan Buku...

BANDA ACEH - Penerbit Bandar Publishing Banda Aceh meluncurkan sekaligus dua karya Dr....

Rombongan Thailand Selatan Kunjungi...

BANDA ACEH – Delegasi dari berbagai lembaga di Thailand Selatan mengunjungi Kantor Partai...
BerandaNewsMasih ‘Sakit’, Begini...

Masih ‘Sakit’, Begini Penjelasan PDAM Lhokseumawe Soal Pelayanan Air Bersih

LHOKSEUMAWE – Perusahaan Daerah Air Minum Ie Beusaree Rata Lhokseumawe termasuk dalam kategori PDAM “sakit” berdasarkan hasil evaluasi dilakukan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Aceh.

Direktur PDAM Ie Beusaree Rata Lhokseumawe, Safrial, dikonfirmasi portalsatu.com via telepon seluler, Jumat, 29 Januari 2021 sore, mengatakan PDAM milik Pemko Lhokseumawe ini bukan di urutan pertama dari delapan PDAM kategori sakit di Aceh. Menurut dia, jika dilihat dari hasil evaluasi tersebut, tingkat kebocoran air PDAM Lhokseumawe malahan rendah.

“Itu kan ada NRW (Non Revenue Water) atau jumlah kehilangan air (kebocoran), kita terendah sebenarnya,” kata Safrial.

Safrial mengungkapkan bahwa yang menjadi titik persoalannya adalah sumber air baku. “Jadi, air baku yang pipa di Rancong (Kecamatan Muara Satu) itu 80 liter/detik. Tapi dari WTP atau Instalasi Pengolahan Air (IPA) kita 80, yang tersedia hanya 7 liter/detik. Itu yang terjadi,” ujarnya.

Menurut Safrial, PDAM Lhokseumawe sudah menandatangani MoU atau kerja sama dengan PT Perta Arun Gas (PAG) pada tahun 2019 terkait program pemanfaatan air baku. Program tersebut ditindaklanjuti tahun 2021 ini. “Saat dilakukan MoU tersebut, saya belum menjabat (Direktur PDAM Lhokseumawe). Maka ke depan sedang diupayakan untuk dapat terealisasi pada tahun ini dan bisa diambil air baku 36 liter/detik,” tutur dia.

“Kita akan memasang pipa nanti di dalam genset aliran air dari PAG dengan jarak 1,6 kilometer, untuk disalurkan air itu ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) kita yang ada di Rancong. Insya Allah, mudah-mudahan program itu bisa terealisasi,” kata Safrial.

Ditanya sudah berapa tahun PDAM Lhokseumawe beroperasi melayani air bersih untuk masyarakat, Safrial mengatakan di Kecamatan Muara Satu sejak 2014. Apabila program pemanfaatan air baku sebagaimana MoU PDAM dengan PAG terealisasi, kata dia, maka pihaknya juga akan menyuplai air bersih ke sebagian Kecamatan Muara Dua dan Banda Sakti.

“Kenapa sebagian, pertama, kita akan memasuki ke wilayah yang tidak dilayani oleh pihak (PDAM Tirta Mon Pase) Aceh Utara. Karena ada tiga kecamatan yaitu Banda Sakti, Muara Dua dan Blang Mangat (Lhokseumawe), masyarakat itu mendapatkan suplai air bersih dari PDAM Aceh Utara,” ujar Safrial.

Menurut Safrizal, selama ini pihaknya bukan tidak menyuplai air ke kecamatan lain di luar Muara Satu, tapi terkendala pada sumber air baku. Untuk Kecamatan Muara Satu saja dibagi jadwal penyaluran air kepada 1.800 sambungan rumah atau pelanggan.

“Sebenarnya dari jumlah itu kita harus mempunyai air 20 liter/detik. Maka mengapa bisa dilakukan penyaluran 7 liter/detik untuk melayani 1.800 pelanggan, itu sistemnya dibagi dengan jadwal per hari berselang. Kita bagi jadwal untuk wilayah barat (Kecamatan Muara Satu) sehari berselang, dan bagian timur begitu juga. Caranya seperti itu, ini kan strategi kita supaya berjalan dan masyarakat bisa menerima,” kata Safrial.

Safrizal menyebut tarif air bersih yang dikutip Rp3.588/meter kubik. “Itu sistemnya ada alat pembaca meteran untuk dikutip per bulan setiap pelanggan, tergantung pemakaian air juga dan akan terbaca pada sistem tersebut. Ada yang membayar antara Rp50 ribu dan Rp60 ribu per bulan, ada juga yang lebih rendah lagi karena tergantung pemakaian,” ujarnya.

Soal jumlah karyawan PDAM Lhokseumawe, Safrizal mengatakan 39 orang. Namun, kata dia, pihaknya akan me-review jumlah karyawan tersebut untuk disesuaikan. Pasalnya, PDAM yang sehat adalah enam karyawan banding 1.000 pelanggan atau sambungan rumah. Jika dibandingkan jumlah 2.000 pelanggan, maka karyawan sekitar 12 orang. Apabila terjadi over jumlah karyawan, kata Safrial, tentu menjadi kendala karena membutuhkan biaya besar untuk gaji dan lainnya.

“Artinya, itu merupakan salah satu indikator (PDAM) sehat. Kemudian tingkat kebocoran atau NRW rendah juga termasuk salah satu dari kategori sehat,” ungkap Safrial.

Safrial menambahkan ke depan pihaknya berupaya mendapat sumber air baku lain, sehingga tidak hanya dari PAG. “Jika dibandingkan dengan wilayah Aceh Utara itu berbeda, mereka ada aliran sungai sehingga dapat memanfaatkan itu,” katanya.

“Langkah ke depan akan kita lakukan tentu ada perencanaan. Jadi, yang diupayakan bagaimana untuk bisa dimanfaatkan sumber air dari luar Kota Lhokseumawe, ada aliran sungai Krueng Saweuk, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara. Dalam tahun ini kita sudah membuat usulan di bawah Balai Sungai Sumatera-I (BWS) Aceh untuk dibantu dalam perencanaan agar mendapatkan sumber (air) yang lain,” tutur Safrial.

Selain itu, kata Safrial, pihaknya juga bisa bekerja sama dengan PDAM Aceh Utara dengan membeli air dari mereka karena salurannya (pipa suplai air) juga melewati wilayah Lhokseumawe dan sistem kerjanya dipasang meteran induk. Jadi, kata dia, ada tempat di Lhokseumawe yang belum dilayani PDAM Aceh Utara bisa dipasang meteran induk itu.

“Maka penilaian dari BPKP itu merupakan salah satu pemicu bagi kita. Dengan demikian, ada terobosan kita ke depan dengan dukungan semua pihak atau stakeholders. Kita tetap berbuat dan semoga terlaksana,” ucap Safrial.

Disinggung berapa jumlah dana penyertaan modal sudah diterima PDAM Ie Beusaree Rata dari Pemko Lhokseumawe, Safrial mengatakan, “untuk jumlah total perlu dilihat kembali yang tertampung penyertaan itu agar tidak keliru angka. Cuma begini, dalam penyertaan tersebut, karena perusahaan baru berdiri dan sambungan rumah tangga (pelanggan) masih sedikit, tentu pendapatannya rendah”.

Diberitakan sebelumnya, BPKP Perwakian Aceh menyebut delapan PDAM tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Aceh masih dalam kondisi “sakit”, enam “kurang sehat” dan enam lainnya tercatat masuk dalam kategori “sehat”.

Penilaian itu berdasarkan hasil evaluasi kinerja 20 PDAM di Aceh. BPKP Aceh mengevaluasi 20 PDAM dengan menggunakan indikator ukuran kinerja yang ditetapkan BPPSPAM. Hal itu disampaikan dalam jumpa pers di Aula BPKP Aceh, Kamis, 28 Januari 2021.

PDAM masuk kategori sakit adalah Lhokseumawe, Aceh Barat Daya, Simeulue, Bener Meriah, Pidie Jaya, Aceh Selatan, Aceh Barat, dan Aceh Tenggara. PDAM kategori kurang sehat yaitu Aceh Tamiang, Singkil, Aceh Timur, Pidie, Gayo Lues dan Aceh Utara. Sedangkan PGAM sehat yakni Banda Aceh, Bireuen, Sabang, Aceh Tengah, Aceh Besar dan Langsa.

Beberapa indikator yang digunakan BPKP dalam evaluasi terhadap 20 PDAM di Aceh itu aspek keuangan, aspek pelayanan, aspek operasional dan aspek sumber daya manusia. Dari aspek tersebut ditemukan dan dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu PDAM yang sehat, kurang sehat dan sakit. []

Baca juga: