Masyarakat “Fadhilah” Al-Farabi: Tinjauan Tadabbur atas At-Taubah 71-72 & Al-A’raf 96
Oleh: *Taufik Sentana.
Setelah menggambarkan nasib tragis umat yang terperosok jebakan duniawi di ayat 69-70, Al-Quran melalui Surah At-Tawbah 71-72 menyajikan antitesis inspiratif dan kontras tentang potret masyarakat beriman yang unggul, yang oleh Al-Farabi disebut Masyarakat Fadhilah: Komunitas ideal dambaan ini, beserta janji keberkahan dari Allah swt, dapat ditadabburi mendalam dengan mengaitkannya ke surat Al-A’raf 96.
*Uraian* :
1. At-Tawbah 71-72: Karakteristik & Balasan Agung
Kontras dari gambaran umat yang merugi pada ayat sebelumnya, ayat 71-72 Surah At-Tawbah merinci ciri dan ganjaran kaum mukminin-mukminat:
﴿وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ1 وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ1 أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ2 عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Tawbah: 71)
﴿وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾
“Allah menjanjikan kepada orang-orang Mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar dari itu. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Tawbah: 72)
Masyarakat unggulan (fadhilah) ini berdiri di atas fondasi iman yang kuat, terjalin erat dalam persaudaraan (أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ).
Mereka aktif menjaga tatanan sosial-moral melalui amar ma’ruf nahi munkar. Kualitas spiritual individu ditegakkan dengan shalat, diikuti kepedulian horizontal melalui zakat, kegiatan wakaf dan filantropi yang menghubungkan si kaya dan si miskin.
Semua gerak laku mereka dipayungi ketaatan komprehensif kepada Allah dan Rasul-Nya.
Balasan bagi mereka tak hanya rahmat di dunia dan surga abadi, tetapi puncak keagungannya yaitu, keridhaan Allah—kemenangan teragung di sisiNya.
2. Al-A’raf 96: Kunci Keberkahan Dunia
Potret Masyarakat Fadhilah kian sempurna saat dikaitkan dengan janji Allah dalam Al-A’raf 96:
﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”2 (QS. Al-A’raf: 96)
Ayat ini tegas menyatakan bahwa iman dan takwa adalah pembuka pintu berkah Ilahi di dunia—meliputi segala kebaikan dari langit dan bumi.
Karakteristik Masyarakat Unggulan dalam At-Tawbah 71-72 (shalat, zakat, taat, amar ma’ruf nahi munkar) sesungguhnya adalah perwujudan nyata dari iman dan takwa itu sendiri.
Maka dapat kita kaitkan bahwa masyarakat yang mengamalkan ciri-ciri dalam At-Tawbah 71-72 (yakni beriman dan bertakwa) dijanjikan keberkahan di dunia (Al-A’raf 96) sebagai pendahuluan balasan akhirat yang jauh lebih besar: surga dan keridhaan Allah (At-Tawbah 72).
Tadabbur ayat: Membangun Visi Kolektif
Mentadabburi ayat-ayat tadi menegaskan kepada kita bahwa Masyarakat Fadhilah bukanlah konsep pasif. Ia adalah entitas aktif yang secara kolektif mewujudkan iman dan takwa. Solidaritas, kepedulian moral-sosial, ketaatan vertikal dan horizontal menjadi pilar utama.
Upaya kolektif inilah yang mengundang rahmat, keberkahan dunia, dan kemenangan abadi di akhirat.
Simpulan:
Konsepsi Masyarakat Fadhilah Al-Farabi, yang berakar kuat pada Surah At-Tawbah 71-72 dan Al-A’raf 96, adalah blueprint komunitas (unggulan) yang beriman-bertakwa: solid, aktif menjaga kebaikan, teguh beribadah, dan peduli sesama dalam bingkai ketaatan Ilahi.
Karakteristik inilah yang menjadi kunci meraih berkah dunia dan, puncaknya, kemenangan agung berupa keridhaan Allah di akhirat.
Visi ini adalah panggilan bagi setiap mukmin untuk berkontribusi dalam membangun komunitas serupa.
Catatan:
*Al-Farabi (bahasa Arab: ابونصر محمد الفارابی, Abū Nashr Muḥammad Al-Fārābī; Ábu Nashr Mūhammed Ál-Farabi; 259 H/872 M – Rajab 339 H/951 M) adalah seorang ilmuwan dan filsuf muslim yang berasal dari Farab, Turkistan. Dia dikenal sebagai guru kedua” setelah Aristoteles, karena mampu memahami dan mengembangkan (islamisasi) tradisi berfikir mereka ke dunia islam dan diadopsi oleh Eropa kemudian.[]
*Taufik Sentana. Pegiat seni tadabbur Alquran. Sedang menyusun Buku Hidangan Maha Rahman: 303 Inspirasi Qur’ani sepanjang hari. untuk Ikatan Dai Indonesia.


