Karya: Taufik Sentana*

Mata itu akan bicara padamu
dan akan tetap bicara padamu
pun akan bersaksi padamu:

Tentang apa yang engkau tatap
tentang apa yang engkau tangkap
tentang apa yang engkau sedekap.

Mata waktu seakan tak lelap,
yang menjadi asap atau atap
akan diredam tanpa pengap
terbentang kemudian
dalam lembaran perjamuan
diantara tawa dan duka.

Mata itu akan terus menatapmu
takkan membuatnu kembali:

Walau pagi terus berganti
mata waktu tetap sedia
dengan rupa yang tak pernah kita raba.

 

Hujan Batu

Hujan kita tak sama lagi
bukan hujan yang akrab kita kenal.
Hujan batu.
Hujan zaman kita yang bisu.
Dan kita bicara sendiri.
menyangka zaman berlari.
Lalu lelah kita menguap
ditangkap menjadi hujan yang berat.
hujan batu!
Hujan yang dulu kita rindu
yang memecah benih benih…
kini meredam segala dendam.

Namun tengadah kita tetap sama
karena rahmatNya bisa memecah batu batu. Karena rahmatNya mungkin terhinpit di hujan batu.[]

*Banyak menulis prosa dan esai sosial.