Karya Taufik Sentana*

Bayang dan harap mengendap
di warung kopi. Mungkin, ini bagai meditasi. 

Lepas dan merasa bebas. Atau tenggelam sendiri, mengeja interaksi dalam maya dan realita.

Tanya dan tawa atau cengkerama
mengetuk ngetuk pintu sunyi meditasi.

Ke tepi sejenak dari hiruk pikuk dan penat, bercerita tentang menang dan kalah. 

Seakan ingin menyusun nafas baru
 yang akan lebur kembali
dalam pori pori zaman.

Saat tersadar
dan menimbang kemudian,
perubahan tetap bermula
dari tindakan
dan meditasi di warung kopi
hanya medium kebudayaan.[]

*Peminat sastra urban.