Minggu, Juli 21, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaNewsMembandingkan Keadaan Aceh...

Membandingkan Keadaan Aceh antara Tahun 2008 dan 2018

INI bukan pendapat yang penting penting sangat, bahkan dapat disebut tidak penting sama sekali. Maka, sebaiknya, jangan membacanya. Kalau anda membaca, adalah tanggung jawab anda sendiri sekiranya nanti pendapatku akan mempengaruhi anda.

Aku yakin, anda akan terpengaruh, karena, mempengaruhi orang melalui tulisan adalah keahlianku. Itulah yang aku lakukan dalam sepuluh tahun ini, 2008-2018, (hanya bercanda, bos). Hehe. 

Aku juga tidak peduli kalau gaya tulisan ini akan dianggap kurang sopan. Bukankah sudah kuingatkan tadi supaya tidak membacanya.

Baik, cukup bualan mukaddimah atau omong kosongnya. Sekarang, kita beralih pada inti pembicaraan.

Membandingkan keadaan Aceh selama sepuluh tahun, 2008-2018.

1. Gubernur:

2008, Gubernur Irwandi Yusuf. 2018, Gubernur Irwandi Yusuf. Berarti, Gubernur adalah orang yang sama.

2. Dukungan Orang dan Kebanggaan Terhadap Gubernur

2008, sekira 90 % masyarakat bangga pada gubernur dan mendukungnya, serta percaya gubernur mampu memperbaiki keadaan Aceh. Tahun tersebut, ekskombatan masih bersatu mendukung gubernur dan wakil gubernur terpilih.

2018, sekira 30 % masyarakat yang mendukung gubernur, selebihnya tidak mendukung, dan tidak percaya ia bisa memperbaiki Aceh. Dalam hal ini, ekskombatan telah terbagi dua,  sebagian besar mendukung PA, sebagai lagi mendukung yang lain. Perkiraan ini berdasarkan, dari total pemilih, cuma sekira 40 % suara untuk gubernur dan wakil terpilih, selebihnya terbagi untuk pasangan yang kalah.

3. Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat

2008, pertumbuhan ekonomi masyarakat berada dalam fluktuasi, lebih banyak meningkat, disebabkan BRR masih ada, dan uang otsus masih banyak.

2018, pertumbuhan ekonomi masyarakat berada dalam kejenuhan, APBA telah bertahun tahun telat, dan sumber ekonomi lain yang berkembang tidak ada.

4. Perkembangan Politik

2008, masyarakat masih percaya Aceh akan kembali naik martabatnya. Pihak Jakarta masih segan terhadap Aceh. Tahun 2008, orang bisa menaikkan bendera Aceh di mana saja, bebas.

2018, masyarakat tidak percaya lagi Aceh akan dapat meraih harga dirinya dalam politik. Pihak Jakarta tidak lagi segan terhadap Aceh. Tahun 2018, bendera Aceh dilarang naikkan.[]

Thayeb Loh Angen

Baca juga: