BERBICARA tentang kemajuan di dalam kehidupan, merupakan keinginan di setiap pribadi manusia siapa sahaja, kelompok kecil/besar, setiap daerah apalagi negara. Setiapnya itu pasti mendambakan kelebihan. Di sini penulis sedikit ingin mengurai tentang perubahan, khususnya untuk daerah sendiri, Aceh.

Kelapa Sawit, dari dulu bahkan sampai sekarang ini sudah sangat sangat banyak ada, ditemukan di Aceh. Apalagi beberapa tahun terakhir pasca damai dari konflik penjajahan hak (kebebasan) yang sampai ada pertumpahan darah, nyawa-nyawa terputus bak benang layang layang.

Nakeuh, dari sesudah itu (konflik). Banyak dari hutan-hutan belantara sudah berganti dengan tanaman sawit, yang entah siapa itu pemiliknya. Seperti di Paya Cot Trieng, Lhoksemawe, dan Paya Cicem, Seunudon, Aceh Utara.

Beberapa tempat baru di jalan lintas Melaboh-Medan. Selain kebun sawit lama, pasca damai. Kebun-kebun baru itu sudah mulai ada.

Daripada dulu kita hanya kenal/tahu, jika di suatu tempat ada kebun sawit luas, “Itu pasti punya ibu Tin, itu kebun sawit Suharto.” Padahal kebun-kebun itu adanya di pedalaman Aceh. Baik itu di PTP Nisam Antara, bahpun di Cot Girek, pedalaman Lhoksukon, yang penulis sudah lupa tempat itu ada di patok/kilometer ke berapa. 

Yangmana saban hari, perkembangan itu terus mekar, mekar dan mekar. Hanya sahaja kita, sebagai pelaku itu. Masih duduk manis berpangku tangan sembari berdiam diri atau hanya sibuk menyalahkan baik itu kebijakan dari pemerintah, terurama. Tapi harus kita sadari, semua keluh kesah, alasan tersebut adalah hakikat daripada kemalasan pribadi sahaja.

Marilah sama sama berproses, memikirkan, mengupayakan bagaimana caranya kelapa sawit itu diolah untuk menjadi oli. Tidak sahaja mengolahnya untuk minyak makan/goreng atau sebagainya. Penulis tidak berpasal pada tempat orang lain. Hanya khusus di Aceh, dibuat oleh orang Aceh, dan untuk Aceh.

Peranan pemerintah haruslah lebih utama, uang otsus (Aceh) itu sangat banyak, masih banyak. Sebelum ia pergi, manfa’atilah, manfa’atilah itu untuk hal-hal baru. Seperti tempat pengolah kelapa sawit untuk menjadi oli. Begitu juga bagi para saudagar Aceh, terutama anda anda yang sudah membentuk keakraban itu.

Kerana kita sangat-sangat memerlukan pabrik pabrik yang seperti demikian itu, bahkan melebihi daripada (walaupun sama sekali belum ada) pabrik sirup, pabrik pengolah kakau, pabrik rumput laut, pabrik pakaian, pabrik obat herbal, pabrik sabun, pabrik pengolah nanas, pabrik olah minyak nilam, pabrik alat mencuci, alat rias, pabrik keramik. 

Juga pabrik peternakan, pengolah hasil kebun dan pertanian, pabrik elektronik, pabrik pengolah makanan ringan, pabrik pengolahan air laut/tawar, pabrik peternak unggas seperti itik secara modern dalam skala besar. Begitu juga dengan perlunya pusat kontrol distribusi hasil produksi di Aceh dan sebagainya.

Semoga sahaja Allah SWT mendengarkan du’a kita semua, berhingga kemajuan itu dengan segera bisa terwujud. Jangan lagi memakai kata-kata “biarkan anak cucu kita yang merasakan (kemajuan) semua itu.”[]

Penulis: Syukri Isa Bluka Teubai, penyuka sastra, alumni Sekolah Hamzah Fansuri (ASHaF).