Oleh: Muhibuddin, SKM
Mahasiswa Pasca Sarjana Magister Kesehatan Masyarakat (MKM)
Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK)

 Personal Mastery Tidak Terbentuk dalam Waktu Semalam

Secara naluri dan fitrah setiap orang terlahir dengan kondisi yang sama, tanpa membawa sesuatu apapun, hanya jiwa dan raga semata. Kita diciptakan oleh Tuhan yang sama yaitu Allah SWT, dan hidup di dunia yang sama serta di bawah naungan langit yang sama pula. Namun, pernahkah terpikir oleh kita, kenapa pencapaian kita jauh tertinggal dengan orang lain?

Terkadang kita sudah terbiasa berkata “Memang sudah begini nasib, sekeras apapun berusaha juga tidak akan berubah”. Kata-kata seperti ini memang sudah terbiasa kita dengar di lingkungan kita. Sehingga membuat kebanyakan orang menjadi malas berusaha, untuk mendapatkan pencapaian yang lebih berarti.

Padahal yang harus kita lakukan adalah membentuk personal mastery secara terus menerus, tanpa kenal lelah. Karena personal mastery ini adalah sebuah keahlian dalam menguasai diri, yang harus dimiliki oleh setiap orang terlebih lagi bagi seseorang yang telah menjadi pemimpin.

Barangkali bagi sebagian besar orang sudah memahami tentang personal mastery. Namun, juga tidak tertutup kemungkinan ada beberapa di antara kita yang belum memahami tentang personal mastery ini. Tanpa bermaksud menggurui, penulis akan mencoba mengajak para pembaca untuk sedikit mengulang kaji tentang personal mastery.

Secara sederhana, personal mastery ini bisa kita artikan sebagai sebuah seni dalam menguasai diri. Kita harus lihai dalam menguasai diri agar bisa merumuskan tujuan hidup kita atau visi pribadi. Tanpa penguasaan diri dan disiplin yang tinggi, maka kita akan berjalan seadanya, mengalir begitu saja, dengan pencapaian yang biasa-biasa saja.

Namun bila kita mulai menerapkan personal mastery dalam mencapai tujuan atau cita-cita, maka akan mudah bagi kita untuk mendapatkan tujuan tersebut. Semua tergantung keseriusan kita dalam memperjelas dan memperdalam tujuan atau visi hidup kita.

Membentuk personal mastery memang tidak mudah, dituntut kesabaran yang tinggi. Kita harus punya komitmen yang tinggi dalam melaksanakannya secara terus menurus. Yang jelas, personal mastery ini tidak terbentuk dalam waktu semalam. Perlu disadari bahwa personal mastery bukanlah sesuatu yang kita miliki, tetapi sebuah proses disiplin yang harus diterapkan sepanjang hayat.

Memelihara Personal Mastery

Untuk konsisten di dalam membentuk personal mastery, maka perlu kiat-kiat khusus yang harus dijalankan setiap hari. Sebenarnya inti dari personal mastery adalah menguasai diri dan introspeksi diri serta kedisiplinan. Adapun waktu yang sangat tepat dilakukan untuk introspeksi diri adalah setelah selesai salat Isya dan ketika akan istirahat di malam hari.

Sebelum tertidur, ada baiknya kita merenungkan tentang aktivitas apa yang telah kita lakukan dari pagi hingga menjelang malam. Seberapa banyak manfaat yang telah kita lakukan tadi, dan seberapa besar kesiasiaan yang telah kita lewati tadinya.

Dalam renungan tersebut kita akan kembali mengingat sejauh mana sudah perjalanan kita untuk mencapai tujuan. Apa-apa saja yang menjadi peluang dan penghambat dalam mencapai tujuan tersebut. Kendala dan peluang tersebut kemudian kita coba untuk inventarisasi, guna mencari cara dalam penyelesaian masalah.

Sehingga akan kembali fokus terhadap tujuan yang memang sudah mandarah daging dalam diri kita. Sesuatu yang menjadi tujuan dan cita-cita mulia bila terus kita rawat secara konsisten, insyaallah akan kita dapatkan.

Cita-cita kita terlalu kecil, apabila dibandingkan dengan para pendahulu kita, sepertinya kita sudah sering mendengar tentang penaklukan Konstantinopel. Bagaimana pendirian seorang Muhammad Al-Fatih, seorang sultan besar dari Dinasti Turki Usmani, dalam merawat mimpi-mimpinya untuk menaklukan Eropa.

Karena Sultan Muhammad Al-Fatih mempunyai personal mastery yang kuat, konsisten serta didukung dengan keimanan yang tinggi terhadap sang khalik, akhirnya dia berhasil menaklukan Konstantinopel dalam usianya yang sangat muda kala itu. Dalam sebuah Riwayat, saat itu Sultan berusia 18 tahun dan dalam riwayat lainnya menyebutkan umur Sultan Muhammad Al-Fatih ketika itu antara 21 atau 25 tahun.

Meneladani Para Pemimpin Dunia

Begitu banyak para pemimpin yang terlahir di dunia ini, dengan segudang prestasi dan kebijakan yang bermanfaat bagi rakyatnya. Bagaimana mereka bisa menjadi pemimpin, apakah semua didapatkan dengan jalan yang mulus tanpa hambatan? Tentunya tidak, kebanyakan para pemimpin mengalami jalan terjal dalam meraih cita-citanya.

Namun berkat kesabaran dan keuletannya dalam memelihara personal mastery, sehingga mereka menemukan tujuannya. Begitu banyak karya yang mereka torehkan dalam memimpin, yang memberi manfaat bagi rakyatnya, dan karya-karya besar mereka yang patut menjadi teladan bagi kita.

Salah seorang pemimpin kaliber dunia yang patut kita teladani adalah sosok presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dengan pengaruh kepemimpinannya mampu membuat Turki menjadi negara yang disegani dunia. Bahkan salah satu kebijakan yang sangat fenomenal adalah dengan mengubah fungsi Ayasofia dari museum kembali menjadi masjid. Kebijakan ini benar-benar mengagumkan umat Islam.

Begitupun di Aceh, juga telah melahirkan begitu banyak pemimpin yang bisa kita teladani. Secara pribadi dan barangkali juga bagi para pembaca, ada yang sepakat dengan figur kepemimpinan Prof. Ali Hasjmy. Sebagaimana kita ketahui, beliau merupakan salah seorang yang sukses, baik sebagai seorang gubernur, ulama, akademisi, dan juga penulis (sastrawan). Untuk seorang yang pernah hidup di zaman yang penuh keterbatasan, saya rasa tidak berlebihan jika saya menganggap beliau sosok yang luar biasa dan layak untuk diteladani.

Apa yang ditorehkan oleh tokoh tersebut tentunya tidak terlepas dari visi hidup yang tertanam dalam pribadinya, dengan membentuk personal mastery yang kuat. Sehingga mampu mewujudkan apa yang menjadi cita-cita mulianya dan memberi manfaat bagi orang banyak.

Personal Branding yang Mumpuni

Personal branding itu menjadi hal yang sangat penting bagi seseorang, karena berhubungan dengan kepakarannya atau keahliannya. Secara sederhana personal branding bisa diartikan “segala sesuatu terkait kapasitas dan keahlian kita yang mendapat pengakuan oleh orang lain, ketika kita tidak berada diruang tersebut”.

Intinya publik menilai kita, layak atau tidak, mampu atau tidak dalam sebuah bidang yang menjadi fokus bagi kita. Ketika kita mendengar sederet nama para pemimpin dunia maupun pemimpin dalam negeri, baik dari level setingkat presiden hinga level kepala desa, dan lain-lain. Faktor utama dari keterpilihan mereka menjadi pemimpin adalah karena adanya personal branding yang mumpuni, di sisi lain tim pemenangan dan mesin penggerak partai juga tak terbantahkan pengaruhnya dalam membuat mereka terpilih.

Begitupun halnya dengan profesinya lainnya seperti seorang dokter ahli kandungan. Bagaimana mereka bisa mendapatkan kepercayaan, sehingga menerima kunjungan pasien yang begitu banyak. Semua itu terjadi karena mereka memiliki label yang bagus atau personal branding yang telah teruji.

Contoh lain, misalnya, seorang ahli kesehatan masyarakat, yang dipercayakan menjadi tenaga ahli di lembaga legieslatif (DPRA) pada bagian Kesehatan. Dia diminta membantu merumuskan kebijakan yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat. Mereka yang dapat kepercayaan tentunya memiliki personal branding yang sudah diakui.

Oleh sebab itulah, mari kita konsisten dengan visi hidup kita. Meskipun visi hidup kita tidak sehebat dengan para aulia dan raja diraja serta para pemimpin hebat lainnya, tetapi bukan berarti kita harus berpangku tangan tanpa melakukan suatu apapun. Setiap orang punya visi dalam hidupnya, dan salah satu cara untuk mewujudkannya, maka harus terpatri “personal mastery” dalam hatinya.

Banda Aceh, 22 Oktober 2021.[]

Penulis saat ini juga bekerja di Rumah Sakit Jiwa Aceh sebagai perawat.