Kenapa perlu meminta hati yang baru? Apakah itu hanya perumpamaan? Yang pasti, hati adalah lembaga jiwa yang kepadanya Allah Memandang (Memberi Rahmat).
Dalam sebaris ayat disebutkan, ‘bukanlah mata yang buta, melainkan buta hati yang ada di dalam dada’.
Suasana ramadhan yang mendukung ketaatan dalam ritual puasa dan amalan lainnya, hendaknya menjadi taman subur bagi kehidupan hati.
Namun, bisa saja hati itu belum tampak bercahaya dan ilham ketaqwaan belum terinstal di dalamnya, sehingga seluruh anggota tubuh tetap belum khusuk bahkan condong ke kehinaan (fujur).
Maka sangat layak dan dianjurkan dalam atsar untuk meminta hati yang baru. Setidaknya itu karena hal hal di bawah ini:
1.Hati yang Berkarat
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
Sekali-kali tidak (demikian), bahkan menutupi hati mereka perbuatan (dosa) yang selalu mereka lakukan [Al-Muthaffifin/83:14]
Dalam hadits yang shahih, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang menafsirkan makna ayat ini.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya:
“Sesungguhnya seorang hamba jika berbuat dosa maka akan dibubuhkan satu titik hitam di (permukaan) hatinya. Kalau dia (segera) bertaubat, meninggalkan (dosa tersebut) dan memohon ampun (kepada Allâh Azza wa Jalla ), maka hatinya akan bening (kembali), (tetapi) jika dosanya bertambah maka akan bertambah pula titik hitam tersebut”.
Itulah (makna) ar-rân (penutup hati) yang Allâh sebutkan dalam al-Qur’an, (yang artinya-red), “Sekali-kali tidak (demikian), bahkan menutupi hati mereka perbuatan (dosa) yang selalu mereka lakukan” [Al-Muthaffifin/83: 14]”
Inilah hakikat hati yang kotor dan tertutup, yaitu hati yang diliputi oleh kotoran hitam seperti karat pada logam dan menutupinya sedikit demi sedikit, lalu memadamkan cahayanya dan membutakan mata hatinya.
Hal itu menjadikan hati terhalang dari menerima kebenaran. Sehingga bahkanmenganggap kebenaran itu adalah kebatilan dan kebatilan itu adalah kebenaran.
2. Karena hati itu tidak lagi tunduk oleh tilawah Alquran, kulit tubuhnya tak lagi merasa takut saat ayat ayat azab dibacakan.
3. Ketika hati itu sangat BERAT untuk menangis dan berempati dengan kesusahan saudaranya. masih hasut dan dengki atau dendam.
4. Ketika hati itu masih tetap condong pada maksiat padahal telah bergaul dengan orang orang shalih.
Oleh SEBAB SEBAB di atas kita boleh meminta Hati yang Baru kepada Allah swt. Karena Dialah Maha Pemilik Hati dan Pembolak Balik hati.
Moga Dia Tetapkan Hati kita dalam Ketaatan hingga ke hadapanNya kelak. Aamiin.






