Menabur Bunga

Kita menabur benih jeumpa di sepanjang jalan itu,
tumbuhlah sekalian jeumpa, sedikit rerumputan

Kita menabur kedamaian,
maka datanglah kedamaian, sedikit perselisihan sementara
Sekiranya kita tidak menaburkan apa-apa, tidak mungkin juga,

disebabkan tasbih senantiasa dalam nafas,
antara cinta pada-Nya dan antara kita bersenyawa dengan udara.

Maka, tidak lagi penting bunga-bunga segala,
melainkan untuk anak-anak yang datang berlari

di sepanjang jalan peradaban, seraya mengatakan
“Ibu, Ayah, mengapa Seulawah berpindah-pindah ketika kita dalam kereta listrik ini.”

Banda Aceh, 12 Oktober 2016

Thayeb Loh Angen, Penulis Novel Aceh 2025