Sabtu, Juli 20, 2024

Peringati Haul Abati Banda...

LHOKSEUMAWE - Ratusan jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi'i Aceh menggelar pawai akbar dalam...

Pj. Bupati Aceh Utara...

ACEH UTARA - Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyerahkan bantuan masa panik secara simbolis...

Sekum PB PON Wilayah...

BANDA ACEH – Progres pembangunan beberapa venue untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI...

PT PIM Bantu Korban...

ACEH UTARA - PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) menyerahkan bantuan kepada korban badai...
BerandaInspirasiMenangisi Kepergian Ulama

Menangisi Kepergian Ulama

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim*

Pada 26 September 2022 lalu seorang ulama besar Islam abad ini berpulang ke rahmatullah. Ia adalah Syaikh Yusuf Abdullah Al-Qardhawi, seorang cendikiawan Islam asal Mesir kelahiran 1926, namun berkebangsaan Qatar. Ia menetap dan dikubur di negara kaya ini karena keberadaannya sebagai pentolan gerakan Ikhwanul Muslimin yang hingga hari ini masih menjadi gerakan terlarang di negeri “piramida”. Alumni Al-Azhar ini yang ke mana-mana selalu menggunakan baju kebesaran ulama Azhar tercatat meninggalkan lebih dari 170 karya tulis di berbagai bidang ilmu pengetahuan Islam. Dengan segenap kontribusi ilmiahnya kepada dunia Islam, kini dengan penuh hormat dan mulia, ia telah kembali menghadap Rabb-Nya. Semoga Allah memberikan tempat yang layak untuknya, bersama orang-orang salih pendahulu umat ini.

Tepat sehari setelahnya, pada 27 September 2022, seorang ulama sepuh Aceh, Abu Tu Min Blang Blahdeh juga ikut kembali kepada Allah Swt. Tu Min yang memiliki nama lengkap Muhammad Amin Mahmud Syah pergi pada usia 90 tahun, lebih muda enam tahun dari Yusuf Qardhawi. Tu Min lahir pada 1932 di Gampoeng Kuala Jeumpa, Bireun, Aceh. Sesaat sebelum wafat, Tu Min adalah satu-satunya ulama Aceh yang paling tua dan senior. Walaupun ketenarannya tak sehebat Yusuf Qardhawi, tetapi Tu Min sangat dihormati oleh para ulama di Aceh, terutama dari kalangan dayah. Kepergian pimpinan Dayah Al-Madinatuddiniyah Babussalam ini pasti meninggalkan duka yang sangat dalam bagi banyak kalangan. Semoga Allah menempatkan Tu bersama orang-orang salih di surga-Nya.

Dalam Islam ulama dikenal sebagai sosok istimewa yang berhak untuk dihormati dan dimuliakan, saat hidup atau setelah mati. Suatu hari Abdullah bertanya kepada ayahnya Ahmad bin Hambal, “Siapa itu Syafi’i, karena aku mendengar engkau selalu beristighfar untuknya?” Imam Ahmad menjawab, “Wahai anakku, Syafi’i itu seperti matahari untuk dunia ini, dan penyembuh bagi manusia”. Begitulah orang terdahulu memperlakukan ulama, tak hanya memuliakannya ketika hidup tetapi juga saat telah meninggal dunia. Dalam sebuah hadis Nabi bersabda, “Bukanlah dari golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua dan tidak menyayangi anak-anak serta tidak mengetahui haknya para ulama”, (HR: Ahmad).

Siapa Itu Ulama?

Secara sederhana pengertian ulama telah dijelaskan oleh Nabi dalam sebuah sabdanya, “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi”. Mereka para nabi tidak mewariskan harta benda (emas dan perak), melainkan ilmu,” (HR: Abu Daud). Hadis ini menjelaskan tentang hakikat dan martabat para ulama sebagaimana difirmankan Allah dalam salah satu ayat-Nya, “Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”, (Al-Mujadilah: 11).

Ada banyak ayat dalam al-Quran yang menjelaskan tentang ulama dan kedudukan mereka, antara lain adalah, “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)”, (Ali ‘Imran: 18). Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa Allah memasukkan para ulama dalam barisan para saksi atas ketauhidan-Nya, dan tidak memasukkan hamba-Nya yang lain selain para ulama dan malaikat. Menggandingkan persaksian para ulama sebaris dengan Diri dan malaikat-Nya. Kemudian yang lebih penting, ayat ini menjadi bukti keadilan para ulama di mata Allah Swt. Karena sangat tidak rasional Allah memasukkan seseorang menjadi saksi atas ketauhidan-Nya, sementara ia berperilaku fasik dan tidak bersifat adil. Bayangkan, menjadi wasit permainan bola kaki saja syaratnya harus adil.

Dalam ayat lain Allah berfirman, “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”, (An-Nahl: 43). Melalui ayat ini Allah memerintahkan agar orang-orang yang tidak tahu atau ragu pergi bertanya kepada para ulama sehingga menjadi tahu dan yakin. Di sini sekali lagi ulama diposisikan sebagai saksi, hanya saja saksi atas kebenaran para nabi dan risalahnya. Secara implisit ayat ini menerangkan bahwa di antara manusia ada orang-orang yang arif, cendikia, dan bijaksana, orang-orang yang memiliki pengetahuan lebih dari yang lainnya sehingga layak sebagai tempat bertanya, mendapatkan bimbingan dan nasihat, mereka itulah yang dikenal dengan ulama.

Sebagai pewaris para nabi, ulama bertugas mencerahkan umat manusia dari kebodohan dan kemelaratan hidup. Mereka adalah orang-orang yang spesial bergelut dengan ilmu tanpa harus disibukkan dengan seabrek urusan lainnya. Allah berfirman, “Tidak pantas bagi orang-orang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang pergi untuk memperdalam pengetahuan tentang agama (tafaqquh fiddin) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”, (At-Taubah: 122). Ayat ini mengajarkan umat Islam soal tupoksi dan profesionalisme kerja. Sebagaimana ada sekelompok orang yang siap menjadi tentara, maka harus ada yang fokus dengan ilmu, mendedikasikan dirinya untuk umat, membebaskan mereka dari kejahilan dan keterbelakangan.

Dalam sebuah hadis disebutkan, “Siapa saja yang Allah inginkan kebaikan padanya, maka ia dimudahkan memahami agama (tafaqquh fiddin)”, (HR: Bukhari dan Muslim). Ulama adalah orang yang oleh umat Islam mengenalnya sebagai faqih dalam makna lebih luas. Artinya, bukan hanya jago fikih secara khusus, tetapi memiliki keluasan dan kedalaman pemahaman tentang agama (syariat Islam) secara umum, sehingga kefakihannya itu akan melahirkan akhlak dan pekerti luhur dalam tindak tanduknya. Pemahaman keagamaannya telah menjadikan mereka orang-orang yang “takut” kepada Allah Swt, sebagaimana difirmankan dalam sebuah ayat, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”, (Fathir: 28). Takut kepada Allah adalah sumber pengetahuan dan kebahagiaan, yang tanpanya ilmu tak akan bernilai. Ibnu Mas’ud mengatakan, cukuplah seseorang dikatakan berilmu ketika ia memiliki rasa takut kepada Allah Swt.

Inilah yang disinyalir oleh ayat lainnya, “Allah menganugerahkan hikmah (kefahaman yang dalam tentang agama) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran”, (Al-Baqarah: 269). Pemahahaman keagamaan itu telah menjadikan mereka sebagai tauladan dan rujukan umat dalam menyusuri jalan hidup menuju keabadian akhirat. Mereka pada tak ubahnya bintang di langit, hadir sebagai petunjuk bagi yang berjalan di gelapnya malam, Allah berfirman, “Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk”, (An-Nahl: 16). Begitulah posisi ulama di mata Allah Swt sebagai pewaris para nabinya, “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami”, (An-Nahl: 16).

Menyikapi Kematian Ulama

Sebagaimana keberadaan ulama di tengah-tengah umat merupakan anugerah besar dan nikmat dari Allah, maka kematian mereka tak lain adalah musibah dan bencana. Bahkan tak ada musibah dalam agama ini melebihi dari musibah kematian para ulama. Umar bin Khattab mengatakan, “Kematian seribu ahli ibadah lebih baik dari kematian seorang alim yang mengerti halalnya Allah dan haram-Nya”. Ibnul Qayyim menjelaskan perkataan Umar di atas dengan mengatakan bahwa seorang ulama dengan ilmu dan bimbingannya terhadap umat dapat menghancurkan semua hal yang telah dibangun oleh iblis, berbeda dengan ahli ibadah yang keberadaannya hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri. Ibnu Mas’ud dalam sebuah petuahnya sempat mengilustrasikan tentang kematian ulama, katanya, “Jika dalam sebuah kampung ada dua orang ulama, lalu salah satunya meninggal, maka separuh dari ilmu yang ada di kampung itu hilang, dan ketika yang satunya lagi ikut meninggal, tak ayal, seluruh ilmu di kampung itu ikut pergi”. Beliau melanjutkan, “Kematian seorang alim adalah kekosongan dalam Islam yang takkan tertutupi buat selama-lamanya”. Sa’id bin Jubair juga pernah berujar bahwa kebinasaan suatu umat ditandai dengan kematian ulamanya.

Sejumlah ungkapan di atas diperkuat oleh sabda Nabi yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari manusia kecuali dengan mamatikan para ulama, sehingga ketika tak ada yang tersisa dari mereka, orang-orangpun pergi bertanya kepada “para pemimpin” jahil, pertanyaan itu disahuti dengan fatwa bodong (tanpa ilmu). Mereka sebenarnya telah sesat, lalu menyesatkan orang lain”, (HR: Bukhari dan Muslim). Ulama menjelaskan bahwa ilmu tidak hilang, tapi orang yang paham ilmu itu yang mati dan pergi. Al-Quran dan hadis masih ada, buku-buku karangan para ulama juga sama, tetapi orang yang memahaminya telah tiada, sehingga tinggallah orang-orang yang kadung dianggap ulama, orang-orang bodoh yang diberi kursi para ulama, mereka inilah yang kemudian berfatwa dalam agama, dengan seluruh kebodohannya. Mereka bukan hanya sesat atas dirinya sendiri, tetapi ikut menyeret orang lain sesat bersamanya. Begitulah kira-kira bayangan dari nabi jika sebuah tempat atau suatu masa ulama itu pergi dan tiada.

Namun begitu kematian ulama bukan berarti kematian umat, apalagi kematian Islam secara keseluruhan. Islam adalah satu-satunya agama yang kekal hingga akhir zaman. Perjalanan panjangnya takkan pernah berhenti apalagi mati. Ia akan kekal selama Quran masih dijaga oleh Allah Swt. Dalam sebuah ayat ditegaskan, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”, (al-Hijr: 9). Artinya, selama al-Quran masih ada maka selama itu pulalah orang-orang yang menjelaskan al-Quran ada, mereka adalah para ulama. Maka tak perlu menangisi kepergian satu atau dua ulama. Jika harus menangis, kematian nabilah yang harus ditangisi sebelum lain-lainnya. Pun begitu, kematian nabi ternyata tidak membuat Islam menjadi mati dan cahanya padam.

Kalaulah Islam harus mati karena kematian satu dua orang ulama, maka sejak dari dulu lagi Islam telah mati. Berapa banyak tragedi yang menimpa umat Islam. Orang-orang terbaik dari umat ini jumlahnya sangat banyak, bisa jutaan, atau bahkan tak terhitung, semua mereka telah tiada. Seluruh generasi emas dari umat ini telah pergi, tapi Islam tak pernah mati. Karena itu tak perlu berlebihan saat berduka atas kematian ulama, atau siapa saja, apalagi harus dirayakan secara berlebihan. Umat ini bisa sakit, tapi tak bisa mati. Wallahua’lam.[]

* Muhammad Syahrial Razali Ibrahim adalah Dosen dan Dekan Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe, dan salah seorang Pimpinan Dayah Ma’had Ta’limul Qur’an (Mataqu) Ustman Bin Affan Lhokseumawe. Ia juga dikenal sebagai Teungku Balee di Lhokseumawe.

 

Baca juga: