Minggu, Juli 14, 2024

Tanggapan Ketua DPRK Aceh...

ACEH UTARA - Mendagri Tito Karnavian memperpanjang masa jabatan Pj. Bupati Aceh Utara...

Selamat! 2 Siswa Kota...

SUBULUSSALAM - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Balai Pengembangan Talenta...

Besok, Mahyuzar akan Terima...

ACEH UTARA - Dr. Mahyuzar, M.Si., akan menerima Surat Keputusan (SK) Mendagri tentang...

Jabatan Pj Bupati Aceh...

ACEH UTARA - Masa jabatan Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Mahyuzar, genap satu...
BerandaInspirasiIslamMencermati Pergeseran Libur...

Mencermati Pergeseran Libur Satu Muharram

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim*

Bulan Muharram tahun ini tergolong unik untuk masyarakat Indonesia. Perang melawan covid 19 varian delta memaksa pemerintah mengambil kebijakan yang tidak populer, melakukan pergeseran libur tahun baru Islam 1 Muharram, yang seyogianya  jatuh pada Selasa tanggal 10 Agustus dipindahkan ke Rabu 11 Agustus.

Tujuan penggeseran libur satu Muharram ini sebenarnya sederhana saja, yaitu agar tidak terjadi libur panjang. Sebab jika tetap diliburkan pada hari Selasa, orang-orang akan masuk kerja pada hari Rabu, karena Senin dainggap hari terjepit. Libur panjang dipredeksi akan memicu lonjakan kasus covid 19 dengan memunculkan kluster-kluster baru di banyak daerah.

Namun disayangkan, sebagian umat Islam merespon keputusan pergeseran libur satu Muharram ini dengan cara yang agak berlebihan. Mereka menolak libur satu Muharram digeser ke hari berikutnya. Keputusan meggeser hari libur satu Muharram dianggap sebagai “dosa besar” yang dilakukan oleh pemerintah.

Setidaknya begitulah isyarat dari postingan yang sempat viral saat itu. Tidak lupa, protes penggeseran hari libur tersebut disertai dengan pencatutan ayat al-Quran surah At-taubah 37, yang terjemahannya, “Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah..”.

Padahal ayat di atas sama sekali tidak ada kaitannya dengan perpindahan hari libur. Namun begitu tidak sedikit umat Islam yang percaya, terbukti postingan itu sempat menyebar di sejumlah group Medsos dan bertahan hingga beberapa hari. Lebih miris lagi, informasi itu tersebar dalam group sosial masyarakat yang terkumpul dalam kelompok-kelompok majlis ta’lim tertentu, atau terafiliasi dengan jamaah mesjid tertentu, yang notabene mereka adalah orang-orang yang rajin mengaji dan aktif mengikuti beragam kajian keagamaan.

Sampai di sini barangkali siapa saja mudah menilai bahwa masih banyak umat Islam yang ikut kajian keagamaan tujuannya bukan benar-benar ingin belajar agama. Motifnya bisa sangat beragam, mulai dari sekedar mengisi waktu kosong hinga untuk bersosialisasi. Keadaan ini menjadi semakin buruk karena sebagian guru ngaji juga punya motif yang tidak lebih baik dari jamaahnya. Suasana akademik akhirnya menjadi kering, murid hanya diajarkan untuk patuh, tidak untuk berfikir, mereka boleh bertanya tapi tidak boleh mengkritik.

Sepanjang tidak ada kritikan, selama itu sang guru berusaha menyenangkan jamaahnya dengan berbagai syarahan. Kenyamanan semua pihak menjadi tujuan, bukan ilmu. Mereka menjadi orang-orang yang anti kritik, tapi suka mengkritik. Salah benar bukan lagi menjadi pertimbangan utama, tapi lebih karena tidak sesuai dengan pandangan keagamaan kelompok mereka. Mereka akan mencari berbagai argumen untuk membenarkan -semua tidakan- kelompoknya, dan mencari-cari dalil untuk menyalahkan orang lain. Begitulah yang mereka lakukan terhadap pemerintah.

Fenomena itu juga menjadi alasan mengapa hoaks mudah menyelinap masuk ke ruang-ruang informasi masyarakat. Saat sebuah komunitas merasa dirinya benar, maka semangat check dan recheck atau tabayyun akan mati dengan sendirinya. Semua informasi yang tersebar di kalangan mereka secara otomatis dianggap benar. Apalagi informasi itu ditunggangi oleh dalil-dalil agama, bagi sebagian umat Islam, kebenarannya bisa absolut.

Tidak dipungkuri memang, tren pendidikan informal yang bersifat instan dan otodidak melalui berbagai media, online atau offline membuat masyarakat menjadi semakin terbuka (inklusif). Tetapi pada masa yang sama sebagian mereka malah menjadi orang-orang yang tertutup (eksklusif). Terbuka dengan semua informasi, tetapi tertutup dalam menerima informasi tersebut.

Beragam informasi yang tiap saat berseleweran di sekitar mereka tidak lagi jadi hal tabu apalagi sampai dipersoalkan. Tetapi mereka hanya mengkonsumsi informasi yang diterima oleh kelompok mereka saja, tidak di luar itu. Lagi-lagi bukan karena salah benar, tetapi karena itu pilihan kelompoknya. Kondisi ini menjadikan mereka rentan  terprovokasi dan mudah dimamfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Sekilas Tentang Satu Muharram

Protes pergeseran libur satu Muharram sempat diperkuat oleh tayangan video berdurasi pendek yang menegaskan bahwa “ini soal spritual”. Hendaknya pemerintah tidak bermain-main dengan masalah ini. Kira-kira begitu pesan dalam video tersebut. Lalu apa benar kalau libur satu Muharram merupakan suatu yang sakral dan spritual?.

Dalam al-Quran disebutkan bahwa hitungan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan, At-Taubah 36. Dua belas bulan itu adalah Muharram, Safar, Rabi’ul Awwal dan Akhir, Jumadil Ula dan Tsani, Rajab, Sya’ban, Ramadan, Syawwal. Zul Qa’dah, dan Zul Hijjah. Nama-nama ini kemudian dikenal dengan bulan atau tahun Hijriah.

Namun perlu diingat bahwa nama Hijriah untuk bulan-bulan tersebut baru dikenal pada zaman Umar bin Khattab. Tak pernah ada di masa Nabi Muhammad, tidak juga saat Abu Bakar menjadi khalifah. Umar sebagai khalifah saat itu mengumpulkan sejumlah sahabat untuk menyepakati kalender dalam Islam seagai bagian dari kebijakan pemerintahannya melakukan reformasi birokrasi. Kalender Hijriah mengacu kepada awal hijrah sahabat Nabi dari Mekkah ke Madinah yang jatuh pada bulan Muharram. Sehingga atas usulan Utsman bin ‘Affan Muharram kemudian disepakati dan ditetapkan sebagai bulan pertama dalam Islam.

Penentuan Muharram sebagai bulan pertama pada masa ‘Umar menunjukkan bahwa sebelum itu umat Islam tidak mengenal adanya awal tahun atau bulan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya hingga bulan kedua belas atau akhir tahun, walaupun mereka berpuasa wajib tetap pada bulan Ramadan dan berhaji pada bulan Zul Hijjah.

Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW bersabda, “sesungguhnya zaman (waktu) itu berputar seperti apa adanya semenjak Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada dua belas bulan, dan di antaranya ada empat bulan haram (diagungkan/dimuliakan), tiga berturut-turut; Zul Qa’dah, Zul Hijjah, Muharram, dan Rajab yang terletak antara bulan Jumada dan Sya’ban (HR: Bukhari Muslim).

Yang namanya berputar, pasti sangat sulit menentukan mana awal mana akhir, ditambah lagi perputaran itu sudah terjadi sejak Allah menciptakan langit dan bumi.  Inilah yang mendorong para sahabat nabi duduk bersama dan berijtihad soal bulan-bulan tersebut. Allah berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji..”, (al-Baqarah: 189).

Perlu dipertegas pada tulisan ini, saat penentuan bulan pertama, para sahabat tidak pernah menyepakati atau membicarakan soal libur awal tahun atau tanggal merah satu Muharram. Bahkan secara umum Islam tidak mengenal adanya hari libur, walaupun ada hari bernama “Sabtu” yang terambil dari kata sabat/subat bermakna istirahat.

Begitu juga dengan hari Jum’at yang dalam tradisi sebagian masyarakat hanya dimamfaatkan untuk beribadah, tidak untuk bekerja. Akan tetapi kebiasaan ini tidak dikenal dalam Islam. Dalam al-Quran Allah berfirman, “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli…”.

Ayat berikutnya, “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah (rezeki)”, (Al-Jumu’ah: 9 – 10). Dua ayat ini mensinyalir jika umat Islam masa nabi, sebelum dan setelah shalat jum’at mereka sibuk di pasar. Artinya, hari Jum’at sekalipun, mereka tidak berlibur, kecuali hanya sesaat, saat mereka ke mesjid.

Apabila Allah dan rasul-Nya mengajarkan umat ini untuk tetap bekerja walau pada hari ibadah sekalipun, lalu apa dasarnya seseorang mengatakan bahwa libur satu Muharram itu soal spritual. Jika ada umat Islam yang menyepakati libur pada tanggal tersebut, dan tanggal-tanggal lainnya itu kembali kepada kesepakatan di antara mereka.

Karena itu setiap negara berbeda dalam menentukan hari liburnya, termasuk negara-negara Islam. Bukan hanya berbeda dalam menetukan hari-hari libur nasional tetapi juga hari-hari besar Islam, di sana bahkan ada yang tidak berlibur kecuali Aidul Adha dan Aidul Fitri. Karena itu soal geser menggeser hari libur dipandang sebagai hal biasa, sesuai dengan kemaslahatan masing-masing negara.

Di Mesir sendiri libur Muharram tahun ini dirayakan pada tanggal 12 Agustus yang jatu pada hari Kamis. Sebagai informasi, libur akhir minggu di Mesir jatuh pada hari Jum’at dan Sabtu. Baru-baru ini negara itu memberlakukan aturan libur nasional baru, di mana setiap hari libur resmi negara yang jatuh di tengah-tengah hari kerja maka akan digeser ke hari Kamis. Sehingga pada minggu itu mereka akan berlibur tiga hari berturut-turut, Kamis, Jum’at dan Sabtu. Satu kebijakan yang patut dicontoh oleh pemerintah Indonesia untuk menghindari hari terjepit. Semoga bermamfaat, Wallahua’lam.[]

*Dekan Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe, dan salah seorang Pimpinan Dayah Ma’had Ta’limul Qur’an (Mataqu) Ustman Bin Affan Lhokseumawe. Ia juga dikenal sebagai Teungku Balee, dan dai ternama di Lhokseumawe.

Baca juga: