KEMARIN, saat mengunjungi Pameran bertema ''Mengenal Batu Nisan Aceh – Sebagai Warisan Budaya Islam di Asia Tenggara”, dibuka pagi ini, di Museum Aceh, Rabu siang 10 Mei 2017, tiba-tiba salah satu pemandu, Afrizal Hidayat dari Mapesa, memanggilku.

Maka berbincanglah kami dengan dua orang guru dari SMP 7 Banda Aceh. Mereka (saya tudak tahu namanya), mengeluhkan hal yang sebenarnya dikeluhkan oleh semua pencinta sejarah.

Guru itu memohon mata pelajaran sejarah Aceh masuk kurikulim.

“Tolong kurikulum sekolah diperbaiki supaya pelajaran sejarah Aceh ada, dan bahasa Aceh ada. Menyedihkan, cuma satu halaman sejarah Aceh di dalam buku sejarah,” kata guru itu, dengan nada sedih.

Mendengar itu, aku teringat rencana membuat konferensi pendidikan bersama handai taulan yang dalam gurp WA ACEH MUDA: Kebangkitan di atas Segala. Konferensi itu direncanakan dalam skala besar khusus tentang pendidikan di Aceh, yang melibatkan semua unsur di Aceh.

Rencananya konferensi itu pada 2 Mei 2017, akan tetapi aku harus menundanya karena dalam rangka mengurus segala sesuatu terkait advokasi batu (nisan) Aceh, baik pameran ini atau pergubnya, sementara proses pendaftarannya di UNESCO bisa agak luang setelah ini.

Kedua guru itu menceritakan bagaimana kurikulum pendidikan di Aceh sekarang seperti sengaja membuang hal-hal keacehan. Tidak ada muatan lokal seperti bahasa Aceh, dan sebagainya. Sementara kekhususan Aceh jelas disebutkan di dalam undang-undang.

Maka, aku berpaling ke Afrizal, dan berkata, “Tugas kita semakin lama dan panjang, semakin banyak.”

Kegundahan itu terus berjalan, satu terobati seperti pameran batu (nisan) Aceh ini, sudah menunggu tugas yang lain, yang harus dibuat secara suka rela. Sementara yang digaji oleh rakyat di pemerintahan memikirkan hal lain, yang tidak ada hubungannya dengan keacehan.

Mengeluh atau menghujat mereka itu tidak ada gunanya, yang berguna terus bertindak.

Kedua guru SMP 7 Banda Aceh itu juga mempertanyakan tentang diklaimnya Barus sebagai titik nol Islam. 

Sebagaimana diketahui, pameran batu (nisan) Aceh berlangsung di dalam ruangan, di ruang pameran kontemporer, dan di luar ruangan, di halaman museum. Di dalam ruangan berisi foto, batu nisan, dan penjelasannya.

Di luar ruangan, tepatnya di halaman, ada batu nisan yang diatur seperti mini kompleks. Batu-batu nisan tersebut adalah yang diselamatkan oleh Mapesa dan Dr Husaini Ibrahim, dibawa ke Museum untuk pameran.

Bagian pameran juga komplek makam salah satu dinasti Sultan Aceh Darussalam, di halaman gedung museum. Dan bagian pameran komplek makam Sultan Ibrahim Mansur Syah, di Baperis (kompleks Makam Sultan Iskandar Muda) juga menjadi bagian dari pameran ini.

“Pameran enam hari (9-16 Mei 2017) ini dilaksanakan oleh Museum Negeri Aceh bersama Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) dan BPCB. Batu nisan yang dipamerkan nantinya adalah warisan Kesultanan Lamuri, Samudra Pasai, dan Aceh Darussalam,” kata Almuniza Kamal, koordinator pameran tersebut, di Banda Aceh, Selasa 10 Mei 2017.

Materi dasar pameran tersebut disiapkan oleh Mapesa. Selain pameran, pada hari pembukaan juga dibuat seminar tentang batu nisan Aceh dengan pemateri Dr Husaini Ibrahim, Deddy Sastria, dan seorang arkeolog dari Sumatra Utara. Mapesa mengirim 3 pemandu untuk pameran selama enam hari ini.

Pameran yang berlangsung selama enam hari tersebut, direncanakan dibuka oleh sekda Aceh atas nama Gubernur dan dihadiri Wali Nanggroe serta tamu-tamu penting lainnya. Panitia menargetkan pameran selama enam hari tersebut akan dikunjungi oleh sekira dua puluh ribu pengunjung.

Sebelumnya, Gubernur Aceh Zaini Abdullah menyatakan segera mengeluarkan peraturan gubernur (Pergub) tentang Batu Nisan Aceh, dan mendaftarkan benda warisan dunia Islam dari peradaban Aceh tersebut di UNESCO sebagai benda warisan budaya dunia.[]

Thayeb Loh Angen, yang pada awal 2017 bersama Almuniza Kamal mencetus pameran Batu (nisan) Aceh di Museum Aceh. Pejuang penyelamatan Batu (nisan) Aceh adalah Taqiyuddin Muhammad bersama CISAH (Center Information for Samudra Pasai Heritage) dan Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh), juga beberapa pihak lain.