Oleh Taufik Sentana

 

” _Siapakah yang paling baik agamanya selain dari yang mengikuti ajaran Nabi Ibrahim yang lurus?”_ (Al-Quran).

 

Di bulan haji ini, menelusuri jejak Nabi Ibrahim AS adalah pelajaran berharga. Sebagai Ulul Azmi, perjuangan dakwahnya luar biasa. Dari keturunannya lahir Nabi Muhammad SAW. Doanya pula menjadi wasilah Mekkah menjadi pusat peradaban.

 

Terlepas dari perdebatan akademis tentang statusnya dalam agama lain, Al-Quran jelas menyebut Ibrahim sebagai hanifan musliman (lurus, berserah diri). Sikap ini menepis anggapan bahwa semua agama sama.

 

Lantas, nilai spiritualitas Ibrahim apa yang relevan bagi kita yang cenderung materialistis?

 

Pertama, Rasa Ketuhanan yang Mendalam. Dialognya dengan Allah menunjukkan keyakinan yang kuat, bukan sekadar retorika. Keyakinan ini memberinya kekuatan menghadapi ujian berat, termasuk perintah menyembelih putranya. Keikhlasan Ibrahim melahirkan ibadah kurban yang kita kenal.

 

Kedua, Sikap Mengadu (Awwah) kepada Allah. Kedekatannya dengan Allah menumbuhkan kepercayaan diri dan ilham. Penantian panjang akan hadirnya seorang putra berbuah karunia kenabian dalam keturunannya. Sikap awwah ini juga melahirkan kasih sayang dan visi bagi kemajuan umat manusia.

 

Ketiga, Munajat yang Panjang dan Sungguh-Sungguh. Doa-doa Ibrahim tidak hanya didengar, tetapi terwujud nyata: Mekkah menjadi kota yang berkah, lahirnya Nabi Muhammad SAW sebagai penerus ajarannya, dan permohonan agar ia dan keturunannya menegakkan shalat.

 

Spiritualitas Nabi Ibrahim, yang kaya akan rasa ketuhanan, kedekatan dengan Allah, dan doa yang tulus, adalah teladan berharga untuk mengasah batin dan menunaikan kewajiban kita di bumi ini. []

 

Taufik Sentana

Staf Ikatan Da’i Indonesia Cabang Aceh Barat.