KETIKA mulai memasuki area lapangan, di sana di tengah lapangan ada satu atau dua mobil klasik hijau sedang berjalan pelan.
Saat datang lebih dekat ke mobil itu, maka terlihatlah empat gadis remaja kecil sedang berada di dalamnya. Kaki-kaki gadis kecil itu terus mengayuh. Salah seorang dari mereka berada di belakang stir kemudi, tangannya mencoba mengendalikan kemudi itu. Tak tahu apakah berat mobil cinta (mocin) itu sewaktu didayung atau tidak, namun terlihat ketika melaju, arahnya kadang lurus dan sesekali berhenti.
Mengayuh mobil cinta di Blang Padang dengan batas sepuluh menit, anak anak itu harus membayar dua puluh ribu rupiah. Di sisi kiri stir tergeletak satu speaker sound, sementara empat ban sepeda motor yang merekat pada sumbunya terus berjalan ditarik oleh empat ring dengan lilitan rantai-tantai yang tersambung panjang.
Mocin bewarna hijau itu melaju pelan. Gadis-gadis kecil yang sedang berada di dalamnya sedang mengelilingi lapangan, kemudian kembali ke pangkalannya. Di sana seorang ibu tengah duduk bersama teman-temannya di dekat beberapa mocin yang akan disewakannya kepada anak-anak yang ingin menjelajah lapangan itu.
Pemilik usaha mainan itu adalah Ibu Wiwik. Wanita yang berasal dari Merduati itu siap melayani anak-anak setiap hari mulai selesai ashar sampai malam. Aktifitasnya tersebut hanya dihentikannya sejenak ketika waktu shalat tiba.
“Cuma hari Minggu saja kami hadir sejak pagi, sedangkan di hari-hari biasa, kami memulainya setelah shalat ashar hingga malam,” kata pemilik jasa mocin mainan yang sudah menggelutinya sejak dua tahun yang lalu itu.
Mobil cinta, di Blang Padang berjalan pelan, sepeda ketika terkayuh namun ia adalah indah sebagai mobil cinta dalam tatapan di kejauhan ketika memandang.
Kaki terus melangkah menyusuri luasnya Lapangan Blang Padang yang hamparannya luas dibelah oleh sebuah bentangan segaris jalan beraspal, di tengah-tengahnya tertancap satu tiang beton yang menjulang.
Di sudut utara barat lapangan dekat pagar, ratusan kursi plastik milik pedagang kaki lima berbaris rapi. Kemudian terlihat pula alat-alat mainan anak-anak berdiri diam tak berputar hari sedang siang pengunjung sedang sepi.
Juga di arah utara timur lapangan, lewat pucuk-pucuk pepohonan terlihat menara Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, dan di sebelah selatan timur lapangan, di seberang jalan terlihat ramainya pengunjung yang sedang menghadiri Museum Tsunami Aceh.
Sebuah kapal kecil replika pesawat terbang juga terlihat tersangkut di sebuah tugu beton di selatan lapangan. Dan juga, di sebelah baratnya terlihat satu lagi tugu terbuat dari beton lainnya menepi agak ke tepi lapangan.
Di bagian utara, beberapa penyewa jasa mainan sedang berbicara dengan temannya, ia menunjuk-nunjuk ke suatu arah ingin mendekati kerumunan dimana anak-anak bermain. Mereka terlihat mengeluh, karena mendapat posisi menjual jasanya agak jauh dari jalan.
Lapangan yang luas itu, di sekelilingnya terbenam puluhan miniature perahu kecil yang setengahnya terbenam ke tanah. Orang yang pertama melihat mungkin akan menganggap sebagai simbol sesuatu.
Mobil cinta kembali ke pangkalan. Azan duhur menggema dari menara-menara masjid terdekat.
“Gempa 8,9 skala Richter terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam terjadi pada 26 Desember 2004 pukul 07,58 WIB sesaat kemudian, laut meuntahkan airnya dengan kekuatan maha dahsyat, Aceh digulung tsunami. Setidaknya 100.000 orang meninggal dala peristiwa itu, sedangkan yang selamat harus menerima kenyataan semua yang dimilikinya musnah, Aceh kala itu luluh lantak.” Demikian terbaca dari catatan tentang musibah tsunami yang tertulis di sebuah papan informasi di dekat gerbang keluar masuk selatan lapangan, dan di sisi lainnya juga tercatat sebanyak 53 nama negara-negara yang pernah membantu Aceh setelah gempa Tsunami.
Mobil cinta, setenaga remaja-remaja kecil mengayuh masa depan dengan harapan, dengan dukungan para pendidik-pendidik zaman yang bijak, mereka akan hadir sebagai pengganti seratus ribuan karib yang telah hilang.[]






