BerandaBerita Banda AcehMengenal Indikator Kelompok Rentan Covid-19

Mengenal Indikator Kelompok Rentan Covid-19

Populer

BANDA ACEH – Pemerintah terus memaksimalkan cakupan vaksinasi Covid-19 agar terciptanya kekebalan kelompok (herd immunity) dalam melawan pandemi Covid-19. Setelah program vaksinasi untuk dosis satu dan dua berjalan, kini pemerintah mulai melakukan vaksin booster atau dosis tiga. Di sisi lain, cakupan vaksinasi dosis satu dan dua perlu terus ditingkatkan dan membutuhkan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat. Terutama dalam menjangkau kelompok-kelompok rentan dengan indikator tertentu.

Menurut dr. Hady Maulanza, MKM., Sp.KKLP., kekebalan kelompok terhadap Covid-19 baru akan tercapai jika cakupan vaksinasi secara menyeluruh mencapai minimal 70 persen. Sementara itu untuk cakupan vaksinasi di Aceh, berdasarkan data dari situs vaksin.kemkes.go.id per 18 Februari 2022, dosis pertama sudah mencapai angka 89,63% dengan total individu 3.611.107; dosis kedua 44,69% dengan total individu 1.800.499; dan dosis ketiga 2,13% dengan total individu 85,786.

“Adapun yang menjadi sasaran vaksinasi di Aceh sebanyak 4 juta lebih individu yang meliputi tenaga kesehatan, lanjut usia, petugas pelayanan publik, masyarakat rentan dan masyarakat umum, dan anak-anak dengan usia rentang 12—17 tahun,” kata Hady saat memberikan materi dalam workshop Jurnalisme Warga dengan tema ‘Memperluas Literasi Kesehatan Melalui Praktik Jurnalis Warga’, di Aula PKBI Aceh, Banda Aceh, Sabtu, 19 Februari 2022.

Jika dilihat dari persentasenya, kata Hady, untuk target individu lanjut usia sebagaimana mengacu pada data Kemenkes, yang mendapatkan vaksin dosis dua masih berkisar pada angka 34,47 persen, sehingga perlu atensi semua pihak dalam meningkatkan capaiannya. Umumnya, para lansia yang termasuk dalam kelompok rentan mengalami kendala baik dalam mengakses informasi mengenai program vaksinasi maupun dalam mengakses lokasi vaksinasi.

“Ada tujuh indikator kerentanan subpopulasi kelompok rentan akan Covid-19. Pertama, individu tanpa akses terhadap pelayanan kesehatan yang memadai dan mumpuni, termasuk yang tidak memiliki asuransi kesehatan,” kata dokter yang bertugas di Klinik PKBI Aceh sekaligus akademisi Universitas Abulyatama Aceh ini.

Selanjutnya, individu dengan status sosial ekonomi rendah, baik dalam hal penghasilan, tingkat pendidikan, atau jenis pekerjaan seperti buruh harian/lepas maupun yang bekerja di sektor informal. Berikutnya, individu dengan penyakit penyerta (komorbid), terutama yang terbukti sebagai pemberat, seperti mengidap diabetes, hipertensi, gagal ginjal kronis, penyakit jantung, atau gangguan pernapasan.

Indikator selanjutnya adalah kelompok demografi dengan relasi kuasa yang rendah, seperti halnya lansia, anak-anak, dan perempuan. Begitu juga dengan individu yang mengalami ketersisihan sosial berdasarkan agama/kepercayaan, disabilitas, etnis/suku, gender/seksualitas, satus HIV/AIDS, serta kewarganegaraan.

“Termasuk juga individu yang tinggal di wilayah 3T, yaitu tertinggal, terpencil, dan terluar. Terakhir, para individu yang tidak mampu melaksanakan praktik 5 M, termasuk tanpa akses ke air bersih dan sanitasi yang memadai serta padat penduduk, tinggal di hunian yang sempit atau institusi sosial dengan ruang privat yang terbatas, seperti penghuni lapas, pencari suaka atau pengungsi,” katanya.

Jika ditilik dari persoalannya, ada beberapa hal yang membuat cakupan vaksinasi pada kelompok rentan belum optimal, seperti hambatan administrasi karena ketiadaan dokumen identitas hukum atau kependudukan (KTP), hambatan finansial, hambatan infrastuktur, hambatan akses informasi sehingga mudah terpengaruh pada informasi-informasi liar yang disebarkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, serta hambatan sosial dan perilaku seperti rendahnya keinginan untuk mengakses layanan kesehatan sehingga tidak mendapatkan informasi yang jelas mengenai Covid-19 maupun program vaksinasi.

Ia berharap semua pihak, khususnya para jurnalis warga bisa membantu menyampaikan informasi yang valid kepada masyarakat, terutama pada kelompok-kelompok rentan sehingga timbul kesadaran secara sukarela untuk mendapatkan vaksinasi.

“Upaya terkecil yang bisa kita lakukan misalnya dengan membawa orang tua kita yang sudah lansia ke tempat-tempat vaksinasi,” kata Hady.

Koordinator kegiatan ini, Ihan Nurdin, mengatakan workshop ini diikuti sepuluh peserta dengan beragam usia dan latar belakang. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) serta PKBI Aceh dan Perempuan Peduli Leuser.

Ihan mengatakan peran warga dalam mengedukasi sesama sangat dibutuhkan untuk meningkatkan cakupan vaksinasi di Aceh. Dengan semakin memperluas literasi kersehatan di level akar rumput diharapkan misinformasi terkait vaksinasi bisa diminimalisir. Nantinya para jurnalis warga tersebut akan menuliskan atau membuat konten-konten yang menyuarakan suara masyarakat terkait va Pooksinasi Covid-19.[](rilis)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya