Jumat, Juli 19, 2024

Ini Kata Camat Tanah...

ACEH UTARA - Pemerintah sedang melakukan pendataan bangunan yang rusak akibat diterjang badai...

JPU Tuntut Lima Terdakwa...

BANDA ACEH - Jaksa Penuntut Umum menuntut empat terdakwa perkara dugaan korupsi pada...

Abu Razak Temui Kapolda,...

BANDA ACEH – Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh H. Kamaruddin...

Diterjang Badai, Lapak Pedagang...

ACEH UTARA - Banyak lapak pedagang dan warung di sepanjang jalan Simpang Rangkaya,...
BerandaInspirasiMengenal Pentasagoe yang...

Mengenal Pentasagoe yang Tampil Virtual di Taman Budaya

Pentasagoe adalah nama sebuah panggung, sekaligus juga sebagai nama sebuah lembaga kebudayaan kecil non formil. Lembaga ini memfokuskan diri untuk membuka ruang kepada kesenian, seniman serta kelompok seni yang dianggap berpontensi.

Kelompok yang diberi ruang yang masih tersembunyi di bergagai sudut (bahasa Aceh;sagoe) bersebab termarginalkan oleh cara pandang suatu kebijakan maupun oleh suatu keadaan.

Pada suatu kesempatan, pimpinan Pentasagoe, M.Yusuf Bombang (Apa Kaoy) menuturkan tentang lembaga ini. Pentasagoe hadir saat Aceh masih porak-poranda dalam segala hal, termasuk kebudayaannya, bersebab konflik politik berkepanjangan serta gempa-tsunami yang melandanya.

2005

Maka setelah diumumkannya hasil MoU Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005, berselang tiga hari kemudian, dari pengumuman yang menggembirakan itu, tepatnya pada tanggal 18 Agustus 2005, acara pentasagoe diadakan untuk pertama kalinya dengan membuat sebuah panggung kecil di sudut kiri belakang gedung utama Taman Budaya Aceh.

Alasan dibuatnya sebuah panggung kecil di sudut kiri belakang gedung Utama Taman Budaya adalah karena dalam gedung Utama Taman Budaya masih ditempati oleh tentara (TNI BKO), serta di Gedung Terbuka dan Pentas Halaman Taman Budaya masih ramai para pengungsi, koban gempa-tsunami, yang menempatinya.

Sejak tanggal 18 Agustus 2005 tersebut acara pentasagoe berlangsung rutin di panggung kecil sudut kiri belakang Gedung Utama Taman Budaya setiap malam Minggu hingga beberapa tahun kemudian, tanpa ada tercantum nama sponsor ataupun donatur di spanduk atau backdrop acara.

Setiap pengisi acara tidak diberikan honor, tapi hanya sekedar uang minum atau uang transport. Demikian juga halnya kepada teman-teman yang membantu bekerja, bahkan ada beberapa teman yang rela tidak diberikan uang sama sekali.

Sekira hampir dua tahun kemudian acara pentasagoe berpindah ke panggung halaman Taman budaya. Namun karena Apa Kaoy sering pergi ke luar Banda Aceh berminggu-minggu, bahkan kadang berbulan, ikut bersama tim beberapa NGO asing maupun lokal yang membantu Aceh pasca konflik, gempa dan tsunami, maka untuk menjalankan pentasagoe pernah dia percayakan kepada beberapa teman.

Namun kemudian, karena pentasagoe berjalan kurang sesuai dengan konsep semula maka dia berkesimpulan untuk menghentikannya sementara waktu. Kevakuman itu sempat berlangsung hingga beberapa tahun.

2009

Sekitar akhir tahun 2009 pentasagoe berpindah ke tempat baru, dengan menyewa tanah kosong dan membangunnya sendiri secara perlahan sejak awal 2007 lengkap dengan warung kopi dan wifi sebagai sarana pendukungnya, di Lampaseh Kota Banda Aceh.

Selama di Lampaseh Kota acara pentasagoe kembali berlangsung, namun tidak serutin saat di Taman Budaya karena keterbatasan dana yang dia miliki. Selama di Lampaseh Kota acara pentasagoe pernah dua kali acara didukung oleh Disbudpar Kota Banda Aceh (saat itu Kadisnya adalah Reza Fahlevi).

Untuk tujuan berbagi pengalaman serta menumbuhkan rasa percaya diri kepada seniman maupun kelompok seni yang masih termaginalkan seperti tersebut di atas maka pentasoe kadang-kadang juga menghadirkan seniman maupun kelompok seni yang sudah banyak pengalaman atau sudah profesional, baik yang ada di Aceh, luar Aceh bahkan luar negeri.

Seniman Profesional Hadir

Sebagai contoh, pentasagoe pernah menampilkan Agam Hamzah (pemusik Nasional asal Aceh yang menetap di Jakarta). Menghadirkan Natsuko Tezuka (penari kompemporer Jepang) untuk berkolaborasi dengan beberapa seniman dan kelompok seni Aceh. Menghadir seniman dari Medan, Bali, Jakarta dan lain-lain.

“Sejak awal kehadiran hingga sekarang pentasagoe alhamdulillah sudah banyak seni, kesenian dan kelompok seni yang sebelumnya tersembunyi atau tersembunyikan seperti tersebut di atas yang terekspos atau terorbit ke permukaan. Sebagai contoh, kelompok seudati cilik Syeh Dani dari Aceh Utara dan lain-lain,” kata Apa Kaoy.
Memihak Kelompok Termarginalkan

Selain lebih fokus pada kesenian, seniman dan kelompok kesenian yang termaginalkan seperti tersebut di atas, pentasagoe juga pernah membuat acara-acara bentuk kepedulian sosial. Di antaranya adalah Doa bersama dari Aceh untuk korban gempa-tsunami Jepang pada Maret 2011.

Kemudian, pada bulan berikutnya mengadakan Lomba Melukis dan Menulis Puisi dari Anak-Anak Aceh untuk Anak-Anak Jepang korban gempa-tsunami. Dan Lukisan serta puisi dari anak-anak Aceh tersebut dikirim langsung kepada anak-anak korban gempa-tsunami Jepang melalui sebuah Lembaga Kemanusiaan di Jepang, Tono Magokoro Net. Yang bahwa menurut kabar, lukisan-lukisan dan puisi-puisi tersebut sering di pamerkan di sekolah-sekolah pada moment-moment acara peringatan tsunami dan masih disimpan hingga sekarang.

Biaya penyelenggaraan dan pengiriman lukisan-lukisan dan puisi-puisi tersebut adalah dari hasil pelelangan dua lukisan Said Akram yang masing-masing saat itu, dalam Acara Pengumuman Lomba Lukis dan Menulis Puisi serta Pelelangan Lukisan untuk Jepang, dimenangkan masing-masing oleh Muhamamad Nazar (Wagub Aceh saat itu) dan J. Kamal Farza (Penyair Aceh dan Pengacara). Kemudian beberapa bulan berikutnya pentasagoe juga mengadakan acara doa bersama untuk Syedara korban Bandang Tangse.

2015

Pertengahan tahun 2015, pemilik tanah, tempat pentasagoe berdiri di Lampaseh Kota, mengabarkan bahwa tanahnya akan dipakai sendiri dan tidak disewakan lagi. Maka sejak saat itu pentasagoe kembali vakum.

Setelah beberapa lama Apa Kaoy mengumpulkan uang dan mencari lokasi lain, namun tidak juga dia dapatkan lokasi yang cocok. Barulah pada menjelang akhir tahun 2015 Apa Kaoy mendapat kabar bahwa Kantin Taman Budaya dalam keadaan kosong dan akan ditenderkan, maka dia pun berniat ikut.

Maka pada tanggal 10 Desember 2015 warung kopi yang diberi nama pensagoe coffee shop mulai dibuka Apa Kaoy. Sambil perlahan dia mempersiapkan untuk sekalian menjadi sebuah panggung kecil pentasagoe.

2016

Pada tahun 2016, Disbudpar Aceh melalui Taman Seni dan Budaya Aceh memberi sedikit dukungan dana untuk mengadakan acara pentasagoe, yang kemudian diminta dapat dijadikan 10 kali acara. Hal ini dilakukan agar lebih banyak dapat terekrut kesenian, seniman dan kelompok kesenian dari seluruh Aceh yang dapat terpantau oleh kami serta memenuhi kriteria seperti tersebut.

Meskipun sebelumnya di pentasagoe yang sangat sederhana tersebut telah diadakan beberapa acara kecil, namun kami menganggap malam inilah edisi perdana acara pentasagoe untuk tahun 2016.

Pada malam itu, selain kelompok kesenian dari Banda Aceh, juga kami hadirkan seorang seniman tutur dari Manggeng, pantai selatan Aceh, yang selama ini tersebunyi, luput dari pandangan kita, termaginalkan oleh suatu keadaan. Dia adalah Muda Balia, putra kandung, sekaligus murid langsung dari sang trobador Mak Lapee, gurunya Teungku Adnan PMTOH.

Nah, mari nonton Acara Pentasagoe  4 Oktober 2021, disiarkan secara virtual di Chanel Youtube Taman Budaya Aceh, pukul 20.30 WIB.[]

Baca juga: