Oleh: Reza Fahlevi*

Diskusi ringan di Cafe Tunah Kulak Jaya, yang kerap disingkat TKJ yang terletak di pinggir Kota Takengon, Aceh Tengah membuka cerita kunjungan saya kali ini ke Danau Laut Tawar, Aceh Tengah.

Menjadi narasumber di workshop agrowisata yang diselenggarakan Badan Perencana Pembangunan Daerah Provinsi Aceh di Takengon, menjadi tujuan utama saya mengunjungi dataran tinggi berhawa dingin ini. Setelah paparan dan diskusi selama dua jam dengan peserta dari empat kabupaten di wilayah tengah Aceh, perjalanan keliling danau eksotis ini menjadi tujuan tambahan.

Tepat pukul 14:45 WIB, saya bersama rombongan yang terdiri dari Kepala Dinas Pariwisata Aceh Tengah Pak Subhan Sahara, Pak Made yaitu pegiat agrowisata dari Bali, dan beberapa sahabat dari Banda Aceh menuju pelabuhan kapal Danau Laut Tawar.

Selanjutnya bisa ditebak, kami berkeliling danau dengan menumpangi kapal wisata berkapasitas 35 orang yang dikomandoi kapten kapal bernama Muslim. Perlahan kapal mulai bergerak meninggalkan bibir danau. Di dalam kapal, sembari menikmati panorama alam yang indah dan udara yang sejuk, kami berbincang santai. Pak Subhan banyak bercerita tentang potensi wisata Danau Laut Tawar. Segala potensi ia gambarkan dengan jelas.

Saya dan penumpang lainnya menyimak dengan baik, diam tanpa berkomentar. Namun dalam pikiran ini terus berpikir tentang langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mempromosikan dan menjual wisata alam kepada publik dunia akan potensi betapa indahnya danau ini.

Mengelilingi Laut Tawar dengan menggunakan boat ini merupakan pengalaman pertama bagi saya. Sejak menginjakkan kaki pertama, saya sudah merasa takjub, semangat yang muncul rasanya tak terbendung untuk mencicipi sekeping keindahan di tanah Gayo ini.

Sang kapten kapal, Muslim, dengan gamblang menjelaskan rute-rute yang kami lalui. Mulai dari kawasan danau terdangkal sampai yang terdalam kami lalui dengan boat. Udara yang sangat sejuk terasa begitu segar, memanjakan indera kami yang menghirup aroma alamdi bumi tengah Aceh.

Dalam perbincangan bersama rekan-rekan tentang potensi besar wisata danau ini membuat semangat baru untuk berbagi cerita usai kunjungan kali ini. Di antara riak air danau dan hijaunya alam sekitar hati ini berbisik perlahan, untuk segera mewujudkan cita-cita dan harapan menjadikan Aceh Tengah dengan Danau Laut Tawarnya sebagai salah satu tujuan Wisata Halal Aceh.

Potensi danau yang masih asri dengan pemandangan yang sangat memanjakan mata ini, tidak sedikitpun membuat mata lelah dan mengantuk meski istirahat saya hari ini hanya tiga jam. Siapa pun pasti akan terpesona pada hijaunya air danau, pada hijaunya pemandangan danau dengan pegunungan dan bukit-bukit yang asri ditumbuhi pohon cemara dan kopi. Membuat saya betah berlama-lama berada di danau ini.

Dan rasanya waktu terlalu singkat untuk menikmati keindahan danau ini, kamupun tiba di akhir perjalanan. Saya berharap bisa kembali mengulangi perjalanan berkesan ini. Dan di akhir cerita ini saya ingin menyampaikan dan berbagi kepada sahabat semua untuk datang dan berkunjung ke Aceh Tengah.

Mari ke Laut Tawar, berkelilinglah dengan kapal yang dikomandoi Pak Muslim, ada banyak hal indah yang hanya bisa dirasakan tanpa bisa kita ceritakan seperti apa rasanya. Akan sangat rugi jika sampai ke Aceh Tengah tanpa berkeliling Laut Tawar untuk menghirup udara segar dari sepotong keindahan di Tanah Aceh ini.[]

Penulis adalah Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh