Senin, Juli 22, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaMenimbang Pendidikan Anak...

Menimbang Pendidikan Anak Perempuan

Oleh Taufik Sentana*

Penulis membatasi kalimat “anak perempuan” dalam makna selama ia dalam pendidikan (termasuk pengawasan) kedua orangtuanya. Sebab, setelah ia dinikahi maka beban tanggung jawab terhadapnya dibebankan di pundak suami. Batasan ini juga berdasarkan tinjauan bahwa beragam kasus yang merendahkan perempuan, melecehkannya  sangat rentan pada usia kecil hingga remaja dan dewasa awal.

Ada banyak sekali berita tentang penyimpangan  perilaku (baca: penyakit sosial) yang melibatkan anak perempuan, seperti perdagangan perempuan dan dunia gelap perzinaan (na'uzubillah).

Di sini kita ingin melirik dari tanggung jawab orang “dewasa” terhadap mereka lewat pengaruh pendidikan di keluarga, sekolah dan masyarakat. Pemerintah sepertinya telah memiliki niat baik akan hal ini lewat lembaga-lembaga berorientasi pada perlindungan anak atau lembaga pemberdayaan perempuan. Termasuk juga LSM sejenis, yang umumnya hanya berkaca dari perspektif “barat”, lewat  feminimisme dan kesetaraan gender atau berafiliasi langsung ke badan internasional.

Merekonstruksi ikatan sosial kita

Beberapa kasus yang mendiskreditkan perempuan, pada mulanya tentu membuat hati kita miris, was-was dan bingung. Kasus besar “perdagangan perempuan”, misalnya, menyisakan luka perih bagi pendidikan syariah kita, meskipun pendidikan itu bukan sekolah dan kampus semata. Ada banyak motif, variabel dan ikatan sosial kita yang mesti direkonstruksi di tengah gelombang pergeseran nilai dalam kebudayaan kita.

Pergeseran nilai itu di antaranya, celah pergaulan bebas muda-mudi, perkembangan TIK yang “pincang” dan budaya konsumerisme, gaya hidup  tinggi serta industri hiburan yang hedonis penuh bujukan iklan, “suatu realitas semu” kata sebagian pakar. 

Pergeseran nilai inilah yang kemudian menjadikan anak-anak  yatim/piatu sebelum waktunya. Di mana anak-anak tersebut telah tercerabut dari ritme keluarganya (yang diisi dialog monoton, menurut psikolog Unimal, Hafnidar) ke ritme sosial yang penuh warna dan tawaran baru.

Setiap anggota masyarakat, lembaga formal dan lembaga keluarga hendaknya dapat tersadar dari hanya merasa was-was, bingung, saling menyalahkan bahkan abai. Menuju ke sikap yang lebih adil, (walaupun kalimat “yang penting kita jaga anak kita” memang terkesan arif) karena dalam kultur lokal kita yang berbasis Islam, sangat menekankan kerja sama, saling menasihati dan mendorong semangat perbaikan.

Ajaran Islam juga menujukkan bahwa adakalanya doa kita tak terkabulkan karena merebaknya dosa sosial seperti judi, zina, dsb., tanpa ada upaya serius untuk menolak dan mencegahnya. Ini mengisyaratkan betapa penting membangun sistem nilai masyarakat kita dengan “ta'awun 'alal-birri” dengan rasa solidaritas yang tinggi.

Langkah tidak populer yang diambil Bupati Bireuen, misalnya, menjadi buah bibir (yang pahit untuk sebagian) dan menjadi isu di media massa nasional. Imbauan batasan pergaulan untuk perempuan tersebut bila sesuai porsinya dan sejalan dengan bentuk interaksi lain (berboncengan dengan lawan jenis yang bukan mahram), tentu akan berdampak positif di kemudian hari bila tersosialisasi dengan baik dan disepakati secara kolektif.

Adanya sikap kontra perlu disikapi dalam diskusi yang bijak dengan mengesampingkan arti “kebebasan” semata, repot kiranya bila kata “kebebasan” ini digunakan dengan bebas tanpa filter religi yang menjadi nilai lokal dan keyakinan kita di Aceh.

Mempertimbangkan lima hal berikut:

Dalam mengedepankan pendidikan dan pemeliharaan perkembangan kepribadian anak perempuan, sebagaimana maksud dari judul di atas, akan penulis sampaikan beberapa gagasan kecil yang kiranya bermanfaat untuk dipertimbamgkan.

Pertama, pendidikan rasa malu

Mengenalkan batasan paling umum ke batasan paling sensitif, seperti aurat. Inilah langkah dasar memelihara marwah dan iffah seorang perempuan. Sekolah-sekolah formal juga hendaknya menghidupkan jargon malu ini. Karena agama kita menyebutnya “separuh iman”, separuhnya lagi saat seorang perempuan menikah dengan kualitas calon suami yang sepadan untuk melengkapi separuh agamanya tadi.

Kedua, prinsip kontrol sosial

Sehebat apapun bangunan dasar kepribadian di tengah keluarga, akan menjadi rapuh dan tak bermakna bila kontrol sosial kita lemah. Kelemahan ini awalnya karena sikap abai dan individualis. Ada banyak celah pergaulan dan ruang publik yang tak terakses oleh keluarga secara langsung. Disinilah peran utama pemerintah dalam membangun tatanan sosial yang ramah bagi anak perempuan tanpa membatasi interaksinya yang normatif.

Ketiga, mewanti teman bergaul

Walaupun bukan jaminan, teman bergaul dapat memberikan beragam warna yang tak dikenal anak dalam keluarganya. Nabi kita juga mengisyaratkan, bisa saja seseorang akan mengikuti keyakinan agama temannya. Keterangan ini menekankan kepada kita bahwa orangtua memiliki akses yang terbatas terhadap aktivitas anaknya di luar rumah. Dengan mempertimbangkan poin ini akan mengurangi dampak negatif yang mungkin memengaruhi anak perempuan.

Keempat, dalam komunitas produktif

Sebagai makhluk sosial, memiliki ruang interaksi yang sejalan untuk eksistensi diri dan membangun tanggung jawab sosial, sangat baik bila anak perempuan dan remaja kita terlibat dalam ragam komunitas produktif yang berpotensi memberikan dampak positif dan membangun karakternya.

Kelima, Keluarga tempat “kembali” yang baik

Adalah penting memberikan porsi yang agak longgar dan luas bagi keluarga. Karena keluarga adalah awal unit sosial yang dialami si anak, dan kepadanya pula ia kembali selepas aktivitas hari-harinya menguras pikiran, emosi dan fisiknya. Meskipan si anak berjauhan, ayah-ibunya masih bisa menghubunginya dengan media yang tersedia sekarang. Di rumah, sangat baik rasanya bila menghidupkan ritual di keluarga dari bercerita, berbagi hadiah, bermusyawarah, majelis belajar, beribadah bersama dan rangkaian kegiatan lainnya yang bisa menhubungkan dan mengikat hati antaranggota keluarga.

Demikianlah lima hal yang perlu kita pertimbangkan dalam membantu perkembangan pendidikan anak perempuan, yang sejatinya menjadi tanggung jawab bersama dari orang dewasa di sekitar anak, warga sekolah, masyarakat dan lembaga pemerintah.[]

*Taufik sentana, staf Ikatan Dai Indonesia Aceh Barat. Praktisi pendidikan Islam. Sedang mengembangkan layanan program pengembangan SDM untuk komunitas dan personal.

Baca juga: