Menjadi Penyair: Aku, Buku, Sastera, Pustaka
Karya: Thayeb Loh Angen
Penyair dari Sumatra
Aku dari Sumatra, tanah para penyair
kampungku di Paloh Dayah, Lhokseumawe
sebelumnya, kota ini disebut Teluk Samawi
berhadapan Bandar Sumatra, di sisi timurnya
Tahun itu, sekira Dua Ribuan Masehi
aku ke pustaka kotaku
sepi
aku mencari buku-buku penyemangat hidup
puisi, sastera, berbicara, sejarah, niaga
kutemukan beberapa, kubawa pulang sementara
Kala itu, negeriku masih berperang
aku salah seorang di dalamnya
aku ini tentara, tapi aku ingin menjadi penyair
Aku ke kedai-kedai buku
satu-dua ada kitab sastera
kubeli, kubawa pulang, kubaca
Inilah yang terjadi setelahnya.
Banda Aceh, 22 November 2023.
Thayeb Loh Angen
Penyair dari Sumatra.
Catatan:
Ini adalah puisi yang kutulis pada tahun 2001.
Bocah-Bocah Terpaku
Karya: Irfan Maulana
Bocah-bocah terpaku pada hampa
Mama, bapapakku di mana
Dan janda muda dibelai kasih tersisa
Anakku, bapakmu air mata.
Disiarkan di rubrik Kakilangit Majalah Sastera Horison, terbitan 25 September 2001.
Irfan Maulana adalah nama Thayeb Loh Angen saat itu. Saat mengirimkan puisi tersebut, aku sudah menjadi Anggota GAM (Gerakan Aceh Merdeka)–sebenarnya nama organisasi itu adalah Acheh Sumatra National Liberation Front (ASNLF), GAM adalah istilah yang sesebutkan oleh media massa pada tahun-tahun 2000-an.
Saat itu, aku sudah dua kali ikut latihan GAM. Latihan pertama pada tahun 1999 menjadi teuntra sagoe Tjot Kupula, latihan kedua pada tahun 2000 menjadi anggota Pom (Polisi Militer atau Bentara Milite) Daerah I Wilayah Samudra Pase (Aceh Utara-Lhokseumawe), setelah itu pada tahun 2003 aku ikut latihan sekali lagi, menjadi pelatih dari koorp Polisi Militer GAM.
GAM sangat anti terhadap bahasa Indonesia, untuk menguatkan nasionalisme Aceh-aku diajarkan cara menulis bahasa Aceh juga–tahun 2000.
Sementara itu, pada waktu bersamaan, aku mempelajari sastera Melayu/Indonesia. Saat itu aku juga membaca buku karya Ajib Rosidi, “Kapankah Kesusasteraaan Indonesia Lahir”. Dia menyebutkan bahasa Indonesia berasal dari bahasa Jawi yang dibangsakan kepada Pasai (bukan Melayu Riau).
Bahasa Jawi yang dibangsakan kepda Pasai lebih tua dan sempurna, yang sasteranya dikembangkan di masa Hamzah Fansuri, sementara Raja Ali Haji di Riau, sekira dua ratus tahun setelahnya.
Hidup di dalam dua dunia demikian (sebagai tentara GAM yang membenci bahasa Indonesia sekaligus sebagai penyair yang bahasa tersebut adalah andalannya), membuatku menjadi orang aneh. Ke manapun aku pergi saat itu, aku selalu membawa buku baca dan buku tulis.
Orang-orang mungkin menganggap aku sudah gila, atau itu penyamaran. Namun, sebenarnya, yang mereka tidak tahu; Setan alas, aku bersungguh-sungguh. Kesungguhanku sampai kukirimkan puisi ke Majalah Sastera Horison.
Aku tidak tahu, siapa orang Aceh lainnya yang karya sasteranya pernah disiarkan di Majalah Sastera Horison walaupun di Rubrik Kakilangit.
Oiya, setelah itu aku punya sahabat pena dari Cipeundeuy, Jawa Barat, dan dari Sungailiat, Bangka Belitung.
Perang semakin berkecamuk. Aku pun kehilangan alamat dan nama mereka.
Banda Aceh, 22 November 2023
Thayeb Loh Angen
Penyair dari Sumatra.[]








