Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Dekan Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe, dan salah seorang Pimpinan Dayah Ma’had Ta’limul Qur’an (Mataqu) Ustman Bin Affan Lhokseumawe.
Allah mengabadikan kisah perlakuan masyarakat Madinah atas saudara mereka kaum Muhajirin yang eksodus dari Mekkah karena terusir oleh kebiadaban pemuka musyrikin Quraish. Dalam Alquran Allah berfirman, (yang artinya) “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”, (al-Hasyr: 9).
Ayat di atas menjelaskan kepada kita bagaimana sikap orang-orang Madinah yang mengutamakan saudara mereka dari Mekkah, dalam hal-hal yang mereka sendiri sangat membutuhkannya. Masyarakat Madinah yang kemudian dikenal dengan kaum Anshar (penolong) benar-benar bersifat penolong yang sulit ditemukan dalam sejarah manapun. Apa yang mereka lakukan atas saudara-saudara mereka dari Mekkah dalam akhlak Islam dikenal dengan itsar. Yaitu kasta akhlak tertinggi yang bisa dimiliki oleh seseorang karena mendahulukan orang lain dari dirinya sendiri, meskipun apa yang diberikan, ia sendiri juga membutuhkannya. Akhlak itsar ini biasa ditemukan pada seorang ibu yang memberi kepada anak-anaknya dan mendahulukan mereka dari dirinya sendiri tanpa menghitung-hitung, sepenuh hati dan secara totalitas.
Kalau kita tidak mampu membantu masyarakat Rohingya dan memperlakukan mereka seperti layaknya masyarakat Madinah bersikap atas imigran Muhajirin Mekkah, maka pandanglah mereka sebagai manusia yang butuh perlakuan layak sesuai dengan kemanusiaannya. Apalagi mereka bukan hanya sekelompok manusia, tetapi lebih dari itu, mereka adalah kaum muslimin yang terusir dari kampung halaman mereka.
Allah berfirman, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara”, (al-Hujurat: 10).
Mereka adalah saudara kita, jika kita benar-benar merasa seiman dan sekeyakinan dengan mereka. Dalam ayat lain Allah menjelaskan bagaimana harusnya seorang mukmin bersikap kepada mukmin yang lain, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”, (al-Fath: 29).
Allah menginginkan umat Islam hendaknya berkasih sayang sesama mereka, tanpa melihat ras, suku, dan warna kulit. Hanya Islam dan iman yang harus menjadi tolak ukur dalam berinteraksi sesama muslim, dan karena itu pula umat ini bersaudara, sebagaimana firman Allah, “Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu dengan nikmat tersebut, orang-orang yang bersaudara”, (Ali ‘Imran: 103).
Tidak hanya sesama Islam, jika bicara soal kemanusiaan, manusia seluruhnya setara di mata Allah Swt. Tidak ada istilah si Anu lebih baik dari si Ani. Allah menegaskan dalam Alquran, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu”, (al-Hujurat: 13).
Rasulullah bersabda “Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian satu, bukankah tidak ada lebihnya orang Arab atas non Arab (‘Ajam), begitu juga sebaliknya, tidak ada istimewanya orang kulit merah ke atas orang berkulit hitam, begitu juga sebaliknya, kecuali karena ketakwaan”.
Dalam riwayat lain nabi bersabda, “Semua manusia dari Adam, dan Adam dari tanah”, (HR: Baihaqi).
Ayat dan hadis di atas semuanya menjadi prinsip bagaimana hendaknya kita memperlakukan orang lain, apakah mereka seagama atau tidak, terutama orang-orang yang datang meminta bantuan dan perlindungan kita.
Perhatikan firman Allah berikut ini, “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya”, (al-Taubah: 6).
Hayatilah dengan baik ayat di atas, jika seorang musyrik datang minta perlindungan (suaka), maka berilah suaka kepada orang tersebut. Hari ini yang datang ke Aceh bukan orang Musyrik, tetapi orang Islam, orang-orang yang seiman dan seagama dengan kita.
Kalau masyarakat nonmuslim saja harus dilindungi, lalu bagaimana lagi jika yang datang meminta perlindungan adalah sesama muslim. Bukankah dalam sebuah hadis nabi pernah bersabda, “Seorang perempuan dihukum pada hari kiamat, hanya gara-gara membiarkan seekor kucing kelaparan”, (HR: Bukhari).
Ayat dan hadis di atas harusnya menjadi renungan kepada semua saat kita dihadapkan pada masyarakat muslim Rohingya yang hari ini datang meminta bantuan dan perlindungan dari kita.
Sikap mengusir paksa sebagaimana ditunjukkan oleh sebagian warga Aceh, terutama yang dilakukan sejumlah mahasiswa adalah perbuatan yang jauh dari nilai akhlak dan terkeluar dari ciri masyarakat beradab. Semoga Allah selalu membimbing kita pada jalan-Nya yang lurus.[]






