LOMBOK – Lombok berduka dan hampir lumpuh setelah dua gempa besar mengguncang wilayah ini pada Minggu, 29 Juli 2018 dengan kekuatan 6,4 SR, dan 7 SR, Minggu, 5 Agustus 2018. BMKG merilis sampai 13 Agustus 2018 pukul 10.00 WITA tercatat sebanyak 593 gempa susulan terjadi di Lombok.
Kebanyakan gempa susulan yang terjadi tidak besar, terasa hanya seperti getaran atau goyangan kecil. Namun satu gempa susulan yang terjadi pada hari Kamis, 9 Agustus 2018, terasa cukup besar. “Gempa dengan kekuatan 6,2 SR, mengejutkan Tim Bedah MER-C yang saat itu sedang melakukan tindakan operasi pada pasien korban gempa di lantai 4 RSU Provinsi Mataram, setelah dinyatakan aman untuk digunakan,” demikian keterangan Divisi Humas MER-C, 14 Agustus 2018.
Gempa membuat para dokter dan pasien panik, bahkan sampai ada yang berlarian. Pelayanan medis di RSU ini akhirnya dihentikan dan dipindahkan ke tempat lain yang lebih aman. Gempa susulan diperkirakan akan terus terjadi hingga beberapa waktu ke depan.
Pemerintah Indonesia menetapkan status bencana gempa Lombok, NTB, sebagai bencana daerah. Terlepas dari kontroversi penetapan status bencana ini, MER-C Indonesia sebagai lembaga kemanusiaan di bidang kegawatdaruratan medis dan kebencanaan telah menurunkan Tim Nasional untuk memberikan pertolongan kepada para korban dan melakukan assessment.
Berikut hasil temuan dan pengamatan Tim MERC di lapangan untuk menjadi rekomendasi bagi pemerintah dan elemen lain terkait dengan penanganan gempa pada fase akut:
1. Assessment kelayakan bangunan seharusnya dilakukan pada Fase Rehabilitasi untuk menyatakan apakah bangunan tersebut akan dipertahankan atau diruntuhkan, bukan pada Fase Akut dan menyatakan bahwa bangunan aman untuk relawan bekerja, sementara gempa belum berakhir. Hal ini dapat membahayakan upaya pertolongan, berdasarkan pengalaman Tim Bedah MER-C di RSU Provinsi Mataram;
2. Pada fase akut, pelayanan kesehatan pasca bencana seharusnya tidak menggunakan gedung yang terkena gempa atau gedung yang berada di lokasi gempa. Pelayanan kesehatan dilakukan di luar gedung, RS Lapangan atau container. Apabila tetap akan bekerja di dalam gedung agar memperhatikan 3 hal:
a. Bangunan memiliki akses evakuasi yang mudah
b. Fasilitas medis memadai
c. Bangunan terdiri dari satu lantai dan struktur atap aman
Kedua hal di atas kami harapkan dapat menjadi SOP Nasional untuk penanganan bencana gempa pada fase akut dalam rangka keamanan dalam pemberian pertolongan.
Masalah Gempa Lombok setelah fase akut
Gempa yang terjadi di Lombok menyebabkan lebih dari 90% rumah hancur khususnya di Lombok Utara, ratusan jiwa menjadi korban, ribuan lainnya menderita luka-luka dan ratusan ribu masyarakat menjadi pengungsi. Jumlah ini diperkirakan masih akan terus bertambah seiring masih banyak wilayah gempa yang belum terjangkau tim penolong dan bantuan.
Karakter masyarakat setempat yang tidak berkumpul di satu titik pengungsian melainkan memilih mendirikan tenda seadanya di dekat reruntuhan rumah mereka, membuat titik pengungsian menyebar dan penyaluran bantuan belum merata. Masih banyak korban luka yang bertahan di rumah-rumah mereka
Gempa susulan yang masih terus terjadi dan besarnya dampak bencana gempa kali ini, akan memunculkan problem yang harus diantisipasi bersama setelah fase akut. Yakni, masalah distribusi bantuan, aksesibilitas kesehatan,
faktor gizi, tempat hunian sementara, dan evakuasi jenazah
Misi jangka panjang
Merespons bencana gempa bumi Lombok, MER-C Indonesia telah menurunkan Tim Nasionalnya untuk tanggap bencana dan melakukan pertolongan medis dan tindakan operasi. MER-C bahkan menetapkan Lombok sebagai wilayah misi kemanusiaan jangka panjang.
Hingga 14 Agustus 2018, MER-C telah menurunkan 31 relawan dengan rincian 6 dokter spesialis, 12 dokter umum, 5 perawat, dan 8 relawan non medis. Kamis/16 Agustus 2018 akan dikirimkan tim lanjutan yang terdiri 10 relawan medis dengan berbagai keahlian untuk mendukung program kemanusiaan MER-C di Lombok. Pengiriman Tim akan terus dilakukan secara rolling dan terjadwal hingga beberapa bulan ke depan.
Sementara data yang masuk sampai dengan hari Sabtu, 11 Agustus 2018, Tim Bedah MER-C telah melakukan 14 tindakan operasi dan Tim mobile clinic telah melayani 505 pasien korban gempa dengan menyusuri desa-desa yang belum tersentuh bantuan di Lombok Utara.
Pada fase akut MER-C membentuk 4 tim kecil. Yakni, Tim Mobile Clinic untuk melakukan case finding, fokus di Lombok Utara; Tim Rujuk Balik dan Kontrol untuk mengawasi perawatan pasien di tempat penampungan sementara; Tim Perawatan Pasien Bangsal; dan Tim Bedah, saat ini bertugas di RSUD Awet Muda, Narmada Lombok Barat.
Untuk mendukung kerja medis di lapangan, Senin, 13 Agustus 2018 malam, MER-C mengirimkan satu truk berisi bantuan medis dan kemanusiaan untuk Lombok diantaranya tenda-tenda dan peralatan guna pembukaan RS Lapangan di Lombok Utara. MER-C juga mengirimkan kendaraan operasional berupa satu unit ford ranger dan dua unit motor trail untuk memperluas jangkauan mobile clinic MER-C.[](*)






