Selasa, Juli 23, 2024

Dinkes Gayo Lues Keluhkan...

BLANGKEJEREN - Dinas Kesehatan Kabupaten Gayo Lues mengeluhkan proses pencairan keuangan tahun 2024...

H. Jata Ungkap Jadi...

BLANGKEJEREN – H. Jata mengaku dirinya ditunjuk Menteri Dalam Negeri (Mendagri) menjadi Pj....

Bandar Publishing Luncurkan Buku...

BANDA ACEH - Penerbit Bandar Publishing Banda Aceh meluncurkan sekaligus dua karya Dr....

Rombongan Thailand Selatan Kunjungi...

BANDA ACEH – Delegasi dari berbagai lembaga di Thailand Selatan mengunjungi Kantor Partai...
BerandaBatamMeski 16 Tahun...

Meski 16 Tahun Tsunami Telah Berlalu, Masyarakat Aceh di Batam Tetap Mengenangnya

Batam, portalsatu.com
Ahad pagi itu, tepat pada tanggal 26 Desember 2004. Sebuah musibah maha  dahsyat telah meluluhlantakkan bumi Aceh, Negeri yang dijuluki sebagai serambi Mekkah berduka, bencana dahsyat itu kita kenal dengan sebutan ‘Tsunami’.

Kuta Radja sebagai pusat kota Aceh yang merupakan salah satu kota tertua di Asia Tenggara pun harus merelakan separuh badannya hilang diterjang gelombang air laut yang hitam pekat serta beracun. Mayat bergelimpangan di sana-sini, bangunan sudah rata dengan tanah, kendaraan bertumpuk seperti sampah, semuanya hilang dalam waktu sekejap mata. Bahkan orang bertanya-tanya, apakah ini sudah kiamat?

Namun, peristiwa itu sudah berlalu, 16 tahun kita sudah melewati sebuah bencana yang begitu menyayat hati. Ini bukan hanya derita Aceh, ini juga merupakan derita Indonesia dan dunia. Yang merasakan sedih bukan hanya Masyarakat Aceh yang berdomisili disana, masyarakat Aceh yang berada di luar Aceh atau pun di luar Negeri juga merasakan hal sama, seperti halnya masyarakat Aceh di Batam.

Puing-puing bangunan di kota Banda Aceh memang sudah hilang, bahkan digantikan dengan gedung-gedung mewah yang jauh lebih indah dari sebelumnya. Namun, puing-puing kesedihan yang terbungkus kedukaan masih melekat di hati orang-orang Aceh, tak terkecuali masyarakat Aceh di Kota Batam.

Meskipun di tanah perantauan, tidak menutup kemungkinan kesedihan itu ada. Bagaimana tidak, bencana itu telah meluluhlantakkan tanah kelahirannya, tanah, tanah leluhurnya, atau bahkan tanah tempat menghembuskan napas terakhirnya.

Malam ini, tepat pada tanggal 26 Desember 2020, di Masjid Jabal Amni, yaitu salah satu Masjid di antara Masjid lain Masyarakat Aceh di Kota Batam, suara Zikir dan do’a terdengar dengan penuh khusyuk dan khidmat. Tetesan air mata pun berlinang dari beberapa jamaah yang ikut hadir dalam acara tersebut.

Acara ini memang tidak semata mata untuk mengenang tsunami, akan tetapi disandingkan dengan kegiatan maulid Nabi Muhammad SAW., dan momen ini diambil pada tanggal 26 bertepatan dengan mengenang Tsunami.

Disela-sela kegiatan yang begitu padat, pihak wartawan portalsatu menemui Nanggroe Sulaiman, salah satu tokoh masyarakat Aceh atau ketua Permasa Kepri yang telah banyak memakan asam garam di tanah perantauan ini untuk menanyakan perihal penting tentang peringatan acara tersebut.

Malam itu, Ketua Nanggroe (sapaan akrabnya) mengenakan jas biru berlogo Rencong dengan dilingkari tulisan ‘Permasa’ yang merupakan jas kebanggaan Paguyuban Aceh di Kota Batam dan Kepulauan Riau.

Beliau memberikan komentar tentang acara tersebut bahwa kegiatan mengenang Tsunami memang sudah menjadi kegiatan rutin tahunan masyarakat Aceh di Batam. Memang acara ini selalu disandingkan dengan kegiatan Maulid, jadi momen pada acara ini ada dua, perayaan Maulid dan mengenang Tsunami.

Khusus untuk mengenang Tsunami, acara ini  memang mengembalikan kita tentang sebuah musibah 16 tahun lalu. Bukan  berarti kita semata-mata larut dalam kesedihan dan lupa untuk menatap hidup ke depan. Akan tetapi, dari peristiwa yang menyayat hati itu, kita bisa untuk lebih dekat kepada sang Pencipta.

“Kita ambil hikmahnya, semoga kita lebih dekat kepada sang Pencipta. Konflik Aceh yang berkepanjangan dan belum usai waktu itu, dengan adanya Tsunami konflik itu berakhir dan kita berdamai. Mari kita jaga perdamaian itu untuk menata masa depan yang lebih baik lagi. Apalagi kita hidup di perantauan,” ucapnya kepada awak media

Disinggung tentang keluarganya yang menjadi korban, Nanggroe Sulaiman berhenti berucap, matanya mulai berkaca-kaca, dan sesaat  tatapannya kosong. Lalu setelah menghembus napas panjang dia mulai bersuara.

Nanggroe menceritakan bahwa keluarganya ada yang menjadi korban saat itu, salah satunya adalah abang kandungnya sendiri yang sampai sekarang belum diketahui dimana jasad lelaki itu. Awalnya memang berat melepaskan kepergian saudaranya itu, namun seiring berjalan waktu, rasa berat itu hilang berganti dengan sebuah keikhlasan yang begitu tulus dari hati yang paling dalam. Karena baginya, setiap manusia pasti akan kembali kepada sang Pencipta.

“Saya sudah mengikhlaskan kepergiannya, Semoga beliau dan semua masyarakat Aceh yang menjadi korban saat itu tenang di alam sana,” ujar lelaki berusia setengah abad itu mengakhiri pembicaraan.

Setelah mewawancarai Ketua Nanggroe, awak media portalsatu menemui Muhammad Jafar, yaitu ketua pelaksana acara malam itu. Dalam komentarnya, Jafar mengucapkan banyak banyak terimakasih kepada masyarakat Aceh yang sama-sama bahu membahu demi terlaksana acara ini yang memang sudah dipersiapkan selama tiga bulan yang lalu.

“Semoga kegiatan ini terus berjalan setiap tahun seperti sebelum – sebelumnya,” ucapnya singkat.

Sementara itu, ketua permasa Batam yaitu juanda juga ikut hadir dalam acara tersebut. Beliau duduk paling depan mendengarkan Tausiyah dari ustadz Idrus Ramli yang dikenal sebagai Singa Aswaja.

Meskipun dalam keadaan masih kurang sehat pasca operasi beberapa waktu lalu, Juanda menyempatkan hadir malam itu. Karena baginya, ini momen penting yang tidak bisa ditinggalkan, selama masih bisa bergerak untuk berdiri, beliau tetap hadir meskipun dalam keadaan yang  kesehatannya yang belum stabil.[]

Laporan: Yanis, dari Batam.

Baca juga: