Matamu kenangan waktu. Sebuah perjalanan ke suatu museum.setelah pagi dan siang yang kemarau. Seribu asa terjangkau. Di ujung jalan ada suara suara parau.

Tetiba ada jalan tol. Besi besi yang lebar dan kota kota yang terbakar. Malamnya lampu lampu menyala menyimpan kenangan.

Segala pikiran merayap.menjalar. merambat.membentuk lorong lorong pertemuan sakral. Mereka membentuk jendela jendela.

Tiang tiang museum dengan atap yang terbuka. Semua kenangan menjadi begitu singkat.[]

===

Taufik Sentana: Menulis puisi sejak 1994. Blogger produktif di kompasiana dan retizen dengan total 3000 artikel

Sangat interes terhadap puisi puisi metafisik-kontemporer, termasuk.esai sosial dan politik