Dalam satu potongan ayat suci disebutkan bahwa kaum beriman akan diuji dengan sesuatu yang menimpa mereka: _walanabluwannakum bisyai in minal ju' walkhauf,.._ 

Hanya saja, yang perlu kita garis bawahi adalah, bahwa semua yang ditimpakan itu hanya sedikit saja. Sedikit rasa takut, sedikit rasa lapar, sedikit kegagalan panen, kekurangan harta dan kematian. Ya, hanya sedikit dari kesemua yang pernah kita rasakan dari setiap kebaikan.

Sebagaimana sang nabi Ayyub bersabar atas ujiannya, sementara dia memandang bahwa kesenangan yang telah ia terima sebelumnya masih lebih lama daripada sakit dan musibah yang ia terima. Lalu ia bersabar dan Allah menggantikan keadaannya seperti sedia kala: harta, anak, pertanian dan kesehatannya dikembalikan Allah.

Lalu lihatlah bagaimana kita memandang diri kita sekarang. Bagaimana kita memandang musibah yang melanda kita. Walau bukan bermaksud meremehkan, kita telah teramat KACAU, sendi- sendi sosial dan ekonomi kita bahkan separuh dunia telah pincang.

Bila ujian dan musibah yang sedikit saja sudah sehebat ini dampaknya, bagaimana pula bila kita ditimpakan musibah yang lebih berat dan besar? Mungkin akan seperi umat sebelum kita, dimana tidak ada bekas sama sekali kecuali puing puing saja, seakan mereka tidak pernah tinggal disana.

Dan bisa saja yang menimpa kita ini akan lebih dahsyat, bila tak ada lagi orang orang yang beristighfar di setiap pergantian waktu.

Semoga Allah akan segera mengganti kesusahan kita dengan kelapangan yang membawa berkah. Aamiin.[]

Taufik Sentana
Praktisi pendidikan Islam