Kawasan Lhokseumawe, Aceh, diguyur hujan deras sejak seminggu terakhir. Namun, kondisi tersebut tidak mengendurkan semangat Heri menjual masker. Pemuda 35 tahun itu tetap menjual masker kain di Simpang BNI, salah satu jalur masuk ke Pasar Inpres Lhokseumawe di musim hujan ini.
“Ini (jual masker) sebenarnya usaha sampingan saya sambil menjual pakaian jadi. Saya tetap bertahan menjual masker karena saya yakin masih ada warga yang membutuhkan masker, karena pandemi Covid-19 belum berakhir. Jadi, walaupun musim hujan tetap saja jual masker setiap hari,” ujar Heri ditemui pada 27 November 2020.
Heri mengaku menjual masker–sebagian besar masker kain–sejak April 2020. Pasalnya, pada April lalu, Wali Kota Lhokseumawe menetapkan daerah ini sebagai Kota Wajib Bermasker. Pada bulan tersebut, Wali Kota juga mengeluarkan instruksi bahwa masyarakat wajib memakai masker saat beraktivitas di luar rumah selama masa pandemi Covid-19. Selain itu, menjaga jarak dan sering mencuci tangan dengan sabun.
“Sejak April sampai bulan kemarin (Oktober), rata-rata tiap hari terjual lebih 100 masker. Tapi mulai bulan ini (November), jumlah pembeli menurun drastis. Bahkan ada yang hanya terjual 10 – 15 masker saja per hari,” ucap Heri.
Menurut Heri, selama November ini banyak pembeli masker kalau ada razia terhadap masyarakat pengguna kendaraan yang tidak memakai masker. Razia untuk penegakan pendisiplinan protokol kesehatan itu digelar tim gabungan Satpol PP, Polri dan TNI. “Tiga hari lalu ada razia masker di kawasan pusat kota, sehingga banyak yang beli masker. Selama bulan ini kalau ada razia banyak pembeli. Lebih 50 masker terjual di tempat saya ini khusus saat ada razia,” ungkapnya.
Heri berharap masyarakat memakai masker atau mematuhi protokol kesehatan saat beraktivitas di luar bukan karena merasa takut dengan razia dilaksanakan aparat pemerintah. “Harus ada kesadaran dari kita masyarakat bahwa memakai masker itu untuk melindungi diri kita sendiri agar terhindar dari wabah Covid-19. Jadi, tetaplah pakai masker dengan benar di masa pandemi ini. Tidak masalah kalau tidak membeli masker di tempat saya, bisa beli di tempat lain,” ujar dia
Dia mengaku akan terus menjual masker walau jumlah pembeli sudah berkurang. “Saya yakin tetap akan ada warga yang membutuhkan masker, karena masker sebelumnya sudah rusak atau tidak layak pakai lagi,” ujar Heri yang menjual Rp5000/masker.
Hasil pantauan, di sepanjang jalan masuk ke kawasan pusat kota Lhokseumawe tampak sekitar 10 penjual masker. Mereka memajang masker pada kayu yang dibuat khusus di tepi jalan.
Beberapa penjual masker lainnya di Lhokseumawe juga mengaku permintaan/pembeli sudah menurun selama bulan ini.[](Irm)



