Sabtu, Juli 20, 2024

Peringati Haul Abati Banda...

LHOKSEUMAWE - Ratusan jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi'i Aceh menggelar pawai akbar dalam...

Pj. Bupati Aceh Utara...

ACEH UTARA - Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyerahkan bantuan masa panik secara simbolis...

Sekum PB PON Wilayah...

BANDA ACEH – Progres pembangunan beberapa venue untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI...

PT PIM Bantu Korban...

ACEH UTARA - PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) menyerahkan bantuan kepada korban badai...
BerandaNapi Kasus Pemerkosaan...

Napi Kasus Pemerkosaan Kabur Saat Dirawat di Rumah Sakit

TAPAKTUAN – Juliandi, 26 tahun, narapidana (napi) Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Tapaktuan melarikan diri saat dirawat di RSUD YA, Sabtu, 19 November 2016 lalu. Napi kasus pemerkosaan tersebut kabur sekitar pukul 04.30 WIB, setelah mematahkan besi ranjang tempat borgol di tangannya disangkutkan.

Kepala Rutan Kelas IIB Tapaktuan, Irman Jaya dikonfirmasi portalsatu.com, Rabu, 30 November 2016, mengatakan, Juliandi diboyong ke RSUD YA Tapaktuan, Jumat, 18 November 2016, guna mendapatkan perawatan medis karena menderita sakit.

“Sebenarnya ada dua orang napi yang dirawat di RSUD YA, satu orang dirawat di ruang rindu 1 yaitu Juliandi dan satu lagi dirawat di ruang bedah sehabis menjalani operasi usus buntu. Karena terbatas jumlah petugas jaga, kedua napi tersebut terpaksa hanya dijaga satu orang petugas rutan. Sehingga petugas tersebut terpaksa berjaga secara mondar-mandir dari ruang bedah ke ruang Rindu 1 RSUD YA,” kata Irman Jaya.

Irman Jaya menyebutkan, karena kelelahan pada Subuh itu petugas dan perawat jaga ketiduran sehingga sama sekali tidak mengetahui saat Juliandi kabur. Keberadaan Juliandi tidak ada lagi di ranjang tempat dia dirawat, baru diketahui sekitar pulul 05.00 WIB setelah petugas rutan terbangun ketika mendengar suara azan di masjid.

“Saat petugas terbangun, dia melihat Juliandi sudah tidak ada lagi di ranjang tempat dia dirawat. Besi ranjang tempat borgol di tangannya disangkut berhasil dipatahkan. Memang terlihat besi ranjang itu sudah berkarat sehingga mudah dipatahkan. Dia melarikan diri dengan kondisi borgol masih terpasang di tangannya,” kata Irman Jaya.

Setelah menerima informasi napi tersebut kabur, kata Irman Jaya, pihaknya langsung melakukan pengejaran. Pihaknya, kata Irman Jaya, mendapatkan jejak napi tersebut kabur ke arah gunung di belakang RSUD YA dari tetesan darah yang berceceran di atas lantai rumah sakit. Tetesan darah tersebut berasal dari bekas jarum infus yang dicabut paksa di tangannya.

Menurut Irman Jaya, upaya pengejaran dengan cara menyisir wilayah pegunungan Desa Gunung Kerambil, Kecamatan Tapaktuan persis di belakang RSUD YA, tidak berhasil menemukan napi itu. Bahkan pihaknya juga telah berupaya masuk ke dalam sebuah goa di gunung tersebut yang disebut-sebut sering dijadikan tempat orang bersembunyi. Bukannya menemukan keberadaan napi tersebut, tapi justru mencium bau harimau sehingga memaksa mereka mengurungkan niat untuk masuk lebih dalam lagi.

Upaya pengejaran, kata Irman Jaya, juga telah dilakukan sampai ke rumah Juliadi di Kabupaten Aceh Jaya, tapi tidak ditemukan.

“Pengejaran ke rumahnya tersebut kami lakukan setelah beberapa hari lalu ada warga yang melaporkan kepada kami bahwa ada melihat orang berjalan kaki di jalan lintasan nasional wilayah Kecamatan Labuhanhaji arah Blang Pidie. Orang tersebut membalut sebelah tangannya dengan kain yang diduga untuk menutupi borgol di tangannya yang belum berhasil dibuka,” kata Irman Jaya seraya menyatakan pihaknya akan terus melacak keberadaan napi tersebut.

Keterangan dihimpun portalsatu.com, Juliandi, asal Kabupaten Aceh Jaya yang bekerja di tambang emas tradisional Kecamatan Sawang, ditangkap polisi karena diduga telah memperkosa salah seorang gadis asal Desa Mutiara, Kecamatan Sawang, Aceh Selatan pada Februari 2016 lalu. Setelah menjalani proses hukum, akhirnya dia divonis hukuman cambuk sebanyak 120 kali oleh Mahkamah Syar`iyah Tapaktuan sesuai Qanun Jinayat.

Namun, belakangan Juliandi mengajukan banding hingga akhirnya Mahkamah Syar`iyah Provinsi Aceh memperberat hukuman terhadap yang bersangkutan dari hukuman cambuk menjadi hukuman kurungan badan selama 120 bulan.[]

Laporan Hendrik

Baca juga: