Oleh: Zulkifli Abdul Ghani Said*
ISLAM mencintai seorang muslim yang giat bekerja, mandiri, apalagi rajin memberi. Sebaliknya, Islam membenci manusia yang pemalas, suka berpangku tangan dan menjadi beban orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam selain diperintahkan untuk beribadah kepada Allah juga diperintahkan untuk bekerja (berusaha).
Di dalam Alquran dan hadis sudah jelas tentang pekerjaan yang baik dan bagaimana kita memperoleh rezeki dengan cara yang diridhai Allah SWT. Hal ini sangat penting sekali dibahas, karena semua orang dunia ini pasti membutuhkan sandang dan pangan. Di sini pasti manusia berlomba-lomba atau memenuhi kebutuhannya tersebut dengan bekerja untuk mendapatkan yang diinginkan.
Namun kita juga harus tahu, bahwa semua yang kita dapatkan semuanya dari Allah dan hanya titipan semata. Sebagai hamba kita diwajibkan mengembangkannya dengan baik dan hati-hati. Untuk itu hadist tentang ini sangat diperlukan demi kelangsungan umat sehari-hari.
Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan. (QS. Al Ankabut: 17)
Kemudian setelah selesai sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk menjalankan urusan masing-masing), dan carilah apa yang kamu hajati dari limpah kurnia Allah, serta ingatlah akan Allah banyak-banyak (dalam segala keadaan), supaya kamu berjaya (di dunia dan di akhirat). (QS. Al Jumuah : 10)
Rasulullah SAW bersabda: Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.
Dalam ungkapan lain dikatakan juga, Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah, memikul kayu lebih mulia dari pada mengemis, mukmin yang kuat lebih baik dari pada mukmin yang lemah. Allah menyukai mukmin yang kuat bekerja.
Memenuhi Kebutuhan Sendiri
Islam sangat menekankan kemandirian bagi pemeluknya. Seorang muslim harus mampu hidup dari hasil keringatnya sendiri, tidak bergantung pada orang lain. Hal ini di antaranya tercermin dalah hadist berikut:
Dari Abu Abdillah yaitu az-Zubair bin al-Awwam RA, Rasulullah SAW bersabda:
Niscayalah jikalau seseorang dari engkau semua itu mengambil tali-talinya untuk mengikat lalu ia datang di gunung, kemudian ia datang kembali di negerinya dengan membawa sebongkah kayu bakar di atas punggungnya, lalu menjualnya, kemudian dengan cara sedemikian itu Allah menahan wajahnya yakni dicukupi kebutuhannya, maka hal yang semacam itu adalah lebih baik baginya daripada meminta-minta sesuatu pada orang-orang, baik mereka itu suka memberinya atau menolaknya. (Riwayat Bukhari)
Memenuhi Kebutuhan Keluarga
Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang menjadi tanggungannya adalah kewajian bagi seorang muslim, hal ini bisa dilihat dari hadist berikut:
Rasulullah SAW bersabada, Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya. (HR. Ahmad, Abu Daud dan al-Hakim).
Kepentingan Seluruh Makhluk
Pekerjaan yang dilakukan seseorang bisa menjadi sebuah amal jariyah baginya, sebagaimana disebutkan dalam hadist berikut:
Telah dijelaskan bahwa Islam mendorong umatnya untuk bekerja, hidup dalam kemuliaan dan tidak menjadi beban orang lain. Islam juga memberi kebebasan dalam memilih pekerjaan yang sesuai dengan kecenderungan dan kemampuan setiap orang. Namun demikian, Islam mengatur batasan-batasan, meletakkan prinsip-prinsip dan menetapkan nilai-nilai yang harus dijaga oleh seorang muslim, agar kemudian aktivitas bekerjanya benar-benar dipandang oleh Allah sebagai kegiatan ibadah yang memberi keuntungan berlipat di dunia dan di akhirat.
Dari Anas, Rasulullah saw bersabda, Tidaklah seorang mukmin menanam tanaman, atau menabur benih, lalu burung atau manusia atau hewan pun makan darinya kecuali pasti bernilai sedekah baginya. (HR Bukhari).
Dalam era modern ini banyak sekali pekerjaan kita yang bisa bernilai sebagai amal jariyah. Misalnya kita membuat aplikasi atau tekhnologi yang berguna bagi umat manusia. Karenanya umat Islam harus cerdas agar bisa menghasilkan pekerjaan-pekerjaan yang bernilai amal jariyah.
Berikut ini adalah batasan-batasan tersebut agar bekerja bernilai ibadah:
Pekerjaan yang Dijalani Harus Halal dan Baik
Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (QS. Al Baqarah : 172).
Bekerja dengan Profesional dan Penuh Tanggungjawab
Nabi SAW bersabda;
Sesungguhnya Allah mencintai seorang di antara kalian yang jika bekerja, maka ia bekerja dengan baik. (HR Baihaqi, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Silsilah As Shahihah)
Ikhlas dalam Bekerja
Nabi SAW bersabda;
Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung niat. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya. (HR Bukhari Muslim)
Tidak Melalaikan Kewajiban kepada Allah
Sibuk bekerja tidak boleh sampai membuat kita meninggalkan kewajiban salat. Salat adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim. Maka, jangan sampai kesibukan bekerja mencari karunia Allah mengakibatkan ia meninggalkan salat walaupun hanya satu kali. Begitu pula dengan kewajiban yang lainnya, seperti zakat, puasa, haji, bersilaturahmi dan ibadah-ibadah wajib lainnya.
Allah SWT berfirman:
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.. (Q.S al-jumuah ayat 9).
Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Q.S al-jumuah ayat 10).
Pahala Memberi Nafkah kepada Keluarga
Ibnu Hajar al-Asqolani menjelaskan, memenuhi nafkah kepada keluarga adalah wajib hukumnya bagi suami. Syariat mengkategorikannya sebagai amal bernilai sedekah, untuk menghindari prasangka bahwa memberi nafkah kepada keluarga tidak mendapat pahala apa-apa. Seseorang mengetahui bahwa sedekah akan mendapatkan balasan dari Allah, maka menyebutnya sebagai sedekah akan lebih memudahkan pemahaman syariat.
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Baqarah: 233).
Diriwayatkan hadis dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, dinar yang engkau infakkan fi sabilillah, dinar yang engkau berikan untuk membebaskan budak, dinar yang engkau sedekahkan pada orang miskin, dan dinar yang engkau berikan untuk nafkah keluargamu, maka pahala yang paling besar yang didapatkan adalah yang engkau berikan untuk nafkah keluargamu. (HR. Muslim).
Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis yang berbeda, sesungguhnya jika seorang muslim memberi nafkah pada keluarganya berharap mendapatkan pahala, maka akan menjadi sedekah baginya. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Saad, Rasulullah saw juga bersabda, suatu nafkah yang engkau berikan kepada keluargamu akan diberikan pahala kepadamu, hingga termasuk sesuap makanan yang engkau berikan ke mulut istrimu. (HR. Bukhari Muslim).
Abu Hurairah meriwayatkan hadis dari Rasulullah SAW yang bersabda, Tidaklah seorang hamba Allah berada di pagi hari melainkan dua malaikat akan turun dan salah satunya berdoa, ya Allah berikan ganti pada orang yang bersedekah. Sedang malaikat yang lain juga berdoa, ya Allah beri kerugian pada orang yang pelit. (HR. Bukhari dan Muslim).
Nabi SAW bersabda, siapa yang diuji atas anak perempuannya lalu berbuat baik padanya maka dia akan terhalang dari api neraka. (HR. Bukhari Muslim).
Rasulullah SAW bersabda, apabila seseorang keluar berusaha untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya yang masih kecil, maka dia berada fi sabilillah (di jalan Allah). Apabila dia keluar bekerja untuk mencukupi kebutuhannya sendiri agar tidak menjadi peminta-minta, maka dia fisabilillah. Apabila dia keluar karena maksud riya dan sombong, maka dia berada di jalan setan. (hadis shahih menurut al-Albani).[]
*Petroleum engineer







