TAKENGON – Gampong (Kampung) Penarun, Kecamatan Linge, bukan wilayah yang asing bagi Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar. Ada nostalgia terungkap ketika Shabela berkunjung dalam agenda Safari Ramadhan di kampung yang berjarak hampir 70 kilometer dari Kota Takengon itu.

Tiba lebih awal dari waktu berbuka, Shabela ditawari oleh salah seorang pejabat yang mendampingi, untuk jalan-jalan keliling kampung. Jawaban tak terduga keluar dari mulut Shabela. “Mau jalan-jalan kemana, dari dulu saya sudah jalan ke Kampung Penarun, ini sudah seperti kampung saya sendiri,” ucap Shabela, Sabtu, 19 Mei 2018.

Memang tidak banyak yang mengetahui bahwa sejak tahun 1993, Shabela sudah menjelajah seluruh wilayah di Aceh Tengah. “Waktu itu saya bekerja di Bappeda dan kami melakukan survei kemiskinan. Jadi pada tahun 1993 sudah masuk ke Kampung Penarun,” kenangnya.

Menurut Shabela, Kampung Penarun dulu sangat bersih dan punya hasil padi yang bagus, karena tidak ditemui hama mengganggu tanaman. “Jika dulu Kampung Penarun bisa bersih, masa sekarang harusnya bisa lebih bersih, jaga kebersihan lingkungan, juga rumah ibadah, sehingga wilayah ini selalu diberkahi oleh Allah SWT,” ujar Shabela.

Untuk percepatan pembangunan di wilayah itu, Shabela mengharapkan masyarakat tidak bosan untuk mengusulkan program pembangunan prioritas di kampung tersebut dalam setiap Musrenbang. Selaku pimpinan daerah, Shabela juga akan mendukung usulan masyarakat sesuai skala prioritas, tapi tetap menekankan jika pembangunan dapat dilakukan dengan swadaya dan gotong royong agar lebih diutamakan.

Sementara itu, Sekda Aceh Tengah Karimansyah, mengatakan silaturahmi adalah salah satu sunah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW dan diperintahkan agama Islam. Silaturahmi penting dilakukan agar tidak terjadi gesekan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Itu disampaikan Karimansyah saat Safari Ramadhan di Masjid Baiturrohmah, Kampung Damar Mulyo, Kecamatan Atu Lintang, Sabtu, 19 Mei 2018.

Menurutnya, jika rasa persaudaraan dapat terjalin kuat antarsesama, tidak akan terjadi konflik dalam kehidupan masyarakat. “Potensi konflik selalu ada, tergantung bagaimana mengelola dan mengantisipasinya,” ujar Karimansyah.

Di hadapan warga kampung yang berpenduduk 300 Kepala Keluarga (KK) itu, Karimansyah juga berpesan untuk mewaspadai ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan tuntunan agama Islam.

Terkait dana desa, Karimansyah mengharapkan dapat dikelola dengan baik. “Dana desa harus tepat sasaran dan jangan ada masalah dalam pengelolaan, kuncinya adalah bermusyawarah dan sesuai aturan,” katanya.

Kehadiran Karimansyah di Kecamatan Atu Lintang didampingi Plt. Kadis Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Kampung (PMPK) Aceh Tengah Windi Darsa, Kabag Tapem Setda Ariansyah, Tgk. Walid, M.A., dan Tgk. Jamaluddin, SAg, yang tergabung dalam tim 3 Safari Ramadhan.[](rilis)