GADIS kecil berkepala plontos itu muncul di ruang tamu Rumah Kita, sesaat setelah ia mendengar suara orang menguluk salam. Keceriaannya menyambut kedatangan saya dan Yelli dari Griya Schizofrenia Aceh, yang hari itu, Rabu, 24 Januari 2018, sengaja datang ke Rumah Kita di Ulee Kareng untuk bertemu dengannya.

Namanya Nurul Amalia. Ia adalah seorang pejuang kanker yang sejak beberapa bulan lalu menjadi salah satu penghuni di Rumah Kita yang didirikan Nuu Husien. Demi kesembuhan yang didambakannya, Nurul rela sementara waktu berpisah dengan keluarganya di Lhokseumawe.

Kecuali kepala botaknya, secara fisik nyaris tak terduga jika gadis kecil berusia sembilan tahun itu adalah seorang pejuang kanker. Ia seperti burung beo yang tak berhenti berbicara. Pun kepada kami yang baru bertemu dan berkenalan beberapa saat sebelumnya. Keceriaannya mampu menutupi penyakit yang bersarang di tubuhnya, yaitu Leukemia limfositik akut alias acute lymphocytic leukemia (ALL).

Buk Nu hana. Ka geutubiet. Buk Nu tidak ada. Sudah keluar.” Suaranya nyaring.

Nurul mudah sekali akrab. Hanya dalam waktu beberapa menit saja, setelah berbasa-basi sebentar, ia kemudian mulai bermanja-manja dengan Yelli, sambil menyaksikan foto-foto di dalam ponsel Yelli. Sembari itu mulutnya tak berhenti mencerocos. Ada saja yang ia komentari setiap melihat foto-foto tersebut. Sepasang anting Mickey Mouse-nya ikut bergoyang-goyang ketika ia berbicara.

Beberapa bocah yang ada di Rumah Kita ikut bergabung. Salah satunya Zahra, yang seusia Nurul. Zahra bersama ibu dan beberapa adiknya juga tinggal di Rumah Kita. Adiknya yang paling bungsu, Fajar, yang masih berusia enam bulan, sudah pulas setelah menyantap sebotol susu formula.

Sambil melihat-lihat foto dan video di ponsel Yelli, Nurul turut bercerita tentang dirinya sendiri. Gadis kecil itu sangat antusias. Saat kami tanyakan siapa yang menyuruhnya mencukur rambut hingga kepalanya menjadi plontos, dengan santai ia menjawab kalau itu murni karena inisiatifnya sendiri.

Kulake keudroe kuh. Sebab sabe-sabe duroh. Wate pajoh bu duroh lam-lam pingan. Meunye hana geutem, kucuko keudroe kuh. Saya yang memintanya. Sebab rambut saya selalu rontok. Waktu makan jatuh ke dalam piring. Kalau nggak ada yang mau mencukur, saya cukur sendiri,” ucapnya.

“Cukurnya di mana?”

“Di sini, ada yang membantu mencukurnya.”

“Oh, bukan di salon?”

Pubuet teuh u salon. Ngapain ke salon.”

Berdasarkan penjelasan Nuu Husien, Nurul mulai terdeteksi mengidap leukimia atau kanker darah sejak Agustus 2017. Ia pertama kali menjalani kemoterapi pada Oktober 2017. “Dengan hari Jumat nanti (hari ini-red) sudah 17 kali Nurul menjalani kemoterapi,” kata Nuu Husien.

Kemoterapi yang dijalani Nurul cukup bervariasi, mulanya ada yang setiap hari selama seminggu. Ada yang selama 24 jam terus menurus, ada yang 12 jam, dan enam jam. Proses kemoterapi yang terus menerus inilah yang membuat rambut Nurul menjadi rontok. Tapi hal itu sama sekali tak merisaukan hatinya. Bahkan katanya tak sakit. Saat saya mendengar ucapan itu keluar dari mulutnya, saya hanya bisa memandangi Nurul dengan takjub.[]