Usianya sudah 95 tahun, tapi ingatan Nyak Sandang masih kuat. Kakek kelahiran tahun 1927 di Lamno, Aceh Barat, kini masuk wilayah Aceh Jaya, itu menjadi terkenal karena jasanya—bersama sejumlah masyarakat Aceh lainnya—ikut menyumbang untuk pembelian Pesawat RI, Seulawah 001 tahun 1948, era Presiden Soekarno. Ia turut membeli obligasi senilai Rp100. Saksi sejarah itu kemudian membawa Nyak Sandang bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan pada Maret 2018.
Ahad, 5 Juni 2022, Nyak Sandang baru selesai menunaikan salat Zuhur di Masjid Nyak Sandang, Gampong Lhuet, Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. Masjid bantuan Presiden Jokowi tersebut mulai difungsikan untuk salat berjemaah sejak awal Ramadhan 1443 Hijriah/2022 Masehi.
“Masjid ini difungsikan sejak puasa kemarin,” kata pemilik warung kopi di seberang jalan depan masjid itu kepada portalsatu.com/.
Nyak Sandang menyandarkan kursi roda miliknya di sisi bangku panjang depan rumah yang bersebelahan dengan warung kopi itu. Lalu, ia duduk menjuntai di kursi bersama dua warga, seorang di antaranya tampak seusia dengan Nyak Sandang, dan seorang lainnya masih paruh baya. Nyak Sandang duduk menghadap ke arah masjid.
portalsatu.com/ bersama tiga jurnalis lain yang salat Zuhur berjemaah di masjid itu menghampiri Nyak Sandang, dan duduk di sampingnya. “Jep ie, Ayah (minum, Ayah),” kata seorang jurnalis kepada Nyak Sandang dan dua warga lainnya. “Get (baik),” ucap kakek yang duduk di samping kiri Nyak Sandang.
Saat itu, Nyak Sandang sedang asyik bercerita kepada dua orang di sampingnya tentang pelayanan kesehatan ketika ia menjalani operasi mata di Jakarta, empat tahun lalu. Nyak Sandang mengisahkan kala itu dirinya dijaga dua perawat, ia menyebutnya dokter. Ranjang tempat ia diopname bisa disetel turun naik hanya dengan menekan tombol, ruangannya bersih, dingin, kamar mandi seperti di kamar hotel.
“Pelayanan mereka luar biasa. Saya dimandikan, makan disuap, baju diganti. Pokoknya luar biasa. Beda jauh dengan kita di sini. Waktu hari pertama di sana, saya dingin, menggigil. Lalu, seorang dokter bertanya, ‘kenapa, Kek?’ Saya jawab, ‘dingin sekali’. ‘Oh, AC ini, Kek, kalau dingin bisa diperkecil’. Ternyata yang buat dingin AC-nya,” tutur Nyak Sandang sambil tertawa karena saat itu ia belum paham jika AC bisa membuat dingin ruangan.
“Man tanyoe hantom takalon teuh (Maklum saya belum pernah melihat/merasakan suasana ruangan ber-AC),” ujarnya.

(Nyak Sandang di warung depan Masjid Nyak Sandang. Foto: portalsatu.com/)
Berawal cerita itu, mengingatkannya kembali pada salah satu permintaan kepada Presiden Jokowi yang belum terealisasi, yaitu membangun tempat layanan kesehatan. Nyak Sandang menyebutnya rumah sakit. “Ada tiga permintaan saya dulu kepada Bapak Presiden: bawa saya ke tanah suci, bantu bangun masjid, dan bangun rumah sakit di desa ini,” ungkapnya.
Permintaan Nyak Sandang ke Tanah Suci (umrah) sudah terkabul, pembangun masjid telah rampung walau belum 100 persen. Matanya yang sakit juga sudah dioperasi.
Kini yang dinanti Nyak Sandang tinggal sebuah bangunan tempat pelayanan kesehatan di desa itu. Sebidang tanah untuk lokasi bangunan sudah tersedia dengan luas 30×30 meter, hanya berjarak sekitar 200 meter dari Masjid Nyak Sandang.
“Saya masih menagih janji ini kepada Bapak Presiden Jokowi agar rumah sakit itu segera dibangun. Masyarakat di sini sangat membutuhkan, tempat berobat sangat jauh ketika sakit. Kalau beliau ke Aceh akan saya temui langsung untuk menagih kembali janji ini,” kata Nyak Sandang sembari menunjuk ke arah sebidang tanah untuk lokasi fasilitas kesehatan.
***
Tidak lama berselang, pesanan minuman pun datang. Segelas sirup merah bercampur es terhidang di meja kayu depan Nyak Sandang. Ia tidak langsung meminumnya. Dia memilih bercerita lebih dahulu soal mengapa masjid itu diberi nama “Nyak Sandang”, untuk menjawab pertanyaan seorang jurnalis yang duduk di depannya.
Penamaan Nyak Sandang pada masjid bantuan Presiden Jokowi itu ternyata sempat mendapat penolakan dari segelintir orang di sana. Sejumlah orang menilai masih ada nama tokoh lain di wilayah itu yang dianggap layak untuk menjadi nama masjid tersebut.
“Biasa. Pat na saka, pasti dijak sidom (di mana ada gula pasti datang semut),” timpal kakek yang duduk di samping Nyak Sandang. “Tapi sekarang sudah agak mereda,” tambahnya.

(Sejumlah warga sedang salat di Masjid Nyak Sandang. Foto: portalsatu.com/)
Ceritanya, lahan Masjid Nyak Sandang yang kini berdiri kokoh dengan kubah bulat kebiru-biruan dan memiliki dua lantai, jauh sebelumnya merupakan tanah bangunan meunasah atau surau desa itu. Beberapa tahun kemudian wakaf lahan meunasah ditingkatkan menjadi wakaf untuk lahan masjid. Saat itulah peran awal Nyak Sandang. Ia menjual sepetak kebun duriannya di wilayah Lamno seharga 40 sak semen. Dibantu sumbangan dari “Hamba Allah” lainnya, berdiri fondasi dan beberapa tiang masjid.
Setelah itu, bertahun-tahun kemudian dana tambahan untuk pembangunan lanjutan masjid terhenti, hingga akhirnya besi tiang yang sudah berdiri menjadi lapuk dan tidak layak pakai lagi. “Itu diketahui setelah diteliti oleh ahli bangunan saat pembangunan masjid akan dibantu presiden. Waktu itu tahun 2018 setelah Nyak Sandang bertemu presiden. Kata ahli, besi dan semennya semua harus dihancurkan, tidak bisa dipakai lagi,” ujar kakek tadi.
Singkat cerita, pada Oktober 2020, Masjid Nyak Sandang mulai dibangun. Pembangunan masjid di atas lahan seluas 4.940,5 m2 tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan Presiden Jokowi dengan Nyak Sandang di Istana Kepresidenan pada Maret 2018.
Kini, Masjid Nyak Sandang berdiri kokoh di Gampong Lhuet, Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. Menurut warga setempat, selama masjid itu difungsikan untuk salat berjemaah sejak awal Ramadhan 1443 H/2022 M, banyak wisatawan lokal berkunjung ke sana.
Kunjungan wisatawan lokal tersebut juga menambah omzet sebuah warung kopi dan kedai kelontong di seberang jalan depan masjid. “Alhamdulillah, selama ini ada saja pengunjung membeli makanan ringan dan minum di warung saya,” kata pemilik warung tersebut.[](red)








