Mendengar kata nyinyir kita pasti membayangkan seseorang yang tidak henti-hentinya berkomentar. Anggapan kita memang tidak keliru.

Dalam KBBI V nyinyir merupakan kata sifat yang dimaknai ‘mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet’.

Seiring perkembangan media sosial, pemaknaan nyinyir pun turut berkembang. Nyinyir bukan hanya ditujukan kepada orang yang cerewet secara lisan, tetapi juga pada warganet yang berulang kali berkomentar pada satu pokok masalah tertentu.

Lebih lanjut, penggunaan nyinyir di masyarakat juga mengalami peyorasi. Semula disamamaknakan dengan cerewet, saat ini nyinyir lebih dimaknai ke sikap mencibir atau memberikan komentar yang berkonotasi negatif.

Berikut contoh penggunaan kata nyinyir dalam kalimat.

Menghadapi kenyinyiran akun Lambe Murah itu berat, kamu tak akan kuat. Biar aku saja,” kata Dilan pada Milea.”[]

Sumber: pusatbahasa