Salah satu objek wisata yang terkenal di Bireuen bahkan Aceh secara umumnya namanya tidak asing lagi adalah Batee Iliek. Objek wisata ini ramai dikunjungi masyarkat sepanjang hari Sabtu dan Minggu bahkan hari libur nasional.

Objek wisata yang dialiri air sungai itu berada persis di jalur lintas Sumatera yang menghubungkan Provinsi Aceh dengan Provinsi Sumatera Utara.

Melihat dan menikmati panaroma yang kian hari semakin hilang keasrian dan ke elokan sungai dengan bebatuan besar, menjadi sebuah tanda tanya yang besar, bahkan masyarakatpun ikut menyesali hilangnya keperawanan tempat rekreasi sebagai tempat bersejarah pada zaman Belanda dulu.

“Jinoe Batee iliek ka gadoh peurawan, hana lagak dan elok lagee awai, (Kini Batee Iliek sudah hilang perawannya, tidak indah dan elok seperti dulu,” ungkap Misniati Munir, salah seorang pengunjung dari warga Pidie Jaya di tempat wisata tersebut, Ahad, 13 November 2016.

Apa yang diungkap warga kalau kita perhatikan benar adanya. Dulu, bendungan dan tata ruang tidak seperti saat ini, tempat jualan dan bangunan baru ikut memberi andil terhadap hilangnya keperawanan tempat rekreasi di kawasan Samalanga yang terkenal dengan kota Santri.

“Jinou ka le that maksiet di Batee Iliek, makanya perawan ka gadoh, alam hana bersahabat ngon maksiet (sekarang maksiat di Batee Iliek, makanya alampun tidak bersahabat dengan kemaksiatan),” pungkas salah seorang pengunjung di pinggir sungai Batee Iliek.[]