ACEH UTARA – Pihak Puskesmas Langkahan, Aceh Utara, menangani Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang dipasung oleh keluarganya, untuk dirujuk ke Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSUCM) Aceh Utara, Kamis, 29 Januari 2026.
ODGJ dipasung itu berinisial MG (45), warga Gampong Meunasah Blang, Kecamatan Langkahan, di tenda pengungsian korban banjir bandang. Tenda darurat dari BNPB tersebut didirikan di tepi sungai gampong setempat. MG menempati tenda pengungsian itu bersama dua anaknya.
Kepala UPTD Puskesmas Langkahan, Suwardi, S.K.M., kepada wartawan mengatakan penanganan ODGJ ini bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan, dan mengupayakan pelepasan pasien itu yang dipasung pihak keluarganya lantaran sempat mengamuk, memukul orang, hingga merusak rumah warga.
“Yang bersangkutan itu (ODGJ) merupakan korban banjir bandang dan rumahnya hilang diterjang banjir, makanya saat ini tinggal di tenda pengungsian bersama dua anaknya karena sudah berpisah dengan istrinya,” kata Suwardi.
Suwardi menyebut MG sudah berulang kali dirujuk ke rumah sakit baik ke RSUCM Aceh Utara maupun RSUD Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh. Pada pekan lalu, MG juga sudah dibawa ke RSUCM. “Dengan kondisi kesehatan mulai agak menurun, sehingga dipulangkan lagi ke gampong”.
Informasi diterima Suwardi, pada Rabu (28/1) malam, pasien tersebut mengamuk lagi, sehingga warga berupaya memasungnya untuk menghindari kejadian tidak diinginkan.
Suwardi menyatakan tindak lanjut terhadap pasien itu akan segera dirujuk kembali ke rumah sakit menggunakan mobil ambulans Puskesmas Simpang Tiga, Kecamatan Langkahan. Sebab, ambulans UPTD Puskesmas Langkahan sudah rusak parah akibat dihantam banjir bandang pada akhir November 2025.
“Kondisi kesehatan gangguan jiwa yang dialaminya itu sudah sepuluh tahun lalu, mungkin karena faktor ekonomi,” ucap Suwardi.
Di Langkahan, lanjut Suwardi, ada sekitar 30 pasien ODGJ dan sudah tertangani semuanya. Sebagian dirawat di rumah sakit dan ada juga dirawat mandiri di rumahnya. “Pasien dikategorikan parah saat ini adalah saudara MG tersebut,” ungkapnya.
Koordinator Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Kemenkes Batch 3, dr. Benny Novrianto, menyebutkan sebelumnya pasien tersebut sempat dirawat di RSUCM Aceh Utara hingga akhirnya dinyatakan bisa kembali ke rumah. Namun, baru-baru ini kondisi kesehatannya mulai kurang normal lagi, sehingga dilakukan pasung oleh keluarganya bersama masyarakat bertujuan untuk mencegah hal membahayakan.
“Satu sisi kita melihat kalau dipasung seperti itu memang kurang layak, apalagi tinggal di bawah tenda darurat. Tapi pihak keluarganya menyatakan bahwa tujuannya untuk memisahkan pasien dari lingkungan yang bisa membahayakan dirinya ataupun orang lain”.
“Ketika kami melakukan pemeriksaan kesehatannya masih kelihatan tenang, namun pasien tetap memiliki halusinasi yang masih aktif. Kita juga memberikan obat untuk menenangkan pasien tersebut,” ujar Benny.
Benny berharap kepada masyarakat atau ada keluarganya yang mengalami gangguan kejiwaan, sebaiknya dalam pengawasan dengan memberikan obat sesuai arahan dokter. “Itu harus diperhatikan betul, karena penggunaan obat secara teratur sangat membantu untuk menekan gejala-gejala yang ditimbulkan oleh pasien itu sendiri”.[]






