Oleh Taufik Sentana
Peminat kajian terapi holistik dan personal healing. 

Kita batasi terlebih dahulu bahwa patah hati bukan monopoli muda mudi saja. Ia adalah istilah yang kita sepakati bersama sebagai simbol ungkap bagi perasaan  diabaikan, ditinggalkan dan disia-siakan.

Patah hati terbesar dalam perspektif manusia kebanyakan adalah patah hati pada dunia. Banyak diantara kita yang melekatkan hatinya pada dunia, pada perhiasan dan kemolekannya. Bahkan bisa saja, menjauhinya pun bisa jadi karena patah hati juga, hingga muncul eskapisme ruhani. 

Memang, dunia dengan segenap kesenangan dan perhiasannya telah memenjarakan keinginan dan mimpi setiap orang. Tapi dunia tetap mesti dilampaui apakah kita senang atau tidak. Dan kita bisa memilih untuk tidak patah hati padanya, sebab bisa saja kita kehilangan nafas bila berada di balik jubahnya.

Adapun patah hati dalam hubungan kasih dan asmara,  atau interaksi sosial lainnya, hanyalah bagian dari benang hias dunia tadi. Setiap kita memiliki bayangan sendiri. Benci, cemburu, dendam, luka, amarah dan cinta mesti diracik dalam ramuan pengertian dan kesadaran murni. Ramuan itu mestilah menghasilkan makna baru dan harapan yang baru pula.

Kelalaian kita dalam merespon dan memaknai realitas (dan yang tersembunyi di balik realitas yang tampak) akan berdampak pada seberapa besar patah hati itu dirasakan.

Sesungguhnya bagi yang mengambil hikmah,  kepatah-hatian itu bisa saja menjadi sarana untuk bertumbuh dan menjadi lebih baik.[]