Oleh: Resyi Azhari*

Setelah dikenal sebagai “Kota Niaga” pada masa peradaban Teluk Samawi era Kerajaan Islam Samudra Pasai, dan “Kota Petrodolar” ketika berjaya PT Arun, kini Kota Lhokseumawe seperti kehilangan identitasnya. Tidak ada lagi kekhasan dimiliki Kota seluas 181 Km2 ini. Malah Lhokseumawe terpuruk di berbagai sektor. Tata ruang berantakan, banyak bangunan terbengkalai, dan kumuhnya wajah kota membuat Lhokseumawe seakan tak bertuan.

Qanun Kota Lhokseumawe Nomor 1 tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Lhokseumawe Tahun 2012-2032, yang menjadi payung hukum dalam menjaga keseimbangan pemanfaatan ruang, belum berhasil mewujudkan tata ruang kota yang diidamkan semua warganya. Bahkan persoalan tata ruang saat ini mengalami tumpang tindih sehingga berdampak pada konflik antara pemerintah dan masyarakat.

Banyak bangunan terbengkalai, jalan berlubang, dan semrawutnya wajah kota, memerlukan perhatian serius dari pemerintah. Ini penting agar persoalan pengembangan ruang kota ini tidak menghambat investasi, pertumbuhan ekonomi, dan percepatan pembangunan infrastruktur.

Oleh karena itu, pembangunan Lhokseumawe ke depan harus mengacu master plan yang disusun melibatkan para ahli tata ruang, ahli ekonomi, sosial, lingkungan, dan bidang terkait lainnya. Tim ahli tersebut harus mampu mengkaji berbagai permasalahan dan menemukan solusi konkret serta komprehensif untuk dituangkan dalam Rencana Induk Kota Lhokseumawe era kini untuk meraih masa depan gemilang, dan mengembalikan kejayaan seperti masa silam.

Setiap perencanaan pembangunan di
Lhokseumawe harus berdasarkan database mutakhir. Pemerintah wajib melibatkan partisipasi publik dalam setiap perencanaan pembangunan. Pelibatan publik bukan sekadar formalitas belaka, tapi benar-benar nyata dan maksimal, karena setiap perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan, pemerintah harus transparan dan bertanggung jawab.

Misalnya, bagaimana menggali potensi besar dimiliki Kota berpenduduk sekitar 180 ribu jiwa ini untuk menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD)? Bagaimana mengembangkan dan memajukan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)? Bagaimana pula menghidupkan sektor pariwisata Lhokseumawe?

Semua sektor tersebut selama ini terkesan stagnan. PAD Lhokseumawe yang selalu rendah dari tahun ke tahun membuat ketergantungan pemerintah kota terhadap pendapatan transfer dari pusat sangat tinggi. Sementara kebutuhan anggaran untuk belanja operasi seperti gaji dan tunjangan pegawai serta belanja barang dan jasa cukup besar, sehingga alokasi belanja modal menjadi kecil.

Banyak UMKM gulung tikar akibat tidak adanya ruang pemasaran. Padahal sektor itu lebih cepat menciptakan lapangan kerja baru dan menyerap banyak pekerja.

Lhokseumawe juga memiliki sederet destinasi wisata. Di antaranya Masjid Agung Islamic Center, Museum Kota Lhokseumawe, Taman Riyadhah, Waduk Pusong, Pantai Ujong Blang, Pantai Ulee Jalan, Krueng Cunda, Pantai Meuraksa, Waduk Jeulikat, Bukit Goa Jepang, Taman Ngieng Jioh, Makam Putroe Neng, Pulau Seumadu, Pantai Rancong, Buket Paloh Batee, Dermaga Pertamina, dan Pelabuhan Umum Krueng Geukueh.

Selama ini beberapa objek wisata memang sudah dikelola masyarakat. Di antaranya Pantai Ujong Blang, Pulau Seumadu, dan Bukit Goa Jepang. Namun belum mampu memberikan dampak pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Malah tampak lebih hidup destinasi wisata dikelola perorangan, seperti Waterboom Taman Mangat Ceria yang selama ini hampir tidak pernah sepi pengunjung.

Itulah sebabnya, perlu digarisbawahi bahwa untuk mengembangkan pariwisata agar memiliki daya tarik, harus dibangun secara sinergis dengan memerhatikan fasilitas objek wisata yang layak dan mudah, mulai dari akses jalan mulus, sarana dan prasarana memadai, bersih dan asri, menyediakan kuliner khas, dan para pengelolanya betul-betul “peumulia jamee”. Selain itu, semakin menarik jika ada suvenir, dan menampilkan seni budaya Aceh.

Ketika sektor pariwisata hidup akan berpengaruh pada kebutuhan jasa yang meningkat. Hal tersebut dapat mendorong penduduk meningkatkan pendidikan dan keterampilan hidup. Secara tidak langsung masyakarat termotivasi untuk mempelajari hal-hal yang selama ini dianggap tidak berpengaruh dalam kehidupannya. Misalnya, warga menjadi lebih ingin mempelajari adat istiadat agar bisa ditunjukkan kepada wisatawan, atraksi seni budaya disuguhkan, pengetahuan bahasa, kerajinan tangan, dan berbagai keterampilan lainnya.

Ketika lokasi-lokasi wisata dikembangkan dan dikelola maksimal seperti itu tentu akan menarik banyak wisatawan lokal dari luar Lhokseumawe, luar Aceh, bahkan turis mancanegara. Sektor pariwisata pun menjadi salah satu peluang bagi para pemodal atau investor untuk berinvestasi di Lhokseumawe.

Pengembangan pariwisata pastinya berpengaruh terhadap usaha rakyat kecil bidang usaha kuliner, kerajinan tangan, dan sektor ekonomi kreatif lainnya. Apabila pariwisata dan sektor pendukungnya tersebut dikembangkan maka terbuka lapangan kerja baru yang lebar bagi banyak masyarakat. Sehingga akan menambah pendapatan masyarakat, mengurangi angka pengangguran, yang akhirnya berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi, dan peningkatan PAD Lhokseumawe.

Itulah sebabnya, penulis berpendapat ke depan Kota Lhokseumawe harus memiliki pemimpin berjiwa entrepreneur yang penuh dengan ide kreatif dan inovatif dalam membangun daerah untuk menyejahterakan masyarakat.

Dan, pariwisata adalah kunci untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat Lhokseumawe saat ini. Untuk itu, pemerintah harus membuka mata lebar-lebar melihat potensi tersebut, bergerak bersama dengan semua stakeholder dan elemen masyarakat mulai dari sekarang. Jangan lagi diam, kita harus bangkit, melompat, memajukan ekonomi Lhokseumawe.[]

* Penulis adalah warga Lhokseumawe.