“Pekan, bermakna tujuh hari atau lazim seminggu (sepekan). Sementara kebudayaan, apa itu definisi kebudayaan itu, setelahnya Aceh,” Cek Midi.
Budayawan sekaligus kolektor di Rumoh Manuskrip Aceh, Tarmizi Abdul Hamid (Tarmizi A Hamid), atau akrab disapa Cek Midi, angkat bicara terkait tahapan pelaksanaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang akan digelar tahun ini.
PKA VIII direncanakan akan kembali digelar pada tahun ini. Pagelaran kegiatan kebudayaan empat tahunan di provinsi Aceh itu tentu harus didukung dengan persiapan dan konsep yang matang
Seluruh Pekan Kebudayaan Aceh, kata Cek Midi, adalah wadah untuk memberikan kesempatan kepada seluruh pewaris budaya, baik pegiat seni, sastrawan, maupun untuk semua komponen yang menyangkut dengan produk-produk budaya.
Dijumpai portalsatu.com/, Rabu malam 15 Februari 2023, di Banda Aceh, Cek Midi itu mengatakan, PKA merupakan ajang untuk seluruh elemen rakyat untuk mengekspresikan diri, terutama bagi para pelaku seni.
“Pekan, bermakna tujuh hari atau lazim seminggu (sepekan). Sementara kebudayaan, apa itu definisi kebudayaan itu, setelahnya Aceh,” Cek Midi.
Menurutnya, PKA seharusnya menyediakan wadah tersebut untuk para pegiat dan pelaku seni. Supaya para seniman Aceh ini dapat menampilkan karya-karyanya di depan rakyat.
Jadi, kata Cek Midi, pemerintah selaku pelaksana harus memberikan kesempatan kepada para pelaku dan pewaris budaya. “Mereka tidak meminta apa-apa. Hanya perlu dihargai,” tuturnya.
Ia menyebutkan, bagaimana nantinya pemerintah Aceh merespon orang-orang yang hari ini masih menjaga, merawat dan memelihara seluruh produk budaya Aceh sampai hari ini.
“Harus disediakan tempat yang layak dan penghargaan untuk mereka (para pewaris dan pelaku) budaya. Hanya satu pekan itu, khusus yang berkenaan dengan kebudayaan,” ujarnya.
Kebudayaan Aceh Sangat Mewah
Menurut Cek Midi lagi, kebudayaan Aceh merupakan suatu kebudayaan yang sangat mewah, mewah dan mahal. Tentu kebudayaan itu dimiliki oleh semua negara sesuai dengan peradabannya masing-masing.
Ketika berbicara kebudayaan Aceh, sambung Cek Midi, itu berbicara akan panggung peradaban. Panggung kebudayaan pertama di Asia Tenggara. Terutama kebudayaan Islam.
Aceh hari ini dalam konteks syariat Islam, kata Cek Midi, tentu harus ada elemen-elemen dan icon-icon khusus untuk mengambil momen yang baik pada PKA tahun ini.
“Siarkan cara-cara kebudayaan Islam yang sesungguhnya di Aceh. Seperti kekhususan, keistimewaan. Jadi, harus ditampilkan pada PKA,” tuturnya.
Dalam hal ini, Cek Midi meminta pemerintah Aceh untuk berpikir sedini mungkin terkait pagelaran PKA tersebut. “Satu atau dua tahun yang lalu mesti sudah dipikirkan dengan matang,” paparnya.
Ia menuturkan, pemerintah maupun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh selaku pelaksana harus menempatkan orang-orang yang benar-benar pakar dalam urusan PKA.
Jadi, tambah Cek Midi, dalam menata konsep PKA, harus melibatkan orang-orang yang pakar. “Bukan hanya rapat, rapat dan rapat saja. Tapi tidak menghasilkan sesuatu yang baik untuk Aceh,” ulasnya.
Penghargaan dan Apresiasi
Lebih lanjut Cek Midi menjelaskan, PKA itu mesti memberi penghargaan dan apresiasi kepada seluruh pewaris budaya dan pegiat-pegiat budaya yang ada di Aceh.
Baik seniman seni tutur, kata Cek Midi lagi, maupun pemain sandiwara, pencipta lagu Aceh, orang-orang yang menjaga produk-produk budaya, serta para arkeolog yang sampai saat ini menjadi juru kunci terkait warisan budaya.
Hal ini, tutur Cek Midi, pemerintah Aceh harus segera merespon, harus cepat dan istimewa. Jangan nanti terulang seperti kejadian pada PKA VII.
“PKA VII dulu, setelah disediakan tempat di museum Aceh, hanya memberatkan orang-orang pegiat dan pelaku budaya,” terangnya.
Seingat Cek Midi, pada PKA VII jangankan untuk menghormati para pelaku seni dan pegiat budaya, untuk sekadar ongkos bawa angkut barang saja tidak cukup.
“Maka pada PKA tahun ini, harus dipikir cara-cara yang santun untuk menghormati para pegiat budaya,” tandasnya.
Semua pegiat seni dan pelaku budaya Aceh, kata Cek Midi lagi, harus ditempatkan pada tempat yang khusus. Misal seperti pencipta lagu Aceh, penulis sastra, penghikayat atau pengarang hikayat, pun semua yang berkaitan dengan budaya.
Jangan Dicampuradukkan
Di lain sisi, Cek Midi memaparkan, pagelaran PKA nantinya, mesti ada tempat-tempat khusus, jangan dicampuradukkan pada satu lokasi, misalnya di taman Ratu Safiatuddin.
“Jangan dicampuradukkan dengan orang dengan orang jualan dan sebagainya,” timpal Cek Midi.
Ini, sambung Cek Midi, namanya saja Pekan Kebudayaan, seharusnya menjadi tempat memproduksikan produk-produk budaya Aceh yang memiliki khasnya tersendiri.
Cek Midi mencontohkan, katakanlah PKA ini seperti acara tahunan PLN, dimana PLN akan memamerkan bagaimana sejarah perjalanan pelita (lampu) sebelum listrik ada. Demikian juga dengan budaya. Harus mampu menghadirkan semua produk sejarah perjalanannya.
“PLN menampil sesuatu sebelum ada lampu, misalnya. Jadi, orang-orang akan tahu dan mengingat. Demikian nilai-nilai yang ditampilkan,” imbuhnya.
Namun, kata Cek Midi, bukan bermaksud untuk menolak hal-hal yang modern. Bisa saja yang modern ditampilkan, tapi produk-produk tradisi yang dimodernisasi atas inovasi.
“Tapi, sebuah kebudayaan masa lalu wajib dibuktikan pada PKA. Itu hal yang paling pokok,” tegasnya.
Event Profesional dan Pentingnya Seminar Kebudayaan
Kemudian, tambah Cek Midi, memang perlu adanya even-even untuk mengingatkan orang Aceh pada sejarah-sejarah kebudayaan. Pun, agenda-agenda yang dibuat harus profesional.
Hal yang paling penting dalam hal ini, sambung Cek Midi, adalah seminar kebudayaan. Menurutnya, seminar-seminar kebudayaan ini harus dibuat di kampus-kampus yang ada di Aceh.
“Jangan fokus di satu tempat. Harus dipilah-pilah. Masih banyak lokasi-lokasi lain. Jangan hanya seputar museum dan taman Sulthanah Safiatuddin semata,” ucapnya.
Cek Midi menyebutkan, selama ini masih banyak situs-situs dan makam-makam para ulama yang tercampak masih tidak tersentuh dan dipedulikan.
“Seperti Syiah Kuala, Tgk. Syik di Bitai serta masih banyak lagi. Padahal PKA menjadi momentum untuk memperkenalkan ini kepada para pendatang,” ungkapnya.
PKA Ibarat Pasar Malam
Cek Midi menyatakan, dari pengalaman yang telah ada, PKA tak ubahnya pasar malam, bukan untuk menampilkan produk-produk budaya yang memiliki kekayaan peradaban masa lalu.
“Tidak menampakan kekayaan peradaban masa lalu yang begitu tinggi,” terangnya.
Hal itu, kata Cek Midi, dapat dibuktikan dengan kondisi taman Sulthanah Safiatuddin pada PKA VII. Di mana, dalam pergelaran tersebut hanya diramaikan oleh pasar-pasar aksesoris.
“Kita maunya di sini, produk budaya yang dijual berangkat dari kekhasan Aceh. Kalau itu tidak ada, tidak ada arti dari sebuah kebudayaan,” pungkasnya.[]
Penulis: Adam Zainal
Editor: Thayeb Loh Angen.








