29.7 C
Banda Aceh
Kamis, Desember 9, 2021

Pejuang, Rakyat, dan Partai Aceh (1)

Pejuang, Rakyat, dan Partai Aceh (1)

Kita sudah menyadari sekarang bahwasanya, ketika rasa sayang dan hormat kita para pejuang Aceh (eks kombatan dan sipil GAM) kepada rakyat negeri Aceh menghilang, maka bersamaan itu pula, rasa percaya dan dukungan mereka kepada Partai Aceh tidak ada lagi.

Oleh: Thayeb loh Angen
Budayawan, Entrepreneur

Partai Aceh merupakan salah satu partai politik lokal di Aceh, Sumatra, Indonesia. Partai Aceh didirikan berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) sebagai turunan MoU Helsisnki (Kesepahaman antara GAM dan Pemerintah RI), di Helsinki, ibukota Finlandia, 15 Agustus 2005.

Setelah MoU Helsinki, struktur pemerintahan pejuang Aceh (GAM) dialihkan ke dalam organisasi yang sesuai dengan hukum RI, yaitu menjadi Komite Peralihan Aceh (KPA). Seluruh pengurus anggota KPA merupakan para pejuang Aceh sebelumnya, baik dari kalangan eks kombatan maupun sipil GAM.

KPA Mendirikan Partai Aceh

Partai Aceh ikut dalam pemilihan umum legislatif tahun 2009 dan meraih suara terbanyak di Aceh dengan menguasai 47% kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), yaitu 21 kursi dari 69 yang tersedia.

Namun, pada pemilihan umum legislatif selanjutnya, jumlah kursi Partai Aceh di DPRA tidak dapat dipertahankan sesuai kebutuhan.

Mengapa Partai Aceh tidak dapat memenagkan persaingan dalam politik praktis? Mengapa jumlah kursi yang didapatkan di DPRA berkurang?

Sebagai manusia yang memiliki pandangan jauh ke depan (visoner), kita perlu menemukan solusi (penyelesaian) untuk semua itu.

Mengapa penting bagi penduduk Aceh menjadikan Partai Aceh sebagai partai paling banyak kursi di DPRA dan DPRK (Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota) dan menjadi pemerintah setiap eksekutif (Gubernur Aceh dan Bupati/Wali Kota)?

Wahé rakan-rakan di negeri Aceh

Orang-orang di luar Aceh memahami bahwasanya, kekuatan perpolitikan di Aceh, kehormatan politik Aceh berada pada partai lokal di Aceh, khususnya Partai Aceh. Dalam politik keacehan, setiap penduduk Aceh, baik kita sebagai pendukung, anggota, atau bukan, tetap memiliki kepentingan untuk menguatkan Partai Aceh dan mengembalikannya ke tujuan ia didirikan.

Kita memahami hukum sebab akibat, bagaimana sifat baik masyarakat Aceh dalam segala tingkatan. Mereka mendukung pejuang Aceh GAM karena simpati dan persaudaraan.

Hal itulah yang membuat GAM membesar begitu cepat hanya dalam beberapa tahun, dari tahun 1998 sampai 2005. Hanya dalam lima tahun, GAM telah mengguncangkan keamanan RI di utara Sumatra dan namanya telah dikenal di seluruh penjuru dunia.

Masyarakat Aceh dan pihak yang memusuhi GAM dulu memahami hal itu, akan tetapi ironisnya, kita para pejuang Aceh (eks kombatan dan sipil GAM) sendiri tidak memahaminya lagi. Kita tidak lagi mengingat bahwasanya kita ada karena didukung mati-matian oleh sekalian rakyat Aceh, dengan darah, harta, cinta, dan ketakutan mereka.

Akan tetapi, setelah perang berakhir dengan ditandatanganinya Mou Helsinki, kita belum pernah sekalipun berterima kasih kepada rakyat Aceh karena telah membantu kita membentuk “mimpi Aceh”, kita tidak pernah meminta maaf atas kekurangan kita, yang belum mampu menyejahterakan rakyat negeri Aceh walaupun sudah 16 tahun perdamaian. Jangankan rakyat secara keseluruhan, bahkan korban konflik saja belum dapat kita sejahtrakan.

Kita adalah pelaku konfik itu, maka kitalah yang bertanggung jawab untuk menenangkan hati mereka. Kita berjuang untuk rakyat negeri Aceh, maka tugas kitalah untuk menyejahterakan mereka sekarang.

Jika sebagian kita pun belum sejahtera, maka ajaklah rakyat untuk berjuang bersama-sama supaya pemerintah menerapkan kebijakan yang adil untuk kita bersama. Ingat, people are the first, rakyat yang pertama.

Wahé rakan-rakan pejuang di negeri Aceh

Kita, sebelumnya adalah pahlawan bagi sekalian rakyat negeri Aceh. Karenanyalah, pasangan Gubernur Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar, S.Ag, yang didukung para pejuang Aceh (eks kombatan dan sipil GAM), kalangan intelektual dan gerakan sipil Aceh menang telak. Karena itulah, pada pemilu 2009 Partai Aceh mendapatkan kursi terbanyak di DPRA.

Rakyat Aceh telah memberikan waktu kepada para pejuang Aceh (eks kombatan dan sipil GAM) dan Partai Aceh untuk mengikuti ujian politik, dari tahun 2006 sampai tahun 2014.

Ternyata, ujian itu tidak dapat kita selesaikan dengan baik sehingga rakyat Aceh tidak memberikan kita nilai terbaik. Akibatnya, jumlah kursi pada pemilihan umum legislatif tahun 2014, Partai Aceh kehilangan banyak kursinya, hanya mampu mendapatkan 26 kursi dari 81 kursi yang disediakan.

Walaupun rakyat mulai mengurangi kepercayaannya pada kinerja anggota DPRA dari Partai Aceh, tetapi tidak pada gubernur saat itu. Partai Aceh belum mencalonkan gubernur dan wakil gubernur secara langsung atas namanya. Oleh karena itu, pada pemilihan Gubernur Aceh tahun 2012, rakyat memilih calon dari Partai Aceh, yaitu Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf, yang kemudian menang.

Akan tetapi, karena beberapa hal, desas desus kepemimpinan membuat rakyat mulai menarik diri sehingga pada pemilihan umum legislatif tahun 2014, kursi untuk Partai Aceh di DPRA berkurang lagi walaupun jika dibandingkan dengan partai lain masih terbanyak.

Ketika sudah menyadari kekurangan dukungan demikian, tetapi kita masih batat (bebal), belum juga memperbaiki kinerja dan sikap kita terhadap rakyat. Kita masih belum bersedia beradaptasi antara tujuan kita yang mulia dulu dengan cara politik saat ini.

Oleh karena itu, pada pemilihan gubernur tahun 2017, pasangan yang kita calonkan dari Partai Aceh tidak menang lagi. Saat itu, belum juga kita memperbaiki sikap diri, maka rakyat kembali mengurangi dukungannya, dengan memberikan hanya 18 kursi untuk Partai Aceh dari 81 kursi yang tersedia di DPRA.

Wahai rekan-rekan pejuang Aceh

Kiranya cukup sudah teguran Allah untuk kita dengan cara mengizinkan rakyat mengurangi dukungannya untuk Partai Aceh. Marilah kita memperbaiki diri, mengingat kembali sumpah dan janji kita kepada Allah dan kepada bangsa ini.

Mari kita mengingat kembali tujuan kita dulu bergabung dengan perjuangan. Dulu, kita ikhlas melakukan apapun demi rakyat kita di Aceh. Mengapa sekarang, setelah keadaan sudah dimudahkan, kita tidak melanjutkan hal itu.

Dulu, antara tahun 2008 sampai MoU Helsinki, kita menghormati setiap orang yang kita jumpai di manapun. Kita mengangkat tangan memberikan salam untuk siapapun yang kita temui di jalan, di kedai kopi, baik kita kenal maupun tidak.

Hal tersebut kita lakukan karena kita meyakini bahwasanya mereka adalah rakyat kita, rakyat yang tengah kita perjuangkan nasibnya supaya lebih baik, dengan diri, harta, dan bahkan nyawa kita sekalipun. Ke manakah rasa hormat kita itu sekarang?

Kita sudah menyadari sekarang bahwasanya, ketika rasa sayang dan hormat kita para pejuang Aceh (eks kombatan dan sipil GAM) kepada rakyat negeri Aceh menghilang, maka bersamaan itu pula, rasa percaya dan dukungan mereka kepada Partai Aceh tidak ada lagi.

Wahé rakan-rakan pejuang di negeri Aceh, rakyat tidak membutuhkan apapun dari kita. Mereka tidak membutuhkan bantuan kita. Mereka hanya ingin haknya dipenuhi, yang sekarang dititipkan oleh Allah Ta’ala pada kita. Rakyat negeri Aceh dapat hidup tanpa kita, tetapi kita tidak dapat hidup tanpa mereka.

Kembalilah kepada kesejatian kita yang dulu, pernah menghormati setiap orang di negeri Aceh. Dengan begitu, insyaallah po teuh Allah (Pencipta kita Allah) akan mengizinkan rakyat mendukung kita kembali.

Geutanyoë wajéb tamumat keulai bak taloë han putôh (Kita mesti bergantung pada tali yang tidak akan putus), yakni iman kepada Allah. Tetaplah taat kepada pemimpin dan menjadi warga negara yang baik dalam bingkai NKRI. Selamat berjuang untuk menyejahterakan rakyat kita, rakyat negeri Aceh.[]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA POPULER

Terbaru

Abdul Rajab Dilantik Jadi Pj Kepala Kampong Persiapan, Subulussalam Beringin

  SUBULUSSALAM - Abdul Rajab, S.STP dilantik sebagai Pejabat (Pj) Kepala Kampong Persiapan Subulussalam Beringin,...

Ini Ketentuan dalam Ingub Aceh Soal PPKM yang Berlaku pada Lingkungan Kerja Instansi Pemerintah

BANDA ACEH - Selain mengatur pemberlakuan PPKM Mikro sampai tingkat gampong/desa, dalam Instruksi Gubernur...

Ini Waktu Shalat Paling Besar Pahalanya

Ustaz Khalid Basalamah mengatakan shalat merupakan salah satu kewajiban yang harus dikerjakan kaum Muslimin....

PPKM Mikro di Aceh Kembali Diperpanjang, Begini Pemberlakuan Tingkat Gampong

BANDA ACEH - Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengeluarkan Instruksi Gubernur Aceh Nomor 26/INSTR/2021/ tentang...

Rakyat Aceh Sumbang Mobil Tangki Air untuk Warga Gaza Palestina

LHOKSEUMAWE - Ikatan Muslimin Aceh Meudalat (IMAM) bekerja sama dengan Hilal Merah Indonesia-Front Persaudaran...

Capaian Vaksinasi Tanggung Jawab Bersama, Masyarakat Diimbau Ikut Membantu

BANDA ACEH - Kapolda Aceh Irjen Pol. Ahmad Haydar mengajak seluruh elemen masyarakat membantu...

Harga CPO Terus Bergerak, TBS Diperkirakan Bisa Tembus Rp 3.000 per Kilogram

SUBULUSSALAM - Harga Tandan Buah Sawit (TBS) kelapa sawit terus mengalami kenaikan sejak setahun...

Bupati Gayo Lues Lantik 45 Pengulu, Ini Nama-Namanya

BLANGKEJEREN - Bupati Gayo Lues H. Muhammad Amru melantik dan mengambil sumpah jabatan 45...

Seluruh Kepala Sekolah dan Guru Diminta Maksimalkan Capaian Vaksinasi Siswa

BANDA ACEH - Seluruh kepala sekolah dan guru SMA maupun SLB yang kewenangannya di...

Ini Kata Sekretaris Perusahaan PT PAG Soal Kunjungan Ahok

LHOKSEUMAWE – Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, berkunjung ke...

HMI Lhokseumawe Serahkan Petisi kepada Ahok saat Berkunjung ke PAG

LHOKSEUMAWE - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhokseumawe dan Aceh Utara menyerahkan petisi dan...

Capai Target Vaksinasi, Muspika Muara Satu dan Nisam Dapat Penghargaan

LHOKSEUMAWE – Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto memberikan penghargaan kepada Muspika Muara Satu dan...

Gubernur Aceh Silaturahmi dengan Ketua Yarsis dan Rektor Unusa

SURABAYA - Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah MT melakukan silaturahmi dengan Ketua Yayasan Rumah...

Massa IKBAL Hadang Mobil Rombongan Ahok di PAG Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE - Masyarakat tergabung dalam Ikatan Keluarga Blang Lancang (IKBAL) menghadang mobil rombongan Komisaris...

Alquran dan Sains Ungkap Gunung Selalu Bergerak Dinamis

GUNUNG Semeru meletus dan mengeluarkan sejumlah material vulkanis pada Sabtu, 4 Desember 2021, sekira...

Ini Langkah Sederhana Istri Menuju Surga

Seorang perempuan itu sejatinya sangat mudah untuk menjadi penghuni surga. Banyak hadis yang menjelaskan...

Aceh Raih Tiga Juara Nasional Vokalis Gambus dan Pop Religi di NTB

LOMBOK –Tiga putra putri Aceh di bawah binaan Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (LASQI)...

Pidie Jaya Juara Umum Pra-PORA Muaythai

BANDA ACEH – Para fighter asal Kabupaten Pidie Jaya sukses mendominiasi perolehan medali pada...

SMAN 9 Tangsel dan SMPN 19 Jakarta Selatan Juara Festival Tari Ratoh Jaroe

JAKARTA - Panitia Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) akhirnya menyerahkan Piala Bergilir Gubernur Aceh...

Milad GAM, Bendera Bintang Bulan Sempat Berkibar di Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE - Warga dan mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tergabung dalam Majelis Wilayah...