MATAHARI mulai meninggi. Awan-awan kecil tertata rapi di sekeliling gunung. Nyanyian burung terdengar bersahut-sahutan. Angin behembus perlahan menggelitiki perut. Rumput bergoyang perlahan. Menari-nari gembira. Menandakan pagi ini adalah pagi yang ceria dan menggembirakan.
Cerahnya langit pagi ini tak secerah hati Dhea. Hatinya masih terasa sakit karena kecelakaan beberapa hari yang lalu. Kecelakaan yang sukses merebut satu kaki tersayangnya. Kecelakaan yang sukses mengubahnya menjadi sosok yang pemurung.
Dhea merasa malu dengan kondisi fisiknya. Dhea malu memiliki fisik seperti sekarang. Hatinya terasa sakit memandang kakinya yang dulu ada dua, kini hanya tinggal satu. Tetes demi tetes air mata terus membanjiri pipinya. Dhea tidak bisa menerima bahwa fisiknya tidak lagi sempurna seperti dulu.
Dhea membayangkan dirinya akan ditertawakan, dihina dan diremehkan. Dhea memba-yangkan dirinya tak bisa lagi berlari seperti dulu. Ia tak lagi bisa berlari mengejar sahabat-saha-batnya yang selalu berbuat usil padanya. Dhea tak lagi bisa berjalan bersama sahabat-sahabatnya ke tempat-tempat menyenangkan.
Tetapi Dhea juga merasakan ketakutan yang besar. Dhea takut, bila sahabat-sahabatnya akan menjauhinya. Dhea takut, sahabatnya akan malu bersahabat dengannya. Dhea takut, orang-orang juga ikut menghina dan menjauhi sahabat-sahabatnya karena fisiknya saat ini. Dhea benar-benar merasakan ketakutan itu. Rasa percaya dirinya hancur berkeping-keping. Dhea yakin, diri-nya hanya dapat menjadi masalah untuk sahabat-sahabatnya.
Hari demi hari, Dhea mulai menjauhi sahabat-sahabatnya. Dhea murung dan menyendiri. Dhea yakin, bila dirinya tidak ada, sahabatnya akan baik-baik saja, tidak dijauhi maupun dihina oleh orang-orang. Biarlah Dhea yang merasakan semua penderitaan itu sendiri. Tanpa sahabat-sahabat tercintanya.
Sahabat-sahabat Dhea, Ninda, Sarah dan Zera, mulai merasa Dhea menjauhi mereka. Mereka dapat merasa bahwa Dhea telah berubah sejak kecelakaan. Dhea tak lagi ceria seperti dulu. Tak ada lagi Dhea yang ceria dan menghibur mereka. Tak ada lagi sosok Dhea di sisi mereka. Mereka rindu dengan Dhea. Mereka menerima Dhea apa adanya.
Mereka rindu sekali dengan Dhea. Mereka rindu sosok ceria yang dulu selalu ada bersa-ma mereka. Mereka rindu kata-kata menghibur Dhea kala mereka sedih. Mereka rindu usapan tangan Dhea menghapus air mata mereka. Begitu besar rasa rindu mereka kepada Dhea. Mereka mulai memutuskan untuk berbicara dengan Dhea.
“Dhe, kenapa sih, kamu mulai menjauhi kami? Kami rindu sekali padamu. Rindu tawamu, candamu, segala-galanya kami rindu,” ucap Sarah sambil menahan sedih. Ninda dan Zera mengangguk-angguk setuju.
Dhea menghela napas. Pertanyaan ini membuat hatinya terasa sedih. Sahabat-sahabatnya mulai menanyakan penyebab ia menjauhi mereka. Sungguh! Dhea tak ingin menjauhi mereka se-perti sekarang. Dhea rindu dapat berjalan ke kantin bersama. Dhea rindu dapat bercanda dan tertawa bersama mereka. Dhea rindu dapat bersama mereka. Dhea rindu! Dhea juga merindukan segala-galanya bersama sahabat-sahabatnya.
Dhea ingin mengakhiri ini. Dhea ingin mengakhiri semua penderitaan ini. Dhea sungguh tak kuat. Dhea tak kuat menghadapi semua ini. Dhea ingin kembali bersama sahabat-sahabatnya. Dhea ingin kembali melukiskan kisah gembira mereka. Dhea ingin membisikkan bahwa ia ingin kembali. Sungguh, rasa rindu Dhea begitu besar!
Tapi Dhea tak boleh kembali. Kembalinya Dhea hanya akan membuat sahabat-sahabat-nya dihina. Hadirnya Dhea kembali hanya akan membuat sahabat-sahabatnya dijauhi orang-orang. Hadirnya Dhea kembali hanya dapat membuat sahabat-sahabatnya ikut menderita bersamanya. Dhea harus menolak! Dhea harus menolak kembali!
“Maaf. Aku tak bisa kembali bersama kalian! Terima kasih atas segala-galanya yang telah kalian berikan,” ucap Dhea. Ia tak kuat. Ia tak tega. Ia bergegas pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya. Ia mencoba pergi. Ia takkan mungkin kembali.
Sahabat-sahabat Dhea diam terpaku. Membiarkan Dhea pergi menjauh. Mereka sedih, apa yang harus mereka lakukan supaya Dhea kembali. Mereka bingung. Apakah Dhea tidak rindu bersama mereka? Apakah Dhea tidak ingin kembali bersama mereka? Mengapa? Mereka rindu pada Dhea, apa Dhea tidak merindukan mereka?
“Sudahlah, kita berikan Dhea waktu dulu. Dhea membutuhkan waktu untuk memikirkan semua ini,” ucap Sarah sambil menunduk.
“Apakah Dhea tidak merindukan kita, Sar? Mengapa Dhea pergi, Sar? Kenapa? Apa dia minder dengan kondisinya?! Apa dia berpikir bahwa kita akan meninggalkan dia?! Apa dia berpikir bahwa dia hanyalah sumber masalah bagi kita? Kenapa Sarah?!” tanya Zera bertubi-tubi. Zera sungguh kesal dengan situasi ini.
“Sudahlah, Zer! Tidak mudah bagi Dhea menerima semua ini. Dia membutuhkan waktu. Mungkin aku juga begitu bila di posisinya. Kita sabar saja menunggu. Bila sudah pada waktu yang tepat, kita tanyakan lagi pada Dhea,” ucap Ninda.
Dhea merenung. Satu pun penjelasan guru di depannya itu tidak didengarnya. Ia tak sanggup melihat spidol yang menari-nari di papan. Dhea masih memikirkan kejadian tadi. Keja-dian yang benar-benar membuat Dhea sedih. Dhea melihat ke arah sahabat-sahabatnya. Dhea melihat mereka duduk berdekatan. Sesekali mereka tertawa riang. Dhea tersenyum tipis. Seharusnya, Dhea juga ada disitu. Seharusnya ia juga ikut tertawa di situ. Bukan terdiam merenung seperti ini.
Hari demi hari, Dhea semakin murung. Sesekali Dhea izin ke kamar mandi untuk menangis. Dhea tersiksa dengan semua ini. Ninda, Sarah dan Zera tak tega melihat Dhea. Mereka sepakat untuk berbicara kembali dan membujuknya supaya kembali pada mereka.
“Dhe, kami mohon, Dhe! Jangan jauhi kami seperti ini! Kami benar-benar merindukan-mu! Kami membutuhkanmu, Dhe! Jangan seperti ini!” pinta Ninda.
“Aku tidak bisa. Lihatlah aku! Aku cacat! Aku hanya akan membuat kalian malu! Aku hanya akan membuat kalian dijauhi orang-orang! Lebih baik, aku tanggung semua ini sendiri!” Kata Dhea.
“Kamu pikir, kami bersahabat denganmu itu hanya karena fisik?! Tidak Dhe! Walaupun ada orang seperti itu, kami ini berbeda, Dhe! Kami tulus. Bukan memandang fisik! Jangan sama-kan kami dengan orang seperti itu!” ujar Zera dengan nada mulai meninggi. Ia sedikit kesal kare-na Dhea menjauhi mereka hanya karena minder.
“Apa kalian siap menanggung malu bila bersamaku? Apa kalian siap dijauhi orang-orang karena kalian dekat denganku? Apa kalian siap dihina karena bersahabat dengan orang sepertiku?” Tanya Dhea.
“Tentu saja! Kami sahabatmu! Sahabat selalu ada kala suka maupun duka. Begitu juga dengan kami, Dhe! Kami ini sahabatmu, bukan musuhmu,” ucap Ninda.
“Kami takkan biarkan orang-orang menyakitimu, Dhe! Kami sayang padamu! Untuk apa kita bersahabat jika hanya memandang fisik? Untuk apa? Kami menerimamu apa adanya. Karena itu, persahabatan ini harus tetap berlanjut,” ucap Sarah sambil tersenyum.
Dhea tersenyum. Ia bahagia sekali. Ia benar-benar bahagia dan tak menyangka sahabat-sahabatnya begitu tulus bersahabat dengannya. Ia tak menyangka sahabat-sahabatnya begitu menyayanginya. Ia bahagia, ia tak salah memilih sahabat.
“Maaf aku telah menjauhi kalian. Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf,” ucap Dhea sambil menghela napas. Sahabat-sahabatnya tersenyum mengiyakan.
Kini, berkat kesabaran dan ketulusan sahabat-sahabat Dhea, Dhea tak lagi minder. Ia kembali menjadi sosok yang ceria. Dhea kini sadar bahwa kecacatan fisik bukan penghalang dirinya untuk bahagia. Dhea berharap persahabatan ini akan menjadi persahabatan yang abadi.[]
Karya: Azkya Kamila Maharani, Siswa SMP Sukma Bangsa Bireuen.



