Oleh: Muhajir*

Jam menunjukkan pukul 11.23 WIB, siang yang cerah itu terpantau ada sekira 20 orang lebih pasien poli kebidanan RSUD SIM Nagan Raya, sedang menunggu antrian untuk dipanggil. Hari itu, Senin, 3 Februari 2025.

Sebagiannya duduk di atas kursi tunggu dan sebagian lain duduk lesehan di bawah lantai. Kondisi yang santai, sejuk dan damai membuat pasien merasa nyaman menunggu namanya dipanggil.

Siang itu; dokter yang bertugas baru saja melakukan kunjungan dan kontrol ke ruangan pasien rawat inap. Setelah dokter yang bertugas itu istirahat sebentar, mulailah para nakes atau petugas kesehatan poli kebidanan memanggil pasien rawat jalan untuk diperiksa.

Sepintas hal itu tidak ada persoalan. Namun, ada hal yang menyedihkan dan memilukan yang sedang terjadi pada pelayanan Poli Kebidanan RSU SIM, rumah sakit yang menjadi kebanggaan bagi masyarakat bumi Tgk Bantaqiah itu.

Betapa tidak, jumlah pasien yang banyak itu, ditangani oleh seorang dokter saja. Dokter itu harus bolak balik dari Poly Kebidanan, ruang rawat inap dan juga ruang operasi.

Siang itu, terpantau ada pasien rawat inap yang didorong dari ruangannya dibawa ke poly kebidanan sekedar agar bisa dikontrol perkembangan kesehatan pasien oleh dokter.

“Kadang kala dokter juga harus bergegas untuk menuju ke ruang operasi jika ada pasien yang darurat,” ujar salah seorang pasien yang sedang menunggu gilirannya dipanggil. Namun, tidak mahu memberitahu nama dan alamatnya.

Tragedi ini sungguh menyedihkan. Seharusnya jumlah pasien yang banyak harus ditangani oleh lebih dari seorang dokter.

Manajemen RSUD SIM dan Dinkes Nagan Raya seharusnya lebih jeli melihat kejadian ini. Kesehatan dan kebugaran dokter semestinya harus didahului agar sang dokter bisa menangani pasien lebih baik dan bermutu.

Lain hal tragedi yang dipaksakan seperti ini bisa menyebabkan membludak dan terbengkalainya pasien. Hingga pukul 13.00 WIB saja, masih banyak pasien yang belum mampu ditangani oleh seorang dokter. Sampai jam berapakah seorang dokter harus menangani pasien yang membludak ini?

Tiadakah pemikiran pihak yang bersangkutan untuk memberi waktu yang cukup bagi dokter untuk istirahat dari lelahnya kegiatan medis yang harus ia jalani?
Semoga Allah memberi kekuatan dan ketabahan bagi dokter ini.

Sisi lain, tragedi yang terjadi juga merugikan pasien. Banyak waktu pasien yang terbuang akibat pelayanan yang tidak optimal. Masih dimaklumi jika pasien yang dekat dengan RSU SIM. Namun, bagaimana kondisi yang harus dialami oleh Pasien yang jauh dari RSU SIM?

Seyogyanya Nagan Raya dengan potensi dan kekayaan yang ada, mampu memberi pelayanan yang terbaik bagi masyarakatnya.

Ada ratusan hektar sawit yang membayar pajak kepada Nagan Raya, juga ada perusahaan tambang batu bara raksasa di kabupaten ini. Lain hal juga ada beberapa PLTU yang menyumbang ribuan KwH meter listrik untuk disalurkan hingga seluruh provinsi Aceh dan Pulau Sumatera.

Belum lagi dari sumber pendapatan lain seperti pajak bumi dan bangunan, pajak kendaraan bermotor, pajak penjualan ritel dan segudang pajak-pajak yang seharusnya dipergunakan sebaik-baiknya untuk kemakmuran dan pelayanan yang optimal untuk warga Nagan Raya tercinta ini.

Peristiwa ini diharapkan bisa menjadi perhatian serius semua pihak. Baik itu manajemen RSUD SIM, Dinkes Nagan Raya maupun Pj Bupati Nagan Raya.

Penulis hanyalah rakyat biasa yang berprofesi sebagai petani. Tiada kekuatan dan upaya untuk menyelesaikan persoalan yang sangat pelik ini. Namun, penulis merasa, pihak terkait pasti mampu mengatasi persoalan ini sebagaimana tupoksi dan kewajibannya sebagai pemangku kepentingan publik.

Kepada Allah penulis berharap semoga pihak terkait diberikan kesehatan dan kekuatan dalan menjalankan tugasnya. Niscaya kerja dilakukan, insya Allah akan bernilai ibadah di sisi Allah azza wajalla.[]

Muhajir, Warga Seunagan Timur Nagan Raya.