“Jadi harus kita ketahui bahwa bagi orang Aceh kawasan kuburan itu adalah kawasan yang paling mulia artinya kawasan central (penting). Kalau kita mengejar proyek pembangunan IPAL itu harus selesai, itu sudah tentu salah, karena telah mencoreng kemuliaan dan kesuciannya orang Aceh. Jadi kita jangan memikirkan proyek untuk menyelesaikan masalah sesaat, tetapi harus kita ingat membangun IPAL disitu sama saja kita menghilangkan sejarah dan peradaban Aceh,” tegasnya.
Baca Juga: Keturunan Raya Aceh Tolak IPAL Gampong Pande Dilanjutkan.
Tuanku Muhammad menambahkan, jika tidak sanggup menciptakan Aceh semakin hebat seperti dulu, jangan sampai meruntuhkan dan menghilangkan bukti sejarah Aceh.
“Yang harus kita tau sekarang, warisan dari masa kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam yang masih terjaga dan bisa dengan mudah dijumpai di Aceh itu ada dua yang pertama itu batu nisan, dan kedua yaitu sistem pendidikan dayah. Seharusnya kita selaku bangsa Aceh ini kita harus menjaganya bukan merusaknya dengan pembangunan IPAL,” tambahnya.
Tuanku Muhammad mencontohkan, Belanda saja yang jauh dari Aceh sangat menjaga kuburan bangsanya seperti di komplek pemakaman Kerkhoff Peutcut di belakang museum tsunami. Tapi Pemko Banda Aceh malah ingin menghancurkan dan menghina kuburan endatu sendiri dengan menjadikan komplek pembuangan sampah dan limbah.
“Saya berharap Pemko Banda Aceh menghentikan keinginannya untuk melanjutkan proyek IPAL di Gampong Pande. Belum terambat untuk mencari solusi yang baik, karena bagaimana pun kemulian Aceh harus tetap dijaga,” pungkasnya.[Zulfikri]
Baca Juga: Wali Kota Banda Aceh Surati PUPR Minta Proyek IPAL Dilanjutkan.




