BANDA ACEH – Masyarakat menyoroti langkah Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, menyurati Menteri PUPR agar melanjutkan proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Gampong Pande. Pasalnya, kebijakan Pemko Banda Aceh di bawah komando Aminullah itu dinilai bertolak belakang dengan upaya masyarakat yang sudah berkalang tahun mendorong pemerintah untuk menyelamatkan situs sejarah di Gampong Pande.
Baca juga: Wali Kota Banda Aceh Surati Menteri PUPR: Lanjutkan Proyek IPAL di Gampong Pande
Usaha menyelamatkan situs Gampong Pande dan mendorong pemerintah ikut melakukan langkah serupa sudah bertahun-tahun dilakukan Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA), Central of Information For Sumatra Pasai Heritage (CISAH), dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pecinta sejarah lainnya maupun tokoh masyarakat. Usaha-usaha masyarakat tersebut mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk dari Sejarawan Dato’ Dr. Annabel Teh Gallop, FBA. (Fellow of the British Academy), London.
Sebagai sejarawan dan peneliti naskah seluruh Nusantara, Annabel Gallop menilai Aceh menduduki posisi istimewa dari segi taraf sejarah dan kebudayaan di Asia Tenggara. “Dalam semua bidang penelitian saya, seolah-olah semua jalan menjurus ke Aceh. Cap atau stempel Melayu buatan setempat tertua di Indonesia ialah cap Sultan Alauddin Riayat Syah Aceh sekitar tahun 1600. Surat emas paling besar, paling bagus, dan paling tua di seluruh Indonesia ialah surat Sultan Iskandar Muda kepada Raja Inggris tahun 1615. Naskah mushaf Alquran berhias yang paling banyak di Nusantara terdapat di Aceh”.
“Dan salah satu bidang kesenian paling istimewa di Aceh ialah batu nisan, dan batu nisan Aceh terkenal sebagai batu nisan Islam yang tertua, terbagus dan terbanyak di seluruh Asia Tenggara. Justru dari bukti batu nisan dapat diketahui bahwa kesultanan Islam pertama di Asia Tenggara terletak di kawasan Aceh,” kata Annabel Gallop.

(Annabel Teh Gallop. Foto: istimewa)
Jelas, kata Annabel Gallop, batu nisan Aceh juga mempunyai nilai sejarah yang tak terbayangkan, namun sampai sekarang hanya beberapa saja yang telah dikaji dan diterbitkan. “Coba membayangkan, betapa banyak informasi sejarah yang penting yang sekarang masih ‘terkunci’ dalam ratusan batu nisan Aceh yang masih belum terdokumentasi dan dikaji secara mendalam. Maka adalah sangat penting untuk melestarikan situs-situs bersejarah di Aceh yang sarat dengan kuburan lama, sebagai khazanah bangsa”.
Oleh sebab itu, Annabel Gallop sangat mendukung usaha teman-teman pencinta sejarah di Aceh untuk melindungi sejumlah situs yang mempunyai arti dan nilai sejarah yang tak terhingga. “Salah satunya yang sangat penting ialah Gampong Pande yang kaya dengan peninggalan sejarah, yang belum tereksplorasi dengan terperinci secara arkeologis. Situs-situs bersejarah seperti ini tidak hanya bermakna untuk sejarah Aceh, tetapi juga untuk sejarah Indonesia, sejarah dunia Islam, dan bahkan sejarah seluruh dunia,” ungkapnya.




