Senin, Juli 22, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaNewsPemerintah Aceh Peringati...

Pemerintah Aceh Peringati 113 Tahun Wafatnya Cut Nyak Dien

SUMEDANG – Pemerintah Aceh bersama Pemerintah Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, memperingati 113 tahun wafatnya pahlawan nasional asal Aceh, Cut Nyak Dien, 20 November 2021. Sedianya, kegiatan tersebut diselenggarakan pada 6 November 2021. Namun, karena pandemi kegiatan tersebut diundur.

Ketua Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga Kelurahan (PKK), Dyah Erti Idawati, mengatakan ziarah makam tersebut diharapkan dapat mendorong munculnya kembali semangat pahlawan asal Tanah Rencong di kalangan masyarakat Indonesia.

“Sehingga, semangat persatuan dan kesatuan bangsa merekat erat di dalam sanubari kita semua,” kata Dyah saat melakukan ziarah makam Cut Nyak Dhien di Sumedang.

Dyah menyebutkan sebagaimana para pahlawan kemerdekaan Indonesia lainya, Cut Nyak Dhien adalah simbol pejuang bagi anak muda. Wanita tangguh yang dilahirkan di sebuah desa pedalaman di Aceh Besar ini memutuskan mengangkat senjata melawan penjajah Belanda ketika usianya masih 14 tahun.

“Semangatnya melawan penjajah semakin membara setelah suaminya Teungku Ibrahim Lamnga ditembak mati dalam sebuah pertempuran di wilayah Aceh Barat. Ia tidak sekadar bertempur secara gerilya, tapi juga memimpin pasukan yang sebagian besar anak buahnya adalah kaum laki-laki,” ujar Istri Gubernur Aceh itu.

Untuk itu, ia meminta para generasi sekarang bisa mencontohi Cut Nyak Dhien dalam emansipasi perempuan di masa lalu. Masalah gender sama sekali tidak menghalangi dirinya untuk tampil di medan tempur.

“Bagi Cut Nyak Dhien, gender adalah kodrat, sedangkan perjuangan dan kepemimpinan adalah hak semua orang. Paling tidak inilah sisi lain keteladanan yang diajarkan Cut Nyak Dhien kepada kita semua, terutama kaum wanita di negeri ini,” katanya.

Dyah mewakili rakyat dan Pemerintah Aceh menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Sumedang yang telah merawat dan memelihara keberadaan makam Cut Nyak Dhien.

“Cut Nyak Dhien merupakan salah satu pahlawan kebanggaan kita. Ia tidak hanya milik masyarakat Aceh, tapi milik seluruh anak negeri ini, karena perjuangannya bukan hanya untuk membebaskan Aceh dari penjajah Belanda, tapi juga untuk menegakkan harga diri bangsa,” ujarnya.

Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA), Almuniza Kamal, mengatakan dalam ziarah dan doa bersama di makam Cut Nyak Dhien, diharapkan bisa memberikan keberkahan dan kelapangan dada agar setegar pahlawan asal Aceh itu. Banyak pelajaran penting yang perlu ditapaktilas kembali. Perjuangannya dulu, adalah perjuangan melawan penjajah.

“Namun hari ini kita melawan bangsa sendiri bahkan diri sendiri, dari ujian, hingga pujian,” ucap Almuniza.

Menurutnya, perjuangan Cut Nyak selesai ketika diasingkan, bagi Belanda. Namun, gelora dan titik merah perjuangan Cut Nyak terus mengalir ke berbagai tempat, baik di Aceh maupun di luar Aceh, hingga sampai di Sumedang, Jawa Barat.

Sebagai putri kerajaan dan seorang yang paham agama, Cut Nyak juga memberikan seluruh tenaga dan perjuangannya di jalan Allah, termasuk mengajar mengaji saat beliau diasingkan ke Sumedang, hingga beliau mendapat panggilan penghormatan sebagai ibu perbu dari masyarakat Sumedang.

Almuniza mewakili Pemerintah Aceh dan keluarga besar Badan Penghubung Pemerintah Aceh mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja secara kolektif dan tanpa lelah dalam menyelenggarakan kegiatan ini.

“Kepada Bupati Sumedang, Wakil Bupati, para kepala dinas, masyarakat Aceh di Sumedang, terima kasih sudah hadir di acara memperingati wafatnya Cut Nyak Dien, cahaya dari Aceh,” ujarnya.

Kepala Dinas Budparpora, Bambang Ranto, mengatakan kehadiran Cut Nyak Dien di Indonesia, terutama di Sumedang, Jawa Barat, menjadi penting karena membela Indonesia yang lama terjajah.

“Hal tersebut pula yang membuat sosok Cut Nyak Dien dapat dijadikan semangat penyelenggaraan pemerintahan kabupaten Sumedang,” katanya.[](ril)

Baca juga: