ACEH TENGAH – Kabar miris terjadi di Kabupaten Aceh Tengah. Korban banjir dan longsor di berbagai wilayah terisolir di kabupaten setempat belum mendaptakan bantuan kebutuhan hari-hari. Bahkan hingga Sabtu, 29 November 2025, disebut “tidak ada posko khusus untuk penanganan para korban”.
Salah satu daerah sangat terdampak yakni Kecamatan Linge. Sejumlah korban belum menerima bantuan apapun baik dari pemerintah maupun dari relawan. Ratusan warga setempat dan sejumlah orang yang terjebak di sana termasuk beberapa jurnalis mulai kewalahan untuk kebutuhan mereka.
“Tadi siang (29 November), kami ke terminal mau mendapatkan info, belum ada satupun mobil yang tembus dan masuk ke area Takengon. Beberapa orang sempat berusaha jalan ke Bener Meriah naik motor, tapi enggak ada jalan yang tembus juga. Info dari mereka, beberapa meter setelah Lampahan, ada 27 titik jalan rusak enggak bisa akses untuk dilewati,” kata Keumala, salah seorang Tim HAkA dari Banda Aceh yang tertahan di Kota Takengon, Aceh Tengah, Minggu, 30 November 2025, dini hari.
Keumala juga mengabarkan di daerah Lampahan, Takengon, sebagian warga ada yang berusaha menyeberang sungai memakai rakit untuk bisa ke Takengon. Namun, mereka tertahan karena Jembatan Ronga-ronga juga putus, sehingga tidak bisa lewat.
“Posisi saya sendiri saat ini dengan beberapa Tim HAkA terjebak di Takengon. Beberapa tim lain yang ikut Festival Linge, masih terjebak di Linge, termasuk ada beberapa teman jurnalis juga. Enggak bisa ke Takengon karena ada banyak akses jalan yang putus,” katanya.
Keumala mengatakan, mereka masih terjebak di Takengon dan tidak bisa turun ke Bireuen untuk balik ke Banda Aceh. Rute Bener Meriah – Simpang KKA Aceh Utara, sebelumnya masih bisa dilewati, meski harus jalan kaki di area yang tidak bisa dilewati. Tapi pada Sabtu (29/11), kata dia, ada info longsor lagi, sehingga tidak bisa lewat sama sekali.
“Dan yang paling miris, kami sudah putar-putar kotaTakengon, belum nemu ada posko. Orang terminal tadi sempat bilang, mereka nawarin untuk dibuka posko di terminal, tapi enggak dilakukan juga. Entah enggak ada yangg gerak, entah enggak ada dana kurang tahu juga. Intinya sampai saat ini kami belum menemukan posko. Di jalan masuk ke Takengon yang simpang ada Tugu Biji Kopi sudah ditutup, ada banyak tiang tiang listrik yang jatuh,” jelasnya.
Dia juga menjelaskan dua temannya dari HAkA yakni Badrul dan Farid pada Sabtu (29/11) kemarin sudah sampai di Takengon. Mereka jalan kaki dari Linge, 2 hari 3 malam. “Tadi pagi ketemu kami di penginapan Hotel Riyadh, kami nginap di sini. Sampai turun di daerah Bintang, naik boat/perahu untuk seberang ke daerah kota Takengon karena ada banyak longsor di daerah Mendale. Jelang Magrib, Amri juga dari HAkA tiba-tiba sudah sampai ke hotel kami. Dia jalan kaki dari Linge dengan beberapa orang lainnya”.
“Sekilas info dari Amri, logistik di Linge cuma cukup untuk hari ini. Mulai besok mereka udah enggak punya apa-apa lagi. Sebagian tim dari Linge, termasuk dokter, jurnalis, dan masyarakat lainnya, masih ada yang terjebak di gunung-gunung dan belum sampai ke Takengon”.
Info lainnya, kata dia, air sungai mulai naik terus. Daerah Jamat dan Petek, semua rumah hancur. Masyarakat di desa paling ujung malam hari naik ke gunung karena air sungainya naik.
“Situasi di sini makin kacau. Bantuan lama, setiap kami ke kantor bupati enggak ada hasil apa-apa. Penanganannya lambat kali,” ungkapnya.
Sempat dapat info, kata dia, akan ada akses starlink 10 unit yang akan dikirim menggunakan pesawat hercules, tapi sampai sekarang pihaknya belum mendapat update informasi.
“Butuh segera dikirimkan bantuan, terutama untuk orang di Linge. Logistik mereka habis. Karena ternyata ada penduduk daerah lain yang mengungsi ke Linge, berharap ada bantuan di sana,” ucapnya.[]






