BANDA ACEH – Peneliti yang juga Ketua Prodi Teknik Geologi Fakultas Teknik Unsyiah, Dr. Bambang Setiawan, M.Eng., Sc., mengungkapkan sembilan kabupaten/kota di Aceh paling rawan terjadinya likuifaksi atau pencairan tanah akibat gempa bumi.
“Likuifaksi di pesisir pantai Timur, seperti Langsa, Lhokseumawe, Pidie Jaya, Aceh Besar, dan Banda Aceh,” ujar Bambang Setiawan, di Banda Aceh, Senin, 22 Oktober 2018.
Sedangkan di pesisir pantai Barat dan Selatan meliputi Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Selatan, dan Aceh Singkil.
Menurut Bambang, daerah paling terluas berpotensi terjadinya likuifaksi ialah Aceh Singkil, Aceh Barat, terutama di Meulaboh, dan Aceh Jaya di Kecamatan Krueng Sabee. Sedangkan di Banda Aceh tingkat kerentanan yang sangat tinggi berada di Kecamatan Meuraxa, dan sepanjang Pantai Alue Naga.
“Suatu areal tanah yang terbentuk dari endapan atau disebut juga tanah aluvial (tanah muda). Hitungan mudanya, bisa berusia ratusan tahun. Likuifaksi terjadi, karena ada goncangan yang mengakibatkan lepasnya daya dukung tanah,” kata geolog yang meraih gelar doktor di Universitas Adelaide, Australia itu.
Bambang menyebutan, fenomena likuifaksi di wilayah Petobo dan Balaroa, Sulawesi Tengah, setelah gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter (SR) yang disusul tsunami bukan baru pertama kali di Indonesia.
“Kita di Aceh, seperti gempa 2006 menimbulkan likuifaksi di Pantai Manohara, Pidie Jaya. Gempa dan tsunami 2004, juga menyebabkan likuifaksi di Banda Aceh,” ujar Bambang.
Pemerintah Aceh melalui Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) berencana melakukan penelitian terhadap sejumlah daerah rawan likuifaksi atau pergerakan tanah di daerah tersebut.
“Kami ingin ilmuwan bisa berkolaborasi dengan BPBA untuk pemetaan mana daerah rentan likuifaksi di provinsi ini,” kata Kepala Pelaksana BPBA Aceh, Teuku Ahmad Dadek.
Dadek mengatakan, pihaknya telah menunjuk ilmuwan Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana (TDMRC) Unsyiah untuk penelitian tersebut dalam waktu dekat ini.
BPBA telah memiliki seismograf terbaru demi menunjang studi likuifaksi, seperti Singkil dan Meulaboh, serta melakukan penelitian beberapa patahan sesar-sesar aktif di provinsi ini.
“Jika sewaktu-waktu terjadi gempa, maka kerusakan yang ditimbulkan bisa dinimalisir. Tidak sama dengan kerusakan yang kita perkirakan dengan gempa sebelumnya,” kata Dadek.
Reporter: Muhammad Said.[]Sumber: antaranews.com





