BANDA ACEH – Pengamat Ekonomi Unsyiah, Rustam Effendi, S.E., M.Econ., menilai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe, berpotensi menjadi lokomotif perekonomian Aceh. Namun, Rustam menyayangkan, keberadaan KEK Arun yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2017, belum bergeliat hingga saat ini.
“Belum tampak geliatnya. Memang belum ada realisasi investasi dari para investor. Sehingga keinginan kita untuk menjadikan KEK Arun Lhokseumawe sebagai tempat menciptakan lapangan kerja belum terwujud,” kata Rustam, dihubungi portalsatu.com/, Sabtu, 30 Juni 2018, malam.
Padahal, lanjut Rustam, kabarnya ada empat perusahaan yang rencananya akan menanamkan modal di KEK Arun. Keempat perusahaan tersebut PT Aceh Makmur Bersama, PT Sinergi Tangguh Alam Raya, PT East Continent Gas Indonesia, dan PT Prosperity Building Material.
“Masing-masing perusahaan tersebut bidang pengolahan crude palm oil (CPO), bidang usaha plywood, bidang usaha LPG pressurized dan pabrik bottling LPG, terakhir bidang logistik pengantongan semen,” ujar Rustam.
Rustam menilai, belum menggeliatnya KEK Arun lantaran tidak adanya sinergi para pihak. Di sisi lain, lanjut dia, Aceh belum mampu memastikan kepada para investor, seberapa kondusifnya Aceh saat ini.
“Iklim usaha yang kondusif itu tidak hanya di atas kertas klise. Kita juga harus mampu meyakinkan para pihak. Business plan kita harus jelas dan meyakinkan. Juga harus ada komunikasi dengan para pihak,” kata Rustam.
Di sisi lain, kata Rustam, untuk memotivasi realisasi investasi di KEK Arun, Pemerintah Aceh dapat memanfaatkan BUMN yang memiliki networking. Seperti PT Pertamina, PT Pelindo I, dan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) untuk memacu iklim investasi di KEK Arun.
“Setelahnya, setelah sekian waktu, ketika sudah jalan semua baru kita yang ambil alih,” ujar Rustam.[]
Lihat pula:
Apa Kabar KEK Arun Lhokseumawe?
Ini Kata Kepala Unit Perizinan Kantor Administrator KEK Arun Soal Calon Investor




