Pada sebuah taman, seorang penyair senior (A) dan penulis junior (B) berbicara di sela acara sastra kecil.
A: Dua bulan lagi di kota ini kita buat acara pertemuan penyair dari beberapa negara
B: Isi acara itu apa saja?
A: Ada seminar, peluncuran dan bedah buku penyair peserta, dan lain sebagainya. Pemerintah mendukung ini.
B: Itu acara yang besar. Buku jenis apa yang diluncurkan dan dibedah?
A: Buku puisi.
B: Itu khusus penyair, ya?
A: (Mengangguk). Penyair yang pernah diundang baca puisi di beberapa negara.
A: (Setengah bercanda) Apakah saya termasuk penyair?
B: (Cemberut). Diam.
Percakapan pun berakhir. Malam pun larut. Esok pagi menjelma, menendang malam.
Penulis junior yang bercita-cita jadi penyair tapi malah novelnya yang diterbitkan dan jadi jurnalis itu merenung.
Walaupun saling melengkapi untuk waktu, malam dan pagi tidak pernah bersatu dan enggan mengakui keberadaan yang lain.
Banda Aceh, 12 Juli 2016.
Thayeb Loh Angen, penulis novel Aceh 2025.




![[PUISI] Menulis Sajak dengan Air Lumpur](https://portalsatu.com/wp-content/uploads/2024/04/Pulo-Lasman-Simanjuntak.jpg)
