Sebelum mengenal Islam dengan baik, Tammy berasumsi seorang Muslim adalah seorang Arab. Satu-satunya gambaran dan opini yang dia miliki adalah apa yang dikatakan dan ditunjukkan Fox News kepadanya.
Dua puluh tahun kemudian, Tammy masih menjadi pemilih Partai Republik yang setia. Saat itu pula kedua putrinya baru saja lulus SMA. Tidak seperti di negara Muslim di mana anak tetap tinggal bersama orang tuanya hingga mereka menikah, putri Tammy justru pergi dan pindah dari rumah setelah lulus.
Seperti banyak anak Amerika, mereka sangat ingin memiliki kemerdekaan di luar aturan orang tua mereka. Pada saat mereka berusia 18 atau 19 tahun, mereka telah menemukan pekerjaan dan pindah ke apartemen mereka sendiri.
Di sanalah, Tammy berada di rumah besarnya sendiri dan semua yang telah dia kerjakan dan semua yang dia ketahui telah hilang. Yang dia tahu sebagai orang dewasa adalah bekerja keras, pulang ke rumah, membuat makan malam, membantu pekerjaan rumah, dengan banyak kebisingan. Namun kenyataannya, dia hanya tinggal di sebuah rumah yang kosong dan tenang.
“Ini adalah waktu yang sangat kelam bagiku. Saya kesulitan mengetahui siapa Tammy sebagai pribadi dan bukan hanya sebagai seorang ibu. Saya mengalami depresi berat,” ujarnya.
Kondisi depresi membuatnya kehilangan pekerjaan. Saat itu pula, Tammy memutuskan dia harus membuat perubahan dalam hidupnya.
Tammy lantas menjual semua yang dia miliki, mulai dari rumah, mobil, dan lainnya, dan kemudian membeli tiket kereta api untuk hidup dengan seorang temannya di Florida.
Saat itu, Tammy berpikir melangkah ke jalan yang tepat, namun justru sebaliknya. Setelah menghabiskan semua uangnya, dia mendapati dirinya terdampar di Florida tanpa keluarga dan pendukung.




