Tammy menyaksikan orang-orang beribadah di jalan, di toko-toko, dan di manapun mereka berada. Mereka salat berjamaah. Tangis Tammy tak terbendung melihat itu.

“Mereka tidak malu tentang cinta mereka kepada Tuhan. Saya menginginkan itu. Saya menginginkan itu dalam hidup saya. Rasa lapar saya akan pengetahuan tentang Islam meningkat sepuluh kali lipat. Saya membaca dan melihat semua yang saya bisa,” lanjutnya.

Selama ini hidup Tammy tak beraturan. Karena itu, dia merasa membutuhkan perubahan dalam hidupnya, dan Islam memberikan aturan dengan adanya kewajiban sholat lima waktu. Tammy merasa membutuhkan aturan, seperti tidak ada alkohol dan tidak ada hubungan dengan pria sebelum menikah.

Pasalnya, alkohol yang selama ini menjadi temannya justru tidak sekali pun memberikan sesuatu yang baik bagi hidupnya. Selain itu, menjalin hubungan dengan pria sebelum menikah juga tidak pernah membuatnya bahagia, malah membuatnya kesepian dan merasa tidak cukup baik.

Mengenal Mesir turut membukakan mata hatinya tentang Islam. Tuntunan dalam Islam pula yang membuat hatinya merasa menemukan arah dan tujuan. Hingga kemudian, Tammy memantapkan hati memeluk Islam.

“Satu pekan setelah tiba di Mesir, saya mengucapkan syahadat. Saya perlu menjadi seorang Muslim,” ujarnya.

Tammy mendapatkan dua pelajaran penting saat merenungkan perjalanannya menuju Islam. Dia mengungkapkan, bahkan di tempat tergelap yang ia pikir tidak bisa keluar darinya, Allah tidak pernah meninggalkannya.

Tammy tidak pernah menyangka dia akan berada di titik seperti sekarang. Dahulu dia berpikir tahu segalanya, tetapi dia keliru.